Konsumsi Siomay Ikan Sapu-Sapu, Ini Risiko bagi Tubuh

Konsumsi Siomay Ikan Sapu-Sapu, Ini Risiko bagi Tubuh

Sarah Oktaviani Alam - detikJabar
Rabu, 06 Mei 2026 11:00 WIB
Warga menangkap ikan sapu-sapu di Danau Sidenreng, Kecamatan Watang Sidenreng, Kabupaten Sidrap..
Foto: Warga menangkap ikan sapu-sapu. (dok. Istimewa)
Jakarta -

Di Indonesia, ikan sapu-sapu kerap dianggap sebagai musuh dan tidak direkomendasikan untuk dikonsumsi. Hal ini berkaitan dengan potensi kandungan logam berbahaya, seperti timbal hingga merkuri.

Meski demikian, masih ditemukan oknum yang mengolah ikan ini menjadi berbagai makanan, seperti siomay dan produk olahan lain. Lalu, apa dampaknya bagi tubuh jika terlanjur mengonsumsinya?

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Nutrisionis Rita Ramayulis menjelaskan, tubuh manusia sebenarnya memiliki mekanisme alami untuk membuang zat toksik. Salah satu organ yang berperan penting adalah hati atau liver.

"Kalau terlalu banyak racun yang masuk ke dalam, tubuh kita itu mengeluarkan enzim, nama enzimnya coenzyme p450 (cytochrome P450, red)," ucap Rita saat berbincang di program Sunset Talk, detikSore, Senin (4/5/2026).

ADVERTISEMENT

Ia menjelaskan, enzim tersebut berfungsi mengubah zat toksik menjadi bentuk yang lebih mudah dikeluarkan oleh tubuh.

"Dia itu bisa membuat tekstur toksik yang besar jadi molekul kecil, yang semula nggak larut air jadi larut air, dia bisa lakukan itu. Tapi kan pertanyaannya, seberapa banyak dia bisa melakukan itu?" sambungnya.

Namun, kemampuan hati dalam menetralisir racun memiliki batas. Jika zat toksik masuk dalam jumlah besar dan terakumulasi, organ tersebut tidak lagi mampu bekerja optimal dan berisiko mengalami kerusakan.

Dalam jangka panjang, paparan logam berat seperti merkuri dapat terjadi. Kondisi ini berpotensi memicu gangguan serius, mulai dari sirosis hepatis hingga gagal hati.

Selain hati, ginjal juga berperan dalam proses pembuangan zat berbahaya melalui filtrasi. Namun, kemampuan organ ini juga terbatas.

"Kemudian setelah dilarutkan, dia (logam berat) akan dikeluarkan lewat ginjal ada proses filtrasi, kita bisa lakukan itu. Tapi, pertanyaannya lagi, seberapa banyak dia bisa lakukan itu?" kata Rita.

"Kalau cemaran atau logamnya banyak, ginjalnya jebol juga. Maksudnya susah untuk melakukan tugasnya, akhirnya terjadi kegagalan ginjal," lanjut dia.

Tak hanya itu, konsumsi ikan sapu-sapu juga dikaitkan dengan paparan zat karsinogenik. Zat ini dapat memicu penumpukan sel-sel tua di dalam tubuh yang seharusnya dibuang.

"Dia lah (sel tua) yang akan menjadi cikal bakal kanker. Makanya, jangka panjang itu ya kalau ada kasus kanker meningkat, sirosis hepatis meningkat, kemudian gagal ginjal meningkat, selain karena pola hidup, itu dihubungkan dengan banyaknya zat-zat toksik yang kita dapatkan dari lingkungan, termasuk makanan," tuturnya.

Artikel ini telah tayang di detikHealth. Baca selengkapnya di sini.

(sao/sud)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads