Pasar Kosambi, Kota Bandung, masih menjadi tujuan banyak warga untuk berburu kebutuhan sehari-hari. Namun, suasananya berubah begitu kaki melangkah ke lantai dua.
Riuh tawar-menawar di lokasi ini perlahan menghilang, berganti lorong-lorong yang lengang dengan deretan kios tak lagi berpenghuni. Di beberapa sudut, plafon yang roboh dan bangunan yang mulai menua tanpa sentuhan perbaikan menjadi potret wajah kusam salah satu pasar legendaris di Kota Kembang.
Ironisnya, area yang terbengkalai itu hanya berjarak beberapa langkah dari kawasan yang kini hidup sebagai ruang nongkrong anak muda lewat kerja sama dengan The Hallway. Kontras itu memperlihatkan dua wajah Pasar Kosambi. Satu sisi ramai dipenuhi aktivitas, sementara sisi lainnya perlahan kehilangan denyut keramaiannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pantauan detikJabar di lokasi, area ini sekarang sudah dipenuhi coretan vandalisme. Di salah satu lorong yang tertutup pintu besi, tampak sejumlah ruangan mengalami kerusakan. Plafon berjatuhan di beberapa titik, sementara tembok yang mulai rapuh dibiarkan tanpa perbaikan.
Menanggapi kondisi itu, Humas Perumda Pasar Juara, Agung Suseno, turut buka suara. Menurutnya, area terbengkalai tersebut saat ini masih ruang kosong yang disiapkan untuk disewakan kepada pihak ketiga.
"Area tersebut (Lantai 2 Pasar Kosambi) saat ini ada yang dikerjasamakan, yaitu sebagian melalui kerja sama dengan pihak mitra, Hallway, dan sebagian lainnya masih merupakan ruang kosong untuk disewakan," katanya, Sabtu (18/7/2026).
Kondisi lantai dua Pasar Kosambi Kota Bandung (Foto: Rifat Alhamidi/detikJabar). |
Agung menyatakan, Hallway buka mulai pukul 11.00 WIB hingga 22.00 WIB. Aktivitas pengunjung biasanya meningkat pada sore hari untuk nongkrong dan menikmati secangkir kopi, hingga berbelanja sejumlah cendera mata.
Menurutnya, kehadiran Hallway jadi upaya Perumda Pasar Juara untuk menghidupkan kembali Pasar Kosambi. Sebab di area itu, terdapat sejumlah tenant seperti kuliner, fesyen, hingga usaha yang berkaitan dengan hobi dan komunitas, hingga pertunjukan live music.
"Kehadiran Hallaway merupakan salah satu upaya optimalisasi pemanfaatan ruang di lantai 2 Pasar Kosambi agar lebih produktif dan mampu menarik lebih banyak pengunjung. Dengan meningkatnya aktivitas masyarakat di area tersebut, diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi perkembangan kawasan pasar serta mendukung pertumbuhan aktivitas ekonomi para pelaku usaha yang berada di lingkungan Pasar Kosambi," ungkapnya.
Di tengah upaya tersebut, tak semua pengunjung melihat perubahan itu sudah cukup. Rudi (32) misalnya, mengaku merasa prihatin karena seharusnya pasar tersebut bisa dirawat lebih optimal agar masyarakat semakin tertarik untuk datang.
"Ya lebar atuh, a. Sekarang mau disewain juga siapa yang mau kalau kondisinya gitu. Jadi harusnya perawatannya dulu yang dibenerin," katanya kepada detikJabar di Pasar Kosambi.
Bagi Rudi, persoalannya sederhana. Menurutnya, perbaikan fisik harus menjadi langkah pertama sebelum lantai dua Pasar Kosambi kembali ditawarkan kepada calon penyewa. Setelah itu, barulah berbagai kegiatan digelar untuk menghidupkan lagi denyut pasar.
"Pasar ini kan sebenarnya strategis banget yah, di pusat kota. Yakin sih saya mah kalau dirawat, dibagusin, pasti bakal rame lagi, a," pungkasnya.

