Selain Seafood, Ini 5 Hidangan Autentik di Pangandaran

Selain Seafood, Ini 5 Hidangan Autentik di Pangandaran

Dian Nugraha Ramdani - detikJabar
Kamis, 26 Mar 2026 19:00 WIB
Hidangan Pindang Gunung khas Pangandaran
Hidangan Pindang Gunung khas Pangandaran. (Foto: Aldi Nur Fadillah/detikJabar)
Pangandaran -

Bagi para wisatawan yang singgah di Pangandaran, suasana pantai yang ramai menawarkan beragam kegembiraan. Hal itu jadi daya tarik tersendiri.

Di sini, wisatawan bisa menikmati panorama laut dan deburan ombak, sekaligus menjelajah kekayaan kuliner yang menggugah selera. Memang, Pantai Pangandaran identik dengan hidangan laut seperti ikan bakar, udang, dan cumi segar. Namun, selain seafood, terdapat kuliner lokal yang patut dijajal rasanya.

Kuliner-kuliner tersebut merupakan perpaduan antara hasil laut, bahan pangan dari kebun, serta bumbu rempah khas Sunda. Bagi Anda yang berencana mudik atau berlibur ke Pangandaran saat Lebaran 2026, menjelajahi kuliner lokal bisa menjadi agenda menarik!

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

5 Hidangan Autentik Pangandaran

1. Pindang Gunung

Pindang Gunung dikenal sebagai salah satu hidangan khas Pangandaran yang berasal dari wilayah Parigi. Makanan ini lahir dari kearifan masyarakat pesisir yang memanfaatkan ikan segar hasil tangkapan nelayan dengan bumbu alami dari kebun sekitar.

ADVERTISEMENT

Kuliner ini telah ada sejak lama, jauh sebelum Kabupaten Pangandaran memisahkan diri sebagai wilayah administratif baru dari Kabupaten Ciamis.

Ciri khas utama pindang ini adalah penggunaan honje atau kecombrang yang memberikan aroma harum, sekaligus membantu menghilangkan bau amis pada ikan. Selain honje, hidangan ini juga diperkaya dengan daun ruku-ruku yang memiliki aroma mirip kemangi.

Pindang Gunung biasanya dibuat dari ikan kakap, tongkol, atau caruang yang direbus bersama bumbu halus seperti kunyit, jahe, kemiri, cabai, dan terasi. Kuahnya berwarna kuning dengan perpaduan rasa gurih, pedas, dan asam segar yang khas.

Kuliner yang tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) ini bisa ditemukan di berbagai rumah makan di sekitar Pangandaran, seperti RM Karya Bahari atau warung makan di kawasan Pantai Batu Hiu. Harga estimasi mulai dari Rp40.000 hingga Rp65.000 per porsi.

2. Sate Galunggung

Meski menggunakan nama Galunggung, sate ini justru menjadi salah satu ikon kuliner Pangandaran yang sudah dikenal sejak tahun 1970-an. Warung sate ini digagas oleh keluarga asal Kabupaten Tasikmalaya, tempat Gunung Galunggung berada. Keluarga tersebut kemudian menetap dan membuka usaha di Pangandaran.

"Saya adalah generasi ketiga yang meneruskan usaha ini. Dulu, almarhum kakek merantau dari Tasikmalaya ke Pangandaran untuk berjualan sate," kata Deni, pemilik warung Sate Galunggung Jumat (28/3/2025), dikutip dari artikel detikjabar berjudul 'Sate Galunggung, Cita Rasa Khas yang Bikin Kangen di Pangandaran'.

Warung sate legendaris ini sering menjadi tujuan utama bagi wisatawan. Sate Galunggung terkenal dengan potongan daging yang besar dan empuk. Tersedia pilihan sate ayam maupun sate daging sapi yang dimarinasi terlebih dahulu dengan bumbu rempah sebelum dibakar di atas arang kayu.

Bumbu kacangnya dihaluskan secara tradisional sehingga menghasilkan tekstur kental dan gurih. Saat disajikan, sate biasanya dilengkapi dengan kecap manis yang memperkuat cita rasa.

Anda bisa menemukan hidangan ini di Warung Sate Galunggung, Jalan Kidang Pananjung, kawasan wisata Pantai Barat Pangandaran. Harga satu porsi berkisar Rp40.000 hingga Rp60.000 untuk 10 tusuk sate.

3. Soto Pangandaran

Soto Pangandaran memiliki karakter berbeda dari soto lain di Jawa Barat. Salah satu ciri paling mencolok adalah penggunaan kerupuk merah khas Pangandaran sebagai pelengkap utama.

Kerupuk tersebut biasanya diremas dan ditaburkan di atas soto yang masih panas, sehingga teksturnya berubah menjadi lembut dan kenyal saat menyerap kuah.

Kuah soto ini berasal dari kaldu daging sapi atau ayam dengan bumbu serai, daun salam, dan lengkuas. Isiannya terdiri atas bihun, tauge, potongan daging, serta kacang tanah goreng yang menambah tekstur renyah.

Soto Pangandaran dapat ditemukan di antaranya di warung Soto Jarkomi Ayam Kampung yang berlokasi di sekitar Bundaran Marlin Pangandaran.

Warung Soto Jarkomi, menurut arsip detikJabar, telah melayani pembeli sejak tahun 1980-an. Awalnya, soto ini dijajakan dengan cara dipikul keliling desa. Seiring berjalannya waktu, usaha ini terus berkembang hingga kini memiliki lima gerai (jongko) di wilayah Pangandaran. Harganya cukup terjangkau, yakni sekitar Rp15.000 hingga Rp25.000 per porsi.

4. Nasi Liwet Jolem

Salah satu hidangan khas pedalaman Pangandaran adalah Nasi Liwet Jolem yang berasal dari wilayah Cijulang dan Selasari. Nama 'jolem' merujuk pada teknik mencampur nasi dengan olahan ikan saat proses memasak hampir selesai.

Hidangan ini dahulu sering disajikan dalam kegiatan gotong royong masyarakat petani maupun nelayan. Tradisi makan bersama atau botram juga masih melekat kuat saat menikmati nasi liwet ini.

Merujuk pada laman jadesta.kemenpar.go.id, Nasi Jolem menyajikan ikan yang melimpah di bagian atas nasi. Dalam pembuatannya, nasi dimasak dengan bumbu dasar seperti bawang merah, serai, daun salam, dan cabai rawit.

Ketika air mulai menyusut, ikan asin jambal roti atau ikan nila yang sudah digoreng dimasukkan ke dalam nasi sehingga aromanya meresap hingga ke setiap butiran nasi.

Asal-usul nama jolem konon dihasilkan dari perpaduan dua kata, yaitu kejo yang berarti nasi dan nilem yang merujuk pada ikan mujair nilem.

Wisatawan dapat menikmati hidangan ini di Desa Wisata Selasari, Kecamatan Parigi. Biasanya disajikan dalam porsi besar untuk dinikmati bersama. Harga satu paket berkisar Rp75.000 hingga Rp120.000 untuk 4 hingga 5 orang.

5. Noga Kelapa

Sebagai daerah dengan perkebunan kelapa yang luas, masyarakat Pangandaran mengolah kelapa menjadi berbagai penganan tradisional. Salah satunya adalah noga Kelapa, camilan manis yang populer sebagai buah tangan.

Noga dibuat dari kelapa parut kasar yang disangrai hingga harum, kemudian dicampur dengan cairan gula merah atau gula kelapa kental dan jahe. Adonan tersebut dicetak saat masih panas sebelum mengeras. Hasilnya adalah camilan bertekstur renyah dengan rasa manis legit.

Noga kelapa biasanya dijual di berbagai toko oleh-oleh di kawasan Pangandaran dengan harga berkisar Rp10.000 hingga Rp25.000 per bungkus.

Halaman 2 dari 2
(orb/orb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads