Kenapa Kurma Identik dengan Ramadan? Ini Keistimewaannya

Shifa Lupiah Ajijah - detikJabar
Minggu, 01 Mar 2026 06:00 WIB
Kurma (Foto: Getty Images/AnnaPustynnikova)
Bandung -

Memasuki bulan Ramadan, deretan kotak kurma dengan berbagai jenis terpajang rapi di rak-rak supermarket atau pusat perdagangan. Kurma, buah mungil berwarna cokelat yang kerap menjadi pilihan favorit bagi banyak orang untuk berbuka puasa. Namun, di balik rasanya yang manis legit, kurma juga memiliki signifikansi religius. Mengonsumsi kurma saat berbuka puasa merupakan sunah Rasulullah SAW yang dapat diterapkan oleh umat Muslim.

Mengenal Buah Kurma

Kurma, umat Islam pasti mengenal buah yang satu ini. Buah yang menjadi makanan Nabi Muhammad ini jadi primadona saat bulan Ramadan. Foto: Pradita Utama

Kurma atau Phoenix dactylifera adalah buah yang tumbuh dari pohon palem. Kurma merupakan salah satu tanaman budidaya tertua di dunia. Budidaya kurma telah dimulai sejak 6.000 tahun sebelum Masehi di wilayah Teluk Arab.

Tanaman ini memiliki ketahanan luar biasa di lingkungan ekstrem dengan suhu tinggi dan ketersediaan air yang terbatas. Pohon kurma sangat toleran terhadap cuaca, mampu bertahan di tengah panas terik gurun maupun suhu dingin malam hari yang menusuk.

Kurma memiliki kandungan energi yang padat. Bagi masyarakat Timur Tengah, kurma bukan sekadar camilan, melainkan sumber pangan pokok yang menopang kehidupan selama berabad-abad. Teksturnya yang beragam, mulai dari yang lunak, semi-kering, hingga kering, menentukan cara konsumsi dan daya simpannya.

Sunah Nabi dalam Mengonsumsi Kurma

Dalam Islam, mengonsumsi kurma merupakan bagian dari mengikuti teladan Nabi Muhammad SAW. Berikut adalah beberapa sunah yang dapat diterapkan:

1. Sunah Berbuka dengan Kurma

Diriwayatkan dalam sebuah hadis riwayat Abu Dawud dan At-Tirmidzi:

"Dari Anas bin Malik, ia berkata: Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam biasa berbuka puasa sebelum salat dengan ruthab (kurma basah), jika tidak ada ruthab, maka beliau berbuka dengan tamr (kurma kering), dan jika tidak ada tamr, beliau meminum seteguk air."

Hadis ini menjelaskan bahwa Nabi SAW berbuka puasa dengan kurma basah (ruthab) sebelum menunaikan salat. Jika tidak ada, beliau memilih kurma kering (tamr). Selain itu, kandungan glukosa dan fruktosa dalam kurma memberikan lonjakan energi instan bagi otak setelah seharian berpuasa.

2. Mengonsumsi Kurma dengan Hitungan Ganjil

Dianjurkan untuk mengonsumsi kurma dalam jumlah ganjil, seperti tiga, lima, atau tujuh butir.

Dari Sa'ad bin Abi Waqqash, Rasulullah SAW bersabda:

"Barang siapa mengonsumsi tujuh butir kurma ajwa pada pagi hari, maka pada hari itu ia tidak akan terkena racun maupun sihir."

Walaupun demikian, Rasulullah SAW tidak melarang umat Islam untuk mengonsumsi kurma dalam jumlah genap. Oleh karena itu, setiap Muslim bebas memilih jumlah kurma yang ingin dikonsumsi.

3. Keistimewaan Kurma Ajwa

Kurma Ajwa, yang tumbuh di Madinah, memiliki kedudukan khusus. Nabi SAW menyebutkan bahwa mengonsumsi tujuh butir kurma Ajwa di pagi hari dapat menjadi pelindung dari racun dan sihir.

Dalam sebuah hadis riwayat Ibnu Majah, yang artinya:

"Kurma ajwa itu berasal dari surga, ia adalah obat dari racun." (HR Ibnu Majah)

Dari sisi medis, Ajwa memang memiliki kandungan antioksidan polifenol yang lebih tinggi dibandingkan jenis lainnya.




(iqk/iqk)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork