Fotografi Kereta Api: Hobi 'Berdarah-darah' Irham hingga ke Garut

Fotografi Kereta Api: Hobi 'Berdarah-darah' Irham hingga ke Garut

Bima Bagaskara - detikJabar
Sabtu, 03 Okt 2026 18:00 WIB
Muhammad Irham Subhan Rahmayadi, pegiat fotografi kereta api.
Foto karya Muhammad Irham Subhan Rahmayadi, pegiat fotografi kereta api. (Foto: Dokumentasi pribadi)
Bandung -

Bagi Muhammad Irham Subhan Rahmayadi, suara kereta yang melintas bukan sekadar bunyi yang datang lalu menghilang. Sejak masih duduk di bangku sekolah dasar, suara dan deretan gerbong yang melaju di atas rel sudah cukup untuk membuatnya mencari sudut terbaik dan mengabadikannya.

Kini, pemuda 20 tahun asal Kota Bandung itu masih melakukan hal yang sama. Bedanya, alat yang digunakan sudah jauh lebih profesional.

Jika dulu hanya bermodal telepon genggam sederhana, kini Irham sudah memiliki kamera yang dibelinya dari hasil menabung. Ia juga tak segan bepergian ke luar kota hanya untuk mendapatkan satu foto kereta dari sudut yang menurutnya menarik.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketertarikan Irham terhadap dunia kereta api sebenarnya sudah tumbuh jauh sebelum ia serius memotretnya. Salah satu pemicunya adalah sebuah majalah yang dulu rutin ia beli.

"Mulai foto-foto kereta sekitar tahun 2019-an. Itu kan baru mulai punya HP sendiri, terus ya emang udah tertarik dari dulu tentang fotografi, tentang perkeretaapian. Dari situ baru mulai belajar tentang fotografi itu kan masih pakai HP, sampai sekarang alhamdulillah ada kamera dan kebetulan trafik keretanya juga bagus-bagus yang ke Bandung, jadi ya bisa hunting," ucap Irham saat berbincang dengan detikJabar, Minggu (27/9/2026).

ADVERTISEMENT

Tahun 2019 menjadi titik ketika hobinya mulai lebih serius. Saat itu Irham masih kelas 6 SD. Majalah KA menjadi salah satu pintu masuk Irham mengenal fotografi kereta. Dari lembar demi lembar majalah tersebut, ia melihat bagaimana sebuah kereta bisa tampil berbeda hanya karena dipotret dari sudut tertentu.

"Mungkin dulu awalnya dari majalah, dulu kan ada yang namanya Majalah KA tuh. Nah itu emang sebulan sekali kan edisinya keluar dan hampir setiap edisi itu dibeli. Jadi dari situ dulu kan dari belajar terus melihat foto-fotonya kayak menarik," ungkapnya.

Muhammad Irham Subhan Rahmayadi, pegiat fotografi kereta api.Muhammad Irham Subhan Rahmayadi, pegiat fotografi kereta api. (Foto: Dokumentasi pribadi)

Berawal dari HP 8 Megapiksel

Peralatan pertama Irham tentu jauh dari kamera profesional. Ia hanya mengandalkan sebuah telepon genggam buatan China yang memiliki kualitas kamera seadanya.

"Dulu tuh Mito A19 kalau nggak salah. Itu 8 megapixel kalau nggak salah," ujarnya.

Dengan perangkat itulah Irham mulai membidik kereta yang melintas. Hasil jepretannya kemudian ia simpan sekaligus bagikan melalui Instagram.

Media sosial itu pula yang menjadi tempat Irham mendokumentasikan perjalanan hobinya hingga sekarang. Akun Instagram @mir.hamz_ menjadi semacam album digital dari kereta-kereta yang pernah ia temui di berbagai lokasi.

Perjalanan itu perlahan membawanya masuk ke lingkungan komunitas pencinta kereta. Pada 2021, Irham bergabung dengan komunitas Edan Sepur Bandung.

Namun, untuk memiliki kamera sendiri, Irham harus menunggu beberapa tahun. Karena belum bekerja, ia harus mengandalkan uang yang berhasil dikumpulkan sedikit demi sedikit.

"Awal punya kamera tuh baru-baru ini sih, 2023-an lah itu. Emang alhamdulillah nabungnya agak berdarah-darah gitu, dari uang THR, dari Lebaran waktu itu teh," tuturnya.

Kamera itu kemudian membuka ruang yang lebih luas untuk hobinya. Irham tidak hanya berburu kereta di sekitar Kota Bandung, tetapi juga mulai bepergian ke sejumlah lokasi yang menawarkan lanskap dan sudut pengambilan gambar berbeda.

Di Bandung, ia memiliki beberapa titik favorit untuk mengabadikan momen kereta melintas. Titik itu di antaranya Jembatan Pasir Kaliki dan Jalan Tera. Kedua lokasi tersebut dipilih bukan tanpa alasan.

"Kalau yang di Paskal itu karena kan keretanya teh mau masuk Stasiun Bandung, jadi keretanya lambat dan kalau foto tuh rangkaian tuh dapat dari ujung ke ujung, kalau di Jalan Tera tuh kebetulan tikungan dan dekat," ujar Irham.

Mengejar Kereta hingga Luar Kota

Berburu foto kereta bagi Irham tidak selalu berarti berdiri di pinggir jalur yang dekat dari rumah. Sesekali, ia harus menempuh perjalanan cukup jauh demi mendapatkan satu momen.

Salah satu lokasi yang paling ia ingat adalah Jembatan Cikubang, di Cipatat, Kabupaten Bandung Barat. Di sana, jalur kereta yang membentuk lengkungan membuat rangkaian kereta terlihat seperti ular ketika dipotret dari ketinggian.

"Di Cikubang, di Cipatat, kan antara jembatan gitu, jadi unik kayak ular gitu," ucapnya.

Perjalanan berburu foto bahkan pernah membuat Irham dan teman-temannya menginap di stasiun. Salah satu pengalaman yang paling membekas terjadi pada 2019 ketika ia memburu KA Pasundan di kawasan Kadungora, Kabupaten Garut.

"Karena kan waktu itu naik kereta ke Leles ya pakai KRD yang malam, terus nginep di stasiun Leles, subuhnya buat ke spot-nya itu jalan, spot di gunung kan jadi subuh-subuh dari stasiun Leles jalan baru foto," katanya.

"Waktu itu kebetulan teman-teman yang lain masih pada seumuran, belum pada punya motor, jadi masih nginep di stasiun. Kalau sekarang paling motoran sama teman-teman. Itu yang paling berkesan lah," sambung dia.

Kini, sambil kuliah, waktu untuk berburu foto justru terasa lebih fleksibel. Jadwal perkuliahan yang tidak selalu berlangsung seharian membuat Irham bisa mengejar kereta yang datang pada waktu tertentu.

Muhammad Irham Subhan Rahmayadi, pegiat fotografi kereta api.Foto karya Muhammad Irham Subhan Rahmayadi, pegiat fotografi kereta api. (Foto: Dokumentasi pribadi)

"Kebetulan dibanding pas SMA saya lebih sering hunting pas kuliah ini, karena mungkin jadwalnya fleksibel ya nggak menentu jam 7 sampai jam 2 gitu, jadi ketika jam kuliahnya pagi misalnya ada kereta momen trafik keren sore jadi bisa dikejar," tegasnya.

Hobi tersebut juga mendapat dukungan dari keluarganya. Orang tua Irham tidak mempermasalahkan kegemarannya mengejar kereta, bahkan ikut melihat hasil foto yang ia abadikan.

"Aman, orang tua support, terus orang tua kadang lihat hasil-hasilnya sama lihat kayak di YouTube mungkin kereta-kereta kayak ya men-support, kalau bisa mah kayak gini katanya," terangnya.

Mencari Nilai Lebih dari Foto Kereta

Meski telah memiliki banyak koleksi foto, Irham belum menjadikan hobinya sebagai sumber penghasilan. Foto-fotonya masih banyak beredar di Instagram dan sesekali digunakan untuk kolaborasi dengan media-media railfans.

"Ini mah baru ke sosial media aja, ke Instagram kayak, tapi mungkin di Instagram tuh kolaborasi sama media-media Railfans kayak gitu. Kalau sampai ke KAI atau gitu mah belum sih," ucapnya.

Bagi Irham, setiap foto memiliki cerita sendiri. Ia belajar bukan hanya dari pengalaman, tetapi juga dari orang-orang yang lebih senior di komunitas.

"Kalau pelajaran paling tentang ilmu fotografi, kan kita paling suka belajar dari teman-teman yang lain yang lebih senior yang lebih ngerti, kadang fotonya tuh dikasih masukan ISO-nya kurang, shutter speed-nya kurang atau editing-nya diginiin," jelasnya.

Dari ponsel yang hanya dibekali kamera 8 megapiksel, perjalanan Irham kini berlanjut dengan kamera dan ambisi yang lebih besar. Ia mulai belajar membawa foto-fotonya ke platform lain seperti Flickr dan Shutterstock agar karya yang selama ini hanya menjadi dokumentasi pribadi perlahan bisa memiliki nilai lebih.

"Harapannya sih pengen foto-fotonya lebih bagus, lebih punya nilai. Sekarang tuh lagi belajar buat nge-upload ke kayak Flickr, Shutterstock biar bisa menghasilkan juga. Lagi belajar buat caption-nya," tutup Irham.

Halaman 2 dari 2
(bba/orb)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads