Colenak Murdi Putra, si Legendaris yang Tak Ketinggalan Zaman

Cornelis Jonathan Sopamena - detikJabar
Jumat, 19 Agu 2022 19:30 WIB
Colenak Murdi Putra.
Mahmud Sapeudin, pemilik Colenak Murdi Putra. (Foto: Cornelis Jonathan Sopamena/detikJabar)
Bandung -

Colenak sudah banyak dikenal dan melekat bagi wargi Bandung. Santapan khas berbahan dasar peuyeum alias singkong hasil fermentasi yang dilumuri kelapa parut dan cairan gula merah tersebut sudah mulai dijual sejak 1930 oleh Murdi, pionir colenak.

Dilansir dari detikNews, makanan tersebut dulu disebut peuyeum digulaan (tapai dicampur gula). Kemudian, terdapat seorang konsumen yang mencetuskan makanan tersebut diberi nama 'colenak' yang berasal dari 'dicocol (disentuh berulang kali) enak'. Sebab, cara makan tapai bakar ini adalah dengan cara dicocol pakai gula merah.

Kini, colenak buatan Murdi tersebut yang memiliki nama "Colenak Murdi Putra" sudah berada di tangan generasi ketiga. Mahmud Saepudin (60), cucu Murdi, menyatakan ia sudah meneruskan dagangan turun-temurun itu sejak 2005.


"Saya udah generasi ketiga, Pak Murdi itu kakek. Saya di sini udah dari 2005. Sebelumnya (yang jual) ibu saya," ucap Mahmud kepada detikJabar di Pusat Colenak Murdi Putra, Jalan Ahmad Yani No. 733, Kecamatan Cibeunying Kidul, Kota Bandung, Jumat (19/8/2022).

Almarhum Murdi yang meninggal pada 1966, ternyata selalu berjualan di tempat itu. Namun, beliau dulu membakar peyeum itu dan menjualnya di pinggir jalan. Setelah terkumpul modal, baru beliau membeli tempat yang digunakan hingga sekarang ini.

"Awalnya di pinggir sih ya, emang di sini juga, tapi di pinggir kayak bapak ketupat gerobak ini. Terus beli di sini nih. Jadi kalau tempat ini mah udah dari zaman Pak Murdi," kata Mahmud.

ColenakColenak Foto: iStock

Telah menjual colenak selama nyaris 100 tahun, nama Colenak Murdi Putra kini sudah masyhur ke berbagai penjuru daerah sebagai salah satu hidangan khas Sunda, khususnya Kota Bandung. Agar selalu lestari, Mahmud berinisiatif menjual colenak ini bukan hanya di tempat tersebut, melainkan turut membuka cabang lain dan memasukkan Colenak Murdi Putra ke berbagai supermarket.

"(Mulai dijual di supermarket) zaman saya, generasi ketiga. Karena istilahnya banyak dari yang jauh kepengen, saya inisiatif masukin ke Griya, Yogya, Borma dari 2005," tuturnya.

Tidak sendirian, kedua adik Mahmud pun mengelola cabang di Kosambi dan di Cibiru. Selain itu, adiknya pun memasukkan Colenak Murdi Putra ke berbagai gerai Indomaret.

"Adik baru berapa tahun yah, 2 tahun (atau) 3 tahun (masukin) ke Indomaret itu dari adik. Yang nerusin colenak di generasi ketiga cuma (kami) bertiga ini. Saya paling besar, sama adik-adik saya dua," ujar pria yang berdomisili di Antapani tersebut.

Jerih payahnya mengusahakan Colenak Murdi Putra untuk dapat turut dijual di berbagai supermarket dan minimarket pun berbuah manis. Menurutnya, Griya menjadi supermarket yang memberikan omzet paling besar bagi usaha colenaknya.

Selain itu, Colenak Murdi Putra juga tidak mau tertinggal di segi teknologi. Pasalnya, Mahmud dan keluarganya juga mendaftarkan Colenak Murdi Putra sebagai mitra restoran di aplikasi ojek online.

"Kalau Griya kan banyak ya, jadi secara omzet paling banyak itu dari Griya. Kalau ditotalin dari semua cabang adik kakak ini, Griya, Yogya, Borma, Indomaret mungkin sehari nyampe 800 (bungkus colenak terjual) mah ada. (Selain) nerima pesanan, Go-Jek Go-Food sekarang juga ada," ucap Mahmud.

Kini, Mahmud perlahan menurunkan usaha makanan legendaris ini kepada anaknya. Dirinya yang masih mengantarkan berbagai colenak ke supermarket ini merasa sebentar lagi usahanya akan turun ke anaknya yang berusia sekitar 30 tahun.

"Ini sih saya anter yang dekat-dekat saja, yang jauh mah sama anak saya, kayak daerah Cimahi situ lah. Sudah sampai ke generasi empat lah sebentar lagi juga. Anak umur 30-an sekarang," tuturnya.

Mahmud merasa colenak kini sudah tidak lagi menjadi makanan yang terus-menerus diburu masyarakat, tetapi sudah menjadi makanan khas. Sebab, ia melihat persepsi orang terhadap colenak ini sudah tidak seistimewa dahulu kala.

Kendati demikian, ia tetap merasa bangga terhadap makanan khas Sunda ini. Sebab, Colenak Murdi Putra sempat menerima piala penghargaan Anugerah Budaya Kota Bandung yang diserahkan almarhum Wali Kota Bandung, Oded M. Danial pada 2018 silam. Dirinya sangat bangga sebab colenak menjadi satu-satunya makanan yang berada di urutan 10 besar.

"Sekarang juga sudah banyak lah makanan yang enak-enak. Mungkin kalau dulu kan Konferensi Asia Afrika sendiri konsumsinya colenak. Mungkin kalau dulu colenak termasuk istimewa ya, kalau sekarang masuk kategori makanan khas Bandung lah," ujar Mahmud.

Colenak Murdi Putra.Penghargaan yang diberikan untuk Colenak Murdi Putra. Foto: Cornelis Jonathan Sopamena/detikJabar

"Waktu sebelum Pak Oded meninggal kan makanannya itu cuman colenak yang dapat piala penghargaan. Dari 10 besar itu makanannya cuma colenak, yang lain itu dari kesenian, macam-macam lah yang membawa harum nama Kota Bandung," lanjutnya dengan bangga.

Sudah menjadi kuliner khas Bandung, colenak pun kerap dijual berbagai orang lainnya. Mahmud mengaku tidak mau ambil pusing jika ada penjual colenak lainnya yang turut menggunakan nama almarhum kakeknya sebagai merek jualannya.

"Ada aja (yang palsu) sih, A. Ya kan masing-masing yang bikin colenak kan istilahnya semua sama-sama usaha ya, nggak papa (apa-apa) lah, A," ucapnya pada wartawan.

Untuk terus bisa melestarikan kuliner khas Bandung yang satu ini, Mahmud berpesan dan berharap kepada pemerintah daerah untuk bisa membantu mempromosikan berbagai makanan zaman dahulu yang sudah legendaris. Ia juga menyarankan pemerintah daerah membuat sebuah kawasan yang berisi kuliner khas Bandung.

"Sebetulnya ya memang harusnya dari Pemerintah Daerah juga ikut bantu promosikan gitu kan, sekarang itu sudah banyak yang zadul-zadul malah sudah pada nggak ada, ya. Saran saya mah kalau bisa pemerintah daerah teh (itu) ngadain satu kawasan isinya khas Bandung semua," ungkapnya.

"Misalkan colenak ada, bajigur bandrek mesti diadain. Satu tempat tapi lahan parkirnya lumayan, (sistemnya bisa) mau sewa mau apalah boleh, intinya cuman khas Bandung di situ semua, biar istilahnya khas Bandung nggak hilang gitu. Yang wisata pakai bis atau apa juga kan bisa parkir di situ," tutup Mahmud.

Colenak Murdi Putra sendiri dijual dalam tiga varian rasa, yaitu original, nangka, dan durian. Setiap varian memiliki banderol harga yang sama yaitu Rp12.000. Colenak Murdi Putra di Ahmad Yani dapat dikunjungi setiap hari pukul 06.30 sampai 20.00 WIB.

(orb/orb)