Cairan Hitam Penambah Kelezatan Bubur Ayam Khas Tasikmalaya

Cairan Hitam Penambah Kelezatan Bubur Ayam Khas Tasikmalaya

Fahmi Labibinajib - detikJabar
Jumat, 24 Apr 2026 09:00 WIB
Mang Ija, penjual bubur ayam khas Tasikmalaya.
Bubur ayam Mang Ija. (Foto: Faizal Amiruddin/detikJabar)
Tasikmalaya -

Rasa khas bubur ayam Tasikmalaya ternyata tak sekadar berasal dari taburan mentimun. Resep rahasianya terletak pada racikan gula merah sebagai pengganti kecap manis. Cairan hitam yang biasanya dikira kecap encer itu rupanya merupakan air gula merah.

"Ini gula merah, kinca yang diracik khusus. Bukan kecap," kata Mang Ija (70), pedagang bubur ayam di daerah Citapen, Jalan Tentara Pelajar Kota Tasikmalaya, belum lama ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bumbu inilah yang pada akhirnya membuat bubur khas Tasikmalaya memiliki tekstur yang lebih encer.

Terkait asal-usul penambahan mentimun, menurut Mang Ija, hal itu bermula dari kelompok pedagang di sekitar Bioskop Parahyangan dan bioskop lain di pusat Kota Tasikmalaya.

ADVERTISEMENT

"Tahun 70-an bubur di Tasik sudah mulai pakai mentimun. Termasuk Mang Udin, kakak saya, jualan di dekat bioskop Parahyangan," kata Mang Ija.

Dia juga menyebut beberapa nama pedagang lain di era itu, termasuk Mang Encu.

"Yang terkenal bubur Madmax itu Mang Encu, dia seangkatan sama kakak saya. Dia orang Bojong, Cipedes. Dari mereka-mereka inilah resep bubur pakai bonteng berasal, terus akhirnya diikuti oleh pedagang lain," ujar Mang Ija.

Mang Ija, penjual bubur ayam khas Tasikmalaya.Mang Ija, penjual bubur ayam khas Tasikmalaya. (Foto: Faizal Amiruddin/detikJabar)

Terkait alasan penggunaan bonteng (mentimun), menurut Mang Ija, tujuannya agar terasa segar karena bubur sering disajikan pedas. "Ah biar segar saja, kan pakai sambal jadi pedas, kalau ada mentimun lebih enak," ucap Mang Ija.

Mang Ija sendiri belum berjualan bubur pada masa itu. Dia baru mengikuti jejak kakaknya pada 1989. Meski begitu, Mang Ija tetap tergolong pemain lama karena sudah 37 tahun bergelut dengan usaha bubur.

Dia mengaku sempat mengalami masa kejayaan. Saat itu, menghabiskan 10 kg beras dalam sehari adalah perkara mudah. Bahan beras 10 kg mungkin terdengar sedikit, namun bagi penjual bubur, itu berarti ratusan porsi.

"Sekarang paling sehari 5 kg beras, berkurang karena tukang bubur banyak, dimana-mana ada," ungkap Mang Ija.

Mang Ija berpendapat, saat ini bubur ayam mengalami pergeseran nilai atau naik kelas. Dahulu, bubur sering dikaitkan dengan istilah pangiritan alias hidup hemat. Stigma yang terbentuk kala itu adalah makan bubur merupakan cara agar tidak boros beras.

"Dulu makan bubur itu disebut pangiritan meh teu olok kejo (irit agar tak boros nasi). Makanya yang dagang juga sedikit," jelas Mang Ija.

Berbeda dengan sekarang, saat makanan tak lagi dikaitkan dengan status sosial. Kuliner zaman dulu justru menjadi keunikan dan daya tarik wisata.

Hal ini juga terjadi pada nasi TO alias nasi tutug oncom, kuliner ikonik Tasikmalaya lainnya. Dahulu, nasi TO adalah kreasi yang muncul karena keterbatasan lauk-pauk. Saat tak ada lauk atau "rencang sangu", masyarakat Tasikmalaya mencampur nasi hangat dengan oncom yang ditumbuk. Dulu dianggap menu rakyat jelata, kini berubah menjadi kuliner khas yang dibanggakan.

"Zamannya beda sekarang mah, bubur yang harganya Rp35 ribu atau Rp50 ribu juga ada. Orang kaya, orang miskin makan bubur sama saja," tutur Mang Ija.

Mang Ija sendiri saat ini masih setia bertahan di segmen harga bawah. Seporsi bubur ayam original khas Tasikmalaya ia banderol seharga Rp7 ribu, sementara setengah porsi cukup Rp5 ribu.

Nilai orisinalitas dan sisi autentik sebagai pionir bubur khas Tasikmalaya seolah dikesampingkan oleh Mang Ija. Padahal, selain rasa, bentuk gerobaknya pun masih serupa dengan tukang bubur masa lalu, yakni berbentuk mobil.

"Ah murah saja, menyesuaikan dengan harga bahan. Orang lain sudah Rp10 ribu atau Rp15 ribu, saya Rp7 ribu saja, supaya terjangkau oleh semua orang," pungkas Mang Ija.

(orb/orb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads