Aksi Nyentrik Agus Jualan Lumpia Sambil Bergaya Ala Paspampres

Aksi Nyentrik Agus Jualan Lumpia Sambil Bergaya Ala Paspampres

Shifa Lupiah Ajijah - detikJabar
Rabu, 01 Apr 2026 08:00 WIB
Agus penjual lumpia gaya paspampres di Bandung
Agus penjual lumpia gaya paspampres di Bandung (Foto: Shifa Lupiah Ajijah/detikJabar)
Bandung -

Di kawasan Dago, tepatnya di Jalan Bukit Dago Selatan, Bandung, pemandangan unik kerap mencuri perhatian pengguna jalan. Bukan karena kendaraan mewah yang melintas, melainkan sosok pria yang berdiri di balik gerobak sederhana. Namanya Agus Hidayat, seorang pria berusia 43 tahun asal Leles, Garut, yang menjajakan kuliner khas Jawa Barat, lumpia basah.

Agus melayani pelanggan dengan setelan jas lengkap, dasi merah, serta sepatu pantofel mengkilap yang kerap disamakan dengan gaya Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres). Penampilan ini diakuinya sebagai strategi marketing untuk bertahan di tengah ketatnya persaingan kuliner Kota Kembang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Awal Mula Berjualan dengan Gaya Paspamres

Transformasi penampilan Agus dimulai dalam beberapa bulan terakhir. Ide menggunakan kostum formal ini lahir dari sebuah tantangan bersama tiga rekan pedagang lainnya di wilayah Jawa Barat. Mereka bersepakat untuk memakai pakaian rapi dengan jas saat berjualan.

"Awal mula kita dapat challenge sih sama temen berempat... ada tukang bakso di Tangerang, tukang nasi kuning di Bogor. Eh, malah saya yang naik (viral)," kenang Agus sambil tertawa saat berbincang dengan detikJabar, Selasa (31/1/2026).

ADVERTISEMENT

Meskipun awalnya bertujuan untuk hiburan dan menjalankan tantangan, banyak warga serta pengguna media sosial yang menyamakannya dengan pengawal pejabat atau Paspampres.

Bagi Agus, pakaian adalah cerminan etos kerja. Ia menerapkan empat prinsip utama dalam menjalankan usahanya, yaitu Ramah, Rapi, Enak, dan Bersih. Ia percaya bahwa penampilan yang rapi memberikan rasa aman serta kepercayaan bagi pelanggan terhadap kebersihan makanan yang disajikan.

Dukungan tersebut didukung oleh istrinya. Saat ini, Agus memiliki koleksi lima setel jas untuk menunjang aktivitas hariannya yang dibeli dan disiapkan langsung oleh istrinya. Salah satu jas miliknya bahkan memiliki cerita istimewa, yakni dikirim langsung oleh seorang pendukung setia yang berasal dari Swiss sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi Agus.

Agus penjual lumpia gaya paspampres di BandungAgus penjual lumpia gaya paspampres di Bandung Foto: Shifa Lupiah Ajijah/detikJabar

Perjalanan Hidup Agus

Sebelum menekuni usaha gerobak lumpia, perjalanan hidup Agus melewati berbagai profesi. Ia pernah bekerja sebagai sopir hingga buruh serabutan. Namun, minatnya pada lumpia basah mendorongnya untuk mencoba memulai usaha secara mandiri.

"Dulu sering membeli lumpia basah saat masih bekerja sebagai sopir," ungkapnya.

Kemampuan memasak Agus didapatkan saat ia meminta izin untuk mencoba memasak sendiri di tempat lumpia basah langganannya. Penjual aslinya bahkan mengakui bakat Agus, "Kok enakan hasil Aa daripada saya?" kata si Mamang penjual kala itu.

Momentum itulah yang meyakinkannya untuk memulai usaha sendiri dengan modal awal yang terbatas.

Mengelola Usaha di Era Digital

Agus memanfaatkan platform digital untuk mempromosikan dagangannya. Ia aktif melakukan siaran langsung di media sosial untuk menjalin komunikasi dengan pelanggan, bahkan hingga menjangkau penonton di luar negeri seperti Singapura dan Swiss.

"Saya sambil live, di live itu untuk mencari saudara dan teman. Alhamdulillah, banyak pelanggan lama yang kembali atau orang baru yang datang karena melihat live saya," jelasnya.

Agus penjual lumpia gaya paspampres di BandungAgus penjual lumpia gaya paspampres di Bandung Foto: Shifa Lupiah Ajijah/detikJabar

Meskipun awalnya sempat mendapat komentar negatif dari lingkungan sekitar karena dianggap tidak biasa, konsistensinya dalam membangun personal branding memberikan dampak positif terhadap usahanya.

Tampil dengan gaya modern, Agus tetap mempertahankan cita rasa tradisional. Lumpia basah buatannya dijual dengan harga Rp12.000 per porsi.

Selain rasa, Agus menekankan pentingnya pengetahuan produk. Ia membekali diri dengan informasi mengenai bahan-bahan yang digunakan, seperti manfaat tauge dan bengkuang, agar dapat menjawab pertanyaan konsumen secara informatif. Hal ini memperkuat citranya sebagai pedagang yang memahami kualitas produknya.

Bagi masyarakat yang ingin mencoba lumpia basah ini, Agus biasanya mulai berjualan di Jalan Bukit Dago Selatan No. 59 sejak pukul 10 pagi.

Agus penjual lumpia gaya paspampres di BandungAgus penjual lumpia gaya paspampres di Bandung Foto: Shifa Lupiah Ajijah/detikJabar

Ke depannya, ia berharap dapat terus mengembangkan usahanya dan membuka cabang baru dengan tetap mempertahankan ciri khas pakaian formalnya. Ia juga berharap konsistensinya dapat memberikan motivasi bagi pelaku usaha kecil lainnya.

"Intinya sih... pengalaman selama 12 tahun, pelanggan itu supaya datang kembali yaitu yang empat itu yang harus dipakai sama dagang. Ramah, rapi, bersih, enak," pungkasnya.



(dir/dir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads