Wadi sang Peracik Ramuan 'Legendaris' di Jalan Pasuketan Cirebon

Serba-serbi Warga

Wadi sang Peracik Ramuan 'Legendaris' di Jalan Pasuketan Cirebon

Ony Syahroni - detikJabar
Minggu, 27 Okt 2024 16:00 WIB
Wadi, penjual jamu di Jalan Pasuketan, Kota Cirebon.
Wadi, penjual jamu di Jalan Pasuketan, Kota Cirebon. (Foto: Ony Syahroni/detikJabar)
Cirebon -

Di tengah hiruk-pikuk Jalan Pasuketan, Kota Cirebon, ada pria yang setia menjaga warisan Nusantara. Wadi namanya. Hampir setiap malam, pria 58 tahun itu meracik ramuan-ramuan tradisional yang dapat menghidupkan kembali semangat tubuh.

Ya, Wadi merupakan seorang pedagang jamu tradisional. Hampir setiap malam, pria 58 tahun itu selalu berjualan jamu dengan menggunakan gerobak sederhana.

Gerobak jamu milik Wadi berdiri di depan deretan toko di bilangan Jalan Pasuketan. Lokasinya hanya berjarak beberapa meter dari pusat perbelanjaan legendaris di Kota Cirebon, yakni Cirebon Mall.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski jauh dari kata mewah, namun gerobak itu telah menjadi saksi bisu perjalanan panjang Wadi dalam melestarikan jamu tradisional. Wadi merupakan pria sederhana. Keramahan pun selalu ia tampilkan tatkala ada pembeli yang mampir ke tempatnya.

Boleh dibilang, Wadi sendiri merupakan penjual jamu legendaris yang ada di kawasan Jalan Pasuketan. Bagaimana tidak, bapak empat anak itu telah menekuni pekerjaan sebagai penjual jamu sejak tahun 1986.

ADVERTISEMENT
Wadi, penjual jamu di Jalan Pasuketan, Kota Cirebon.Wadi, penjual jamu di Jalan Pasuketan, Kota Cirebon. (Foto: Ony Syahroni/detikJabar)

Dengan kata lain, Wadi telah menjalani pekerjaan tersebut selama 38 tahun. Ribuan gelas jamu pun telah ia racik untuk mengobati berbagai macam penyakit atau sekadar menyegarkan tubuh.

"Permintaan pembeli sih macem-macem. Ada yang minta jamu untuk pegel linu, ada yang minta untuk obat masuk angin. Pokoknya macem-macem lah, tergantung permintaan pembeli," kata Wardi saat berbincang dengan detikJabar belum lama ini.

Selama puluhan tahun menjadi penjual jamu, manis-pahit dalam menjalani pekerjaan tersebut telah ia rasakan. Wadi mulai menjadi penjual jamu saat usianya masih muda dan belum menikah.

"Jualan jamu dari saya masih bujangan. Waktu itu usia saya masih muda," kata Wadi.

Di masa mudanya, Wadi lebih banyak menggunakan waktunya untuk bekerja. Sebelum berjualan jamu, Wadi sendiri sempat bekerja di warung jamu di Bekasi. Dari pekerjaan itu, Wadi pun banyak mendapat pengetahuan dalam meracik jamu.

Singkat cerita, berbekal pengetahuan itu, Wadi lalu memutuskan pulang ke kampung halamannya di Cirebon dan mulai berjualan jamu sendiri.

Di era tahun 1990-an menjadi masa keemasan bagi Wadi sebagai penjual jamu tradisional. Dalam sehari, sedikitnya 100 gelas jamu bisa ia jual.

Wadi, penjual jamu di Jalan Pasuketan, Kota Cirebon.Wadi, penjual jamu di Jalan Pasuketan, Kota Cirebon. (Foto: Ony Syahroni/detikJabar)

Di era itu, kata dia, Jalan Pasuketan merupakan kawasan yang selalu ramai. Sehingga, dari banyaknya orang-orang yang berlalu-lalang tidak sedikit yang mampir ke tempatnya untuk menikmati segelas jamu tradisional.

"Dulu sih di sini betul-betul ramai. Itu waktu masih ada Cirebon Mall. Waktu dulu minimal 100 gelas sih bisa terjual," ujar Wadi.

Lain dulu lain sekarang, menurut Wadi, Jalan Pasuketan kini tidak semeriah seperti dulu, meski masih banyak kendaraan yang hilir mudik di kawasan itu. Kendati demikian, hal itu tidak lantas membuat Wadi berpikir untuk beralih profesi maupun berpindah tempat untuk berjualan. Hingga kini, Wadi masih setia dengan pekerjaannya sebagai pedagang jamu tradisional di Jalan Pasuketan.

Saat ini, dalam sehari Wadi mengaku bisa menjual sekitar 50 gelas jamu tradisional. Harga yang dipatok pun cukup bervariatif, yakni mulai dari Rp15.000-Rp20.000 per gelas.

Sudah puluhan tahun menjadi pedagang jamu, Wadi pun telah memiliki pelanggan setia. Bukan hanya dari Kota Cirebon, pelanggannya ada juga yang dari Kabupaten Cirebon. Dan yang menjadi pelanggan jamunya bukan hanya kalangan orang tua, melainkan ada juga anak-anak muda.

"Pelanggan sih dari mana-mana. Di sekitar sini ada, yang dari Kabupaten juga ada. Dan yang suka minum jamu bukan hanya orang tua, anak-anak muda juga sering ke sini. Biasanya anak-anak SMA yang habis main futsal, itu biasanya mereka ke sini minum jamu," ungkap Wadi.

Meski hanya sebagai pedagang jamu, namun Wadi selalu menunjukkan sikap kedermawanannya saat menjalani pekerjaan tersebut. Wadi mengaku tidak pernah mematok harga terhadap masyarakat yang dinilainya kurang mampu, seperti misalnya kepada tukang becak.

"Kalau sama tukang becak saya ngga pernah matok harga. Terserah mau dikasihnya berapa. Karena saya tahu kondisinya bagaimana," tutur Wadi.

Wadi memastikan semua merek jamu yang dia jual telah memiliki izin. Ia mengaku tidak pernah menjual jamu-jamu ilegal. "(Yang dijual) jamu resmi semua. Ngga ada yang ilegal," jelasnya.

Setiap hari, Wadi mulai berjualan jamu sejak pukul 18.30 WIB - 22.00 WIB. Ia biasa berjualan di sekitar Jalan Pasuketan, Kota Cirebon.

(orb/orb)


Hide Ads