Tasikmalaya tak hanya dikenal dengan ragam kuliner khasnya, tetapi juga memiliki keunikan tersendiri dalam cara penyajian dan pengemasan makanan. Salah satu yang mencuri perhatian adalah bubur ayamnya.
Berbeda dengan daerah lain, bubur ayam di Tasikmalaya memiliki ciri khas yang tidak hanya terletak pada rasa, tetapi juga pada cara penyajian dan pembungkusannya yang dianggap lebih menjaga estetika dan kenyamanan saat disantap.
Di sini, salah satu keunikannya adalah bubur ayam dibontengan alias memakai taburan mentimun. Bonteng sendiri adalah sebutan untuk mentimun dalam bahasa Sunda.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keunikan lain dari bubur ayam di Tasikmalaya adalah penggunaan kertas nasi sebagai pembungkus. Dari tiga konsep bubur itu, jika tak makan di tempat, mayoritas dibungkus dengan kertas nasi.
Hal ini membuat banyak pembeli warga luar Tasikmalaya kaget karena hal ini dianggap tak lumrah.
Rupanya di daerah lain, seperti wilayah Bandung Raya dan sebagainya, bubur ayam lazim dibungkus dengan menggunakan plastik. Sementara bagi masyarakat Tasikmalaya, membungkus bubur ayam dengan plastik justru dihindari.
"Bungkus bubur ayam pakai kertas nasi itu sudah paling benar, nggak bisa dibungkus pakai plastik bening," kata Lusi Nurasiah (44) warga Kelurahan Sirnagalih Kecamatan Indihiang Kota Tasikmalaya.
Pedagang bubur ayam di Tasikmalaya sedang membungkus pesanan menggunakan kertas nasi. (Foto: Faizal Amiruddin/detikJabar) |
Menurut dia, menikmati kuliner bukan hanya soal cita rasa di mulut, melainkan perlu kenyamanan visual.
"Kalau pakai kertas nasi, saat dibuka di rumah, tampilan bubur ayam masih bagus. Plating-nya terjaga. Kalau pakai plastik kan saat dituangkan ke mangkuk, udah pasti berantakan," kata Lusi.
Menurut Lusi, di daerah Indihiang ada satu pedagang bubur ayam yang mengemas dagangannya dengan plastik bening. Saking enggan dibungkus plastik, dia selalu membawa rantang atau wadah jika mau membungkus bubur ayam tersebut.
"Kalau malam di Jalan Raya Indihiang ada bubur ayam lumayan enak, Bubur Haneut namanya. Nah dia aneh sendiri, bungkusnya pakai plastik, kalau terpaksa membungkus, saya mendingan bawa rantang susun dari rumah," tutur Lusi.
Lusi mengatakan meski termasuk penganut sekte makan bubur ayam diaduk, melihat bubur ayam dibungkus plastik memberikan kesan yang berbeda. "Ah, pokoknya jadi nggak nyaman aja melihatnya, geuleuh," ungkapnya.
Salah seorang pedagang bubur ayam di Tasikmalaya, Cecep Kurniawan, mengaku sejak awal berjualan beberapa tahun lalu, dia sudah menggunakan kertas nasi sebagai pembungkus.
"Sudah kebiasaan, lagi pula lebih mudah. Kertas nasi digelar di mangkuk langsung diisi bubur kasih toping, lipat, beres. Kalau pakai plastik, rasanya sulit. Mungkin harus pakai corong, atau plastiknya harus agak besar," kata Cecep.
Cecep menambahkan, hal lain yang membuat bubur ayam di Tasik dibungkus kertas nasi boleh jadi karena tekstur bubur yang agak kental. Sehingga penggunaan kertas nasi masih memungkinkan, tak sampai membuat kertas jebol.
"Mungkin karena buburnya kental, kalau encer mungkin susah dibungkusnya," tutur pedagang bubur ayam yang biasa mangkal di sekitar Kelurahan Nagarasari, Kecamatan Cipedes ini.

