Abon Khas Ciamis yang Rasanya Terjaga Sejak 1968

Dadang Hermansyah - detikJabar
Rabu, 17 Agu 2022 07:30 WIB
Abon Rajawali, oleh-oleh khas Ciamis.
Abon Rajawali, oleh-oleh khas Ciamis. (Foto: Dadang Hermansyah/detikJabar)
Ciamis -

Jika Anda berkunjung ke Ciamis, Jawa Barat, Abon Rajawali bisa jadi pilihan oleh-oleh untuk dibeli. Makanan ini sudah identik dengan Ciamis yang rasanya terjaga sejak 1968.

Citarasanya yang terjaga menjadi keunggulan Abon Rajawali. Diolah dengan resep tradisional dari Ibu Iloh, sejak tahun 2000 Abon Rajawali diproduksi generasi ketiga, yakni Novi Mustika Dewi hingga saat ini.

Novi Mustika Dewi, pengelola Abon Rajawali Ibu Iloh 1968, menyebut abon daging sapi adalah produk best seller sejak dulu. Meski ada produk lainnya seperti abon ikan dan dendeng. Rasanya lezat, aromanya khas daging, garing tapi empuk.


"Memang abon banyak, tapi produk kami punya ciri beda. Kami gunakan 100 persen daging sapi asli. Menjaga resep nenek saya, jadi citarasa daging sapi abon ini sangat terasa," ujar Novi, saat ditemui di rumah produksinya di Lingkungan Rancapetir, Kelurahan Ciamis, Kecamatan Ciamis, Selasa (16/8/2022).

Abon Rajawali, oleh-oleh khas Ciamis.Abon Rajawali, oleh-oleh khas Ciamis. Foto: Dadang Hermansyah/detikJabar

Untuk memasak abon, sejak dulu ia menggunakan kayu bakar. Pernah mencoba menggunakan kompor gas, namun rasanya berbeda. Kiat lain Novi untuk menjaga abonnya agar tetap digemari dengan menjaga resep asli dan tidak mengurangi kualitas daging. Sekalipun harga daging sapi naik, Abon Rajawali tetap tidak mengurangi kualitasnya.

"Memang Abon Rajawali harganya sedikit berbeda dari abon lain karena yang kita jaga kualitas. Tidak ingin mengecewakan pelanggan," ungkap Novi.

Selain itu, menurut Novi, kendala dari membuat abon Rajawali ini adalah dari regenerasi sumber daya manusia (SDM). Menurutnya, semua orang bisa membuat abon. Namun untuk membuat abon yang sempurna tanpa menghilangkan rasa perlu SDM ahli dan sudah biasa.

"Memang memerlukan waktu sampai jadi ahli dan itu tidak banyak," katanya.

Novi mengaku mengelola Abon Rajawali sekitar tahun 2000 saat usia 19 tahun. Ketika itu ayahnya meninggal dunia dan tidak ada penghasilan lain. Ia memutuskan mengelola usaha ayahnya yang telah dirintis neneknya sebelumnya.

"Alhamdulillah pesanan mulai banyak ketika tahun 2008, ketika itu ibu Gubernur Jabar memesan untuk oleh-oleh merchandise. Sampai sekarang alhamdulillah pesanan ramai," ujarnya.

Pemasaran Abon Rajawali umumnya kota-kota besar seperti Bandung, Bekasi, Depok dan Jakarta. Menurut Novi, abon merupakan makanan siap saji yang dimakan bersama nasi.

"Umumnya kan orang di kota itu ingin yang lebih simpel dan cepat. Jadi yang paling mudah dan praktis itu pakai abon," jelasnya.

Novi menyebut pemasaran pun sudah sampai Belanda dengan sasaran orang Indonesia yang bermukim di sana.

"Sistemnya bukan ekspor, tapi titip bagasi untuk ke Belanda. Suka ada yang bawa ke sini. Kalau untuk ekspor belum, biar berjaya di sini saja," kata Novi.

Abon Rajawali, oleh-oleh khas Ciamis.Abon Rajawali, oleh-oleh khas Ciamis. Foto: Dadang Hermansyah/detikJabar

Setiap dua hari sekali Abon Rajawali yang diproduksi mencapai 1 kwintal daging sapi atau 60 kilogram ketika sudah jadi abon. Sedangkan pada momen tertentu, seperti liburan, bulan Ramadan produksi naik bisa empat kali lipat.

"Untuk harga per ons Rp 34 ribu. Tapi biasanya bagaimana pembelinya, kadang ada yang beli Rp 50 ribu dan lainnya. Untuk yang 80 gram sampai 1 ons itu bisa untuk tiga kali makan," pungkasnya.

(orb/orb)