Pagi baru saja menghangat di SOR Saparua, Kota Bandung, Minggu (20/9/2026). Di salah satu sudut lapangan, sebuah ban berukuran besar menjadi rintangan yang harus ditaklukkan.
Seorang anggota komunitas mengambil beberapa langkah untuk ancang-ancang. Dalam hitungan detik, tubuhnya melesat, melewati ban, lalu mendarat dengan kedua kaki. Tak banyak suara selain hentakan kaki dan gerakan anggota lain yang bersiap mengambil giliran.
Adegan itu terus berulang. Ada yang melompat dengan mulus, ada pula yang mengulang gerakan untuk mencari pijakan dan teknik yang tepat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagi mereka, rintangan itu bukan sekadar ban besar. Ia menjadi bagian kecil dari latihan untuk menguji keseimbangan, kekuatan, keberanian, sekaligus kemampuan mengendalikan tubuh.
Komunitas Parkour Bandung (Foto: Bima Bagaskara/detikJabar). |
Di tempat inilah Komunitas Parkour Bandung rutin berlatih. Komunitas yang berdiri sejak 2007 itu menjadikan SOR Saparua sebagai salah satu ruang untuk mengasah kemampuan, sekaligus tempat bertemu orang-orang yang memiliki ketertarikan yang sama terhadap parkour..
Ketua Komunitas Parkour Bandung, Luthfi Rahman Zuhdi (27), menjelaskan komunitas tersebut menjadi wadah bagi orang-orang dari berbagai usia yang memiliki hobi dan ketertarikan terhadap parkour.
"Jadi Komunitas Parkour Bandung itu sebuah wadah yang menjadi tempat anak-anak remaja, pemuda, bahkan orang dewasa untuk apa ya memiliki hobi yang sama, berkegiatan, beraktivitas yang semuanya berkaitan dengan olahraga atau disiplin atau bahkan disebut sebagai gaya hidup yang kita kenal sebagai parkour," kata Luthfi saat berbincang dengan detikJabar.
Saat ini, anggota aktif yang tergabung dalam komunitas tersebut mencapai puluhan orang. Namun, tidak semuanya selalu hadir dalam setiap sesi latihan.
"Kalau anggota yang aktif, kalau lihat di grup WhatsApp itu ada puluhan, cuma kalau misalkan kita lihat per latihan biasanya ada sepuluh belasan lah biasanya gitu yang aktif," ujarnya.
Bukan Sekadar Melompat
Parkour berasal dari Prancis dan secara sederhana dapat dimaknai sebagai aktivitas melewati halang rintang. Gerakannya dilakukan dengan memanfaatkan tubuh untuk berpindah dari satu titik ke titik lainnya dengan cepat dan efisien.
Namun bagi komunitas ini, kecepatan bukan satu-satunya hal yang penting. Faktor keamanan juga menjadi bagian dari latihan.
"Jadi parkour itu adalah gerakan melewati rintangan secepat dan seefisien mungkin, kalau di kita juga ditambahi keamanan. Jadi yang namanya parkour, kita bergerak dari satu titik ke titik yang lain melewati rintangan dengan cepat, aman, dan efisien menggunakan tubuh kita sendiri," kata Luthfi.
Karena itu, sesi latihan tidak pernah dimulai dengan gerakan ekstrem. Tubuh harus lebih dulu dipersiapkan agar siap menerima beban gerakan.
Saparua menjadi lokasi latihan rutin. Meski begitu, komunitas tidak terpaku pada satu tempat. Mereka seringkali berpindah lokasi latihan seperti di Taman Lansia, kawasan Babakan Siliwangi hingga area kampus yang ada di Kota Bandung.
Parkour memang memiliki karakter yang fleksibel. Rintangan tidak harus dibangun secara khusus. Lingkungan sekitar dapat dimanfaatkan selama memenuhi aspek keamanan.
"Kalau parkour itu dia fleksibel ya, jadi apa pun bisa jadi tempat latihan atau taman bermain lah istilahnya. Jadi rintangannya bisa apa aja, bisa tembok, pagar, beton, bahkan di sini juga kita pakai ban. Jadi fleksibel nggak nggak mengacu pada satu pokok pagar," ucapnya.
Tak Harus Jago untuk Memulai
Meski terlihat sulit dan penuh tantangan, ada satu hal yang membuat parkour dapat diikuti berbagai kalangan. Mereka yang ingin bergabung tidak dituntut untuk langsung memiliki kemampuan tertentu. Menurut Luthfi, kemampuan fisik seseorang bukan penghalang untuk mencoba parkour.
"Kalau parkour itu bisa untuk semua level, bisa untuk semua usia, bisa untuk semua umur, bahkan juga bisa untuk semua gender. Jadi nggak nggak punya syarat apa-apa asal kita bisa bergerak aktif," kata Luthfi.
"Bahkan di luar negeri pun ada yang badannya maaf gemuk besar, ada yang kakinya satu, tapi mereka bisa tetap latihan parkour. Artinya tidak tidak punya batasan, tidak punya syarat apa pun yang penting dia punya keinginan untuk mau bergerak kayak gitu," sambungnya.
Pemula juga tidak langsung diminta melewati rintangan sulit. Mereka akan dikenalkan lebih dulu dengan gerakan dasar.
"Iya nggak harus jago. Bahkan kita selalu mulai dari dasar, ada kelas first timer kayak gitu. Intinya kalau misalkan baru gabung latihan kita akan coba kenali latihan dasar, bukan langsung lompat-lompat yang ekstrem tapi dimulai dari dasar semuanya," ujarnya.
Dari Pencarian di Google hingga Bertahan di Komunitas
Luthfi sendiri pertama kali bergabung dengan Komunitas Parkour Bandung pada 2018. Namun, ia baru aktif berlatih sekitar 2020 hingga 2021. Ketertarikannya bermula setelah memasuki masa kuliah. Ia ingin mencari kegiatan yang bisa mengisi waktu luang sekaligus memberikan pengalaman baru.
"Dulu waktu SMA saya pernah ikut sampai enam tujuh ekskul, dan ketika lulus pas kuliah saya mikirnya pengen cari kegiatan yang bisa mengisi waktu luang, bermanfaat tapi nggak mainstream kayak gitu," tuturnya.
Ia kemudian mencari berbagai aktivitas melalui internet. Dari situlah ia menemukan parkour dan Komunitas Parkour Bandung. "Saya cari di Google terus ketemu parkour, ternyata ada Parkour Bandung, akhirnya saya memutuskan untuk ikut latihan waktu itu tahun 2018 di sini," ujarnya.
Kala itu, suasana latihan masih jauh lebih ramai, terlebih setelah pandemi COVID-19 melanda yang membuat aktivitas di tempat terbuka menjadi terbatas. Namun, ia tetap bertahan. Dari parkour, Luthfi menemukan aktivitas yang menurutnya mampu melatih tubuh sekaligus mental.
"Jadi dari situ saya merasa oh ini asik banget nih parkour, bisa melatih fisik, mental, terus anti-mainstream juga yang saya kejar gitu," ungkapnya.
Rintangan Terbesar Justru Konsistensi
Ada anggapan bahwa bagian tersulit dari parkour adalah melakukan gerakan yang ekstrem. Namun, bagi Luthfi, persoalan sebenarnya justru datang ketika seseorang harus menjaga konsistensi latihan.
"Kalau di parkour itu yang sulit bukan ketika kita mencoba teknik, teknik sulit ya mungkin itu mah ini ya tergantung orangnya gitu. Yang sulit itu adalah ketika kita disiplin untuk latihan," katanya.
Menurutnya, setiap orang datang ikut berlatih parkour dengan tujuan berbeda. Ada yang sekadar ingin menjaga kebugaran, mengisi waktu luang, hingga mengejar level kompetitif.
"Karena kadang kita latihan kan tujuannya beda-beda ya, ada yang latihan cuma untuk kesehatan, kebugaran, ada yang latihan buat isi waktu luang aja main-main, tapi beberapa di antara kita ada yang memang latihan untuk ngejar profesionalisme, istilahnya ingin beneran jadi atlet," jelas dia.
Di sisi lain, kesibukan dalam aktivitas sehari-hari jadi tantangan tersendiri bagi dirinya dan semua anggota komunitas. Jika tidak konsisten dalam berlatih, Luthfi menyebut kemampuan untuk melewati rintangan juga akan berkurang.
"Kesulitannya bagi saya adalah ketika kita harus disiplin untuk berlatih, di saat yang sama kita juga punya kegiatan keseharian kayak bekerja, kuliah gitu. Mengatur waktunya harus cermat, kemudian kalau kita latihannya nggak konsisten ya turun-turun lagi gitu," tegasnya.
Pernah Cedera Menjelang Kompetisi
Di balik latihan yang terlihat menyenangkan, risiko cedera tetap ada. Luthfi pernah merasakannya ketika mengalami cedera engkel yang cukup parah, bahkan menjelang dirinya ikut dalam kompetisi.
"Pernah sampai cedera lumayan parah itu sampai engkel saya sobek sebagian, untung nggak sampai putus, itu menjelang kompetisi. Jadi saya waktu itu cedera sebulan sebelum kompetisi yang akhirnya latihan nggak maksimal, naik ke atas panggung pun jadi nggak maksimal," ucapnya.
Parkour sendiri kini memiliki kompetisi resmi yang digelar secara rutin. Kompetisi membuat sebagian pegiat memiliki tujuan yang lebih serius dalam latihan. Namun, bagi komunitas secara keseluruhan, aktivitas olahraga tetap menjadi alasan utama untuk berkumpul.
Bandung Belum Punya Taman Khusus Parkour
Perjalanan Komunitas Parkour Bandung selama hampir dua dekade belum sepenuhnya ditunjang fasilitas khusus. Sejumlah ruang publik di Kota Bandung memang dapat digunakan. Namun, menurut Luthfi, belum ada satu lokasi yang menyediakan rintangan parkour secara lengkap dan terintegrasi.
"Untuk sarana bisa dibilang ada tapi belum sampai apa ya memenuhi kebutuhan kita secara penuh gitu. Karena teknik parkour tuh kan banyak ya. Jadi misalkan kita punya tempat A, B, C, nggak nggak semua tempat ini punya apa ya rintangan yang bisa kita coba untuk lakukan teknik ini itu," terangnya.
"Jadi rintangan A ya gerakannya itu-itu lagi, rintangan apa tempat B, lokasi B itu-itu lagi. Jadi nggak nggak kompleks lah. Kita di Kota Bandung belum punya satu tempat yang memang dikhususkan untuk parkour, terjaga, kemudian punya varietas rintangan yang memadai gitu untuk apa latihan kita," lanjutnya.
Ia membandingkannya dengan fasilitas di Jakarta yang memiliki ruang khusus untuk parkour. Sementara di Saparua, berbagai jenis rintangan masih tersebar di sejumlah titik.
Meski fasilitas khusus belum tersedia, aktivitas mereka tetap berjalan. Ban besar yang pagi itu menjadi rintangan hanyalah salah satu contoh bagaimana ruang publik bisa diubah menjadi arena latihan.
Hampir dua dekade sejak berdiri pada 2007, Komunitas Parkour Bandung pun ingin olahraga ini dipandang lebih luas daripada sekadar aksi ekstrem.
"Saya ingin parkour tuh bukan cuma dikenal sebagai olahraga ekstrem, tapi juga sebagai sebuah budaya yang memang sudah mengakar lama banget di Indonesia ya. Banyak peminatnya mulai dari pemuda, remaja, bahkan di kalangan senior yang sudah dewasa," ungkapnya.
Luthfi berharap masyarakat dan pemerintah semakin mengenal parkour beserta nilai yang ada di dalamnya.
"Saya inginnya pemerintah, masyarakat bisa lebih banyak mengenal parkour, tahu tujuan parkour bukan cuma sekadar mencari adrenalin, gerakan-gerakan ekstrem, tapi juga mengetahui bahwa dengan parkour itu mereka bisa melatih kekuatan fisik dan mental, bisa melatih kedisiplinan, bahkan bisa melatih sosial juga," pungkasnya.
Simak Video "Video: Parkour: Olahraga Ekstrem atau Gaya Hidup Urban?"
[Gambas:Video 20detik] (bba/mso)

