Terletak persis di samping gedung Kantor Pos Besar (KCU) Bandung yang bersejarah, Gula Padi di Jalan Asia Afrika hadir sebagai oase bagi para pemburu kuliner yang merindukan suasana tempo dulu. Restoran ini menempati sebuah bangunan cagar budaya yang masih mempertahankan kemegahan arsitektur kolonialnya.
Begitu masuk, pengunjung akan disambut oleh deretan furnitur kayu yang menciptakan harmoni sempurna dengan menu makanan tradisional yang disajikan.
Daya tarik visual Gula Padi menjadi magnet tersendiri bagi para pengunjung. Salah satunya adalah Alea, yang mengaku terpikat oleh estetika bangunan. Bagi Alea, perpaduan warna yang berani pada eksterior bangunan memberikan kesan unik yang sulit ditemukan di tempat lain.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pertama karena tempatnya pakai tempat kuno, yang sebelumnya bekas bangunan Belanda juga dan jadi kantor pos awalnya, terus sekarang jadi kayak restoran gitu. Jadinya kan interiornya juga masih kayak zaman dulu ya, belum lagi makanannya juga enak," tutur Alea saat berbincang dengan detikJabar.
Bicara soal rasa, Alea memiliki standar yang cukup tinggi. Namun, Gula Padi berhasil memuaskan lidahnya melalui menu-menu yang kaya rempah. Ia sangat merekomendasikan Iga Bakar Cobek, Nasi Goreng Kambing, dan Sop Buntut sebagai menu wajib bagi siapa pun yang berkunjung.
Meski begitu, ia memberikan catatan kecil mengenai lokasi yang menurutnya cukup tersembunyi.
"Sebenernya agak-agak kurang kelihatan, karena nama Gula Padi nya nggak terlalu mencolok banget. Jadinya kalau orang nggak tahu, mereka mungkin nggak akan sadar ada tempat ini. Tapi karena sempat viral juga di TikTok, jadinya orang-orang sekarang mulai pada tahu," tambahnya.
Alea menyebutkan bahwa Gula Padi adalah tempat yang tenang. Namun, pengunjung harus siap dengan udara alami Bandung karena tempat ini tidak menggunakan AC, sehingga suasana di siang hari bisa terasa cukup panas.
Senada dengan Alea, pengunjung lain bernama Desta juga merasa bahwa Gula Padi memiliki nilai sejarah yang kuat karena kedekatannya dengan Kantor Pos Indonesia KCU Bandung, sekaligus memberikan konteks sejarah yang kental pada pengalaman makan mereka.
"Jujur aku tertarik dengan Gula Padi karena lokasinya dekat dengan Kantor Pos Indonesia. Orang-orang sudah tahu kalau Gula Padi itu nempel sama Kantor Pos yang KCU gitu, jadi gampang banget dicarinya," ungkap Desta saat ditemui oleh detikJabar.
Namun, bukan hanya soal lokasi, Desta datang membawa kerinduan akan kudapan khas daerah yang sulit ditemukan rasa autentiknya di Bandung. Baginya, menemukan rasa yang pas untuk menu tradisional di tengah kota modern adalah sebuah kemewahan tersendiri.
"aku ke sini karena ada lumpia Semarang. Itu enak banget, jarang banget di Bandung bisa nemu lumpia Semarang yang beneran rasanya autentik seperti asalnya. Dan aku nyobain disini, ternyata rasanya memang benar-benar enak," kata Desta.
Selain lumpia Semarang, Desta juga merekomendasikan pisang goreng. Meski berada di kawasan Asia Afrika dan menawarkan kualitas rasa jempolan, harga yang dipatok terbilang sangat bersahabat.
Desta pun menyoroti bagaimana Gula Padi sangat disiplin dalam menjaga konsepnya. Di saat banyak kafe di Bandung beralih ke gaya minimalis industrial atau menu western, Gula Padi justru berdiri tegak dengan identitas tradisionalnya, mulai dari sajian khas Sunda, Jawa Tengah, dan daerah lainnya.
"mungkin kayaknya temanya Gula Padi ini memang fokus ke tradisional. Mereka kayak benar-benar gak mau mencampur dengan menu western. Kan kadang ada restoran yang campur aduk ya menunya, tapi di sini fokus di satu tema tradisional aja. Jadi identitasnya gak kecampur-campur," tutup Desta.
Gula Padi bukan sekadar tempat makan. Dengan bangunan kuno yang dipoles warna merah dan hijau kontras, harga yang terjangkau, serta konsistensi pada menu Nusantara, tempat ini berhasil membuktikan bahwa cita rasa tradisional tak akan pernah lekang oleh waktu.
Simak Video "Video: Ayam Goreng Pejantan dan Ayam Stim Kampung yang Raos di Bandung"
[Gambas:Video 20detik]
(mso/mso)











































