Keunikan Rasa Bubur Ayam Dibontengan Khas Tasikmalaya

Keunikan Rasa Bubur Ayam Dibontengan Khas Tasikmalaya

Faizal Amiruddin - detikJabar
Sabtu, 18 Apr 2026 20:00 WIB
Ilustrasi bubur ayam dibontengan khas Tasikmalaya.
Ilustrasi bubur ayam 'dibontengan' khas Tasikmalaya. (Foto: Gemini AI)
Tasikmalaya -

Beberapa waktu lalu, pagi masih buta, tapi gerobak di emperan dekat Kantor Pos Kecamatan Indihiang, Kota Tasikmalaya sudah ramai dikerubungi warga. Mereka tak lain warga yang hendak nyabu alias nyarap (sarapan) bubur.

Pedagang ini satu dari sekian banyak penjual bubur ayam khas Tasik yang menambahkan mentimun dalam sajiannya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menemukan penjual bubur ayam 'dibontengan' alias bubur ayam diberi taburan mentimun (dalam bahasa Sunda disebut bonteng) adalah perkara mudah di Kota Tasikmalaya. Boleh jadi di setiap RW, atau paling tidak di setiap kelurahan, ada penjualnya.

Soal harga, jangan khawatir, mayoritas berada di rentang harga Rp8.000 sampai Rp12.000 seporsi.

ADVERTISEMENT

Kemudian di setiap wilayah kecamatan selalu ada yang menjadi 'market leader', dianggap paling enak dan terkenal. Untuk wilayah Kecamatan Indihiang, Bubur Nizam yang di dekat Kantor Pos itu menjadi salah satu pedagang bubur 'dibontengan' yang relatif ramai pembeli.

"Mau 'ngamera' mentimun sama kertas nasi, ya," tebak Hedi, pemilik Bubur Nizam saat detikJabar meminta izin mengambil gambar.

Hedi mengatakan, penambahan mentimun sebagai topping atau taburan dan penggunaan kertas nasi untuk pembungkus acapkali mengundang perhatian bagi warga luar Tasik yang jajan bubur kepadanya.

Keunikan ini seakan telah disadari oleh para pedagang bubur khas Tasikmalaya, serta dijadikan sarana membangun komunikasi dengan pembeli.

"Biasanya pembeli yang dari kota (daerah lain) yang suka bertanya, kenapa pakai mentimun. Kalau orang Tasik mah sudah biasa," tutur Hedi.

Bubur ayam pakai mentimun di Tasikmalaya.Bubur ayam pakai mentimun di Tasikmalaya. (Foto: Faizal Amiruddin/detikJabar)

Respons pembeli luar Tasikmalaya itu menurut Hedi umumnya bisa menerima. Tak jarang malah ada yang minta ditambah mentimun. Tapi sempat ada beberapa juga yang menolak karena memang tak menyukai mentimun.

"Biasanya kalau yang beli pakai Bahasa Indonesia atau terlihat pembeli baru, kita tanya dulu pakai mentimun atau nggak. Takutnya nggak suka atau alergi. Tapi kebanyakan malah suka, unik katanya pakai mentimun," ujar Hedi.

Mengenai asal-usul atau sejarahnya, Hedi sendiri mengaku tidak terlalu mengetahui. Yang dia tahu, dari dulu bubur ayam pakai mentimun itu adalah normal. "Sudah dari dulu seperti ini resepnya, kalau sejarahnya saya kurang tahu," jelasnya.

Cara Menikmati Bubur 'Dibontengan'

Kehadiran mentimun dalam bubur ayam jelas memberikan kesegaran di tengah gurih bubur ayam. Rasa mentimun yang cenderung netral dengan tekstur krenyes-krenyes menambah variasi rasa yang sebelumnya dominan gurih asin.

Mentimun seolah jadi pembeda di antara lembutnya tekstur bubur, ayam suwir, dan cakue. Bersama kacang kedelai goreng, mentimun seakan memberi tantangan saat mengunyah. Disusul kriuk-kriuk kerupuk, sempurna sudah sensasi kelezatan menandaskan semangkuk bubur ayam khas Tasikmalaya. Dipungkas segelas teh hangat, rasanya tunai semua kewajiban sarapan pagi.

Tapi tunggu dulu, kelezatan itu sepertinya hanya akan dirasakan oleh pengikut sekte makan bubur diaduk. Jika tak diaduk, rupa-rupanya agak sulit merasakan kombinasi rasa bubur tersebut.

"No hard feeling ya, kayaknya kalau tim bubur nggak diaduk sulit dapat sensasi enak makan bubur Tasik. Silahkan disurvei, mayoritas warga Tasik makan buburnya pasti diaduk," kata Irawati (35), salah seorang warga Kecamatan Indihiang.

Terlepas dari kelezatannya, bubur dibontengan khas Tasikmalaya itu ternyata memiliki kekurangan, yakni tekstur buburnya mayoritas agak encer. Sehingga direkomendasikan dine-in atau makan di tempat selagi hangat.

Jika dibungkus, umumnya akan cepat cair sehingga mengurangi kenikmatannya. Hal ini selain akibat tekstur bubur yang encer, penambahan mentimun sedikit banyak turut menambah kadar air. Jika terpaksa dibungkus, durasinya jangan lebih dari 30 menit.

(orb/orb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads