Bubur ayam kerap jadi perdebatan warga karena memiliki berbagai 'sekte'. Dua yang paling utama adalah dari cara makan, yaitu sekte bubur diaduk dan tidak diaduk.
Hal ini jadi pilihan bagi setiap orang. Sebab, setiap orang punya selera hingga cara makan yang berbeda.
Nah, ngomong-ngomong soal sekte bubur, di Tasikmalaya justru ada sekte yang berbeda. Di sini, perbedatan tak hanya soal diaduk atau tidak diaduk. Di sini, sekte bubur ayamnya jauh lebih unik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Yuk, simak ulasan sekte bubur ayam di Tasikmalaya!
Dalam catatan detikJabar, setidaknya ada tiga sekte atau aliran konsep bubur ayam di Tasikmalaya, berikut ini penjelasan lengkapnya.
Bubur 'Dibontengan'
Seperti yang sudah diulas dalam artikel sebelumnya, ini adalah aliran bubur ayam Tasikmalaya yang paling mencuri perhatian orang dari luar Tasikmalaya. Alasannya tak lain karena kehadiran mentimun sebagai salah satu topping atau pelengkapnya.
Bubur ini banyak tersebar hampir di seluruh wilayah Tasikmalaya. Ciri khasnya, buburnya agak cair. Kemudian kecap yang digunakan pun khusus, seperti racikan, terlihat encer.
Taburan pelengkapnya komplit, mulai dari ayam suwir, daun bawang, kacang goreng, bawang goreng, mentimun, dan kerupuk. Jika masih kurang topping, tersedia tambahan sate usus, telur puyuh, telur ayam rebus, hingga ati ampela.
Pedagang bubur yang terkenal dengan konsep ini berada di sekitar Jalan Tentara Pelajar, Jalan Cicurug, dan di pusat-pusat keramaian setiap kecamatan. Rentang harganya tak lebih dari Rp15.000 seporsi, beberapa ada yang di bawah Rp10.000.
Bubur Ayam Kadipaten
Bubur ini juga tak kalah terkenal di Tasikmalaya. Disebut bubur Kadipaten karena para pedagangnya berasal dari Kecamatan Kadipaten, Kabupaten Tasikmalaya. Sajian buburnya juga unik, tampilannya sederhana. Bagi yang suka rasa gurih, pasti cocok.
Bubur ini memiliki tekstur yang agak kental dengan rasa gurih dan rasa kaldu ayam yang kuat. Taburannya sederhana, hanya suwir daging ayam yang melimpah, irisan cakue, daun bawang, ati ampela, serta ada tongcai (sawi putih yang diawetkan).
Banyak topping yang hilang di konsep bubur yang satu ini. Mulai tak ada kecap manis, tak ada kerupuk, tak ada kacang, hingga tak ada bawang goreng.
Salah satu ciri khasnya lagi adalah gerobak bubur ayam ini dilapisi oleh lembaran aluminium.
Keberadaan pedagangnya terletak di beberapa titik pusat kota, yakni di Simpang Empat Gunung Sabeulah, Jalan Galunggung, Jalan Dokar (dr. Soekardjo), Jalan Kalektoran, dan Jalan Tarumanagara.
Konsep bubur ayam Kadipaten ini diperkenalkan oleh mendiang Haji Zaenal, perintis bubur ayam Kalektoran yang melegenda. Bubur ayam yang harganya kini seporsi Rp35.000.
Para pedagang bubur ala Kadipaten itu hampir semuanya adalah mantan pegawai bubur Zaenal.
Bubur Kerupuk
Ini adalah bubur yang banyak dijumpai di perkampungan dan dijajakan keliling. Disebut bubur kerupuk karena dominan topping kerupuk.
Harganya lebih ekonomis, seporsi Rp5.000 pun dapat. Buburnya lebih kental dengan sedikit daging ayam, kacang, daun bawang, dan bawang goreng. Konsepnya seperti bubur ayam yang ada di luar Tasikmalaya. Rasanya tak terlalu gurih karena ada manis dari kecap.
