Mi Ayam Wa Nana, Sensasi Kuliner di Ketinggian 1.626 MDPL

Mi Ayam Wa Nana, Sensasi Kuliner di Ketinggian 1.626 MDPL

Fahmi Labibnajib - detikJabar
Minggu, 20 Sep 2026 12:30 WIB
Seporsi mi ayam Wa Nana di ketinggian 1.626 MDPL Gunung Ciremai
Seporsi mi ayam Wa Nana di ketinggian 1.626 MDPL Gunung Ciremai (Foto: Fahmi Labibnajib/detikJabar).
Kuningan -

Salah satu kuliner yang ada di jalur pendakian Gunung Ciremai adalah Mi Ayam Wa Nana. Berbeda dengan mi ayam di tempat lain, Mi Ayam Wa Nana merupakan mi ayam yang lokasinya di ketinggian 1.626 mdpl, tepatnya di pos 1 Cigowong pendakian Gunung Ciremai.

Untuk sampai ke lokasi, pengunjung harus melakukan pendakian terlebih dahulu dari area tiket masuk Pos Pendakian Cadas Poleng Jalur Palutungan, Desa Cisantana, Cigugur, Kuningan untuk menuju pos 1 Cigowong dengan jarak sekitar tiga kilometer. Di sepanjang perjalanan, pengunjung akan disuguhkan dengan kontur jalan bebatuan yang terjal menanjak dan dikelilingi dengan lebatnya hutan Gunung Ciremai.

Setelah melakukan perjalanan sekitar 1,5 jam lebih, tampak sebuah warung lengkap dengan gerobak mi ayam dan tempat duduk untuk makan. Meski cara pembuatan dan bahan-bahannya sama seperti mi ayam pada umumnya, suasana udara yang sejuk dan panorama hutan Gunung Ciremai yang lebat membuat makan mi ayam terasa lebih istimewa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Rasa lelah saat berjalan kaki langsung hilang saat menikmati mi ayam Pak Nana. Mi yang kenyal dengan topping ayam, saus, dan sayuran ditambah dengan suasana sejuk Gunung Ciremai yang masih asri membuat sensasi makan mi terasa lebih sedap.

Seporsi mi ayam Wa Nana di ketinggian 1.626 MDPL Gunung CiremaiSeporsi mi ayam Wa Nana di ketinggian 1.626 MDPL Gunung Ciremai (Foto: Fahmi Labibnajib/detikJabar).

Penjual Mi Ayam Pak Nana, Oman, memaparkan bahwa mi ayam Pak Nana sudah ada di pos 1 Cigowong sejak setahun terakhir. Menurutnya, keberadaan mi ayam tersebut tidak lepas dari hobi para pendaki yang suka menikmati mi ayam sekaligus menikmati suasana Gunung Ciremai.

ADVERTISEMENT

Selain mi ayam, pengunjung juga bisa menikmati seporsi bakso lengkap dengan isiannya dan kuah yang hangat. Meski harus melewati perjalanan yang terjal untuk membawa bahan baku mi ayam ke ketinggian 1.626 mdpl, untuk harganya sendiri cukup terjangkau. Seporsi mi ayam dan bakso dibanderol dengan harga Rp15.000. Sedangkan bagi yang ingin paket komplet mi ayam bakso harganya Rp20.000.

Oman memaparkan, semenjak buka setahun terakhir, mi ayam tersebut selalu laris diserbu para pendaki. Bahkan, saat hari libur atau akhir pekan, ia bisa menjual ratusan porsi mi ayam dalam sehari dengan omzet mencapai jutaan rupiah.

"Mie ayam bakso tuh Rp20.000, kalau mie ayam original Rp15.000. Menurut para pendaki ya ini mah murah, makanya kadang mereka datang lagi.Puncaknya pendaki ya tetap sih Agustus-an. Momen Agustus-an mah bisa sampai 2.000 pendaki. bisa sampai 200-300 porsi, stoknya bisa nambah. Kalau weekend malah kita sampai nginep di sini," tutur Oman.

Meski selalu ramai, saat ada kebijakan larangan pendakian di Gunung Ciremai selama musim kemarau berdampak langsung kepada Oman sebagai penjual mi ayam. Menurutnya, meski untuk pendakian ke pos 1 Cigowong tidak ditutup, jika dibandingkan dengan kondisi normal sebelum penutupan jalur puncak, penurunan omzet dari berjualan mi ayam bisa mencapai sekitar 50 persen.

"Dampaknya ya berkurang, Kan kita ini biasanya kan nunggu yang trekking sama yang pendakian puncak, gitu. Mungkin 50 persenan, kalau biasa 100 porsi, jadi 50 porsi. Anjlok banget. Soalnya yang mereka tahu juga yang suka main ke sini kiranya tutup semua, padahal tracking kesininya tetap masih buka," tutur Oman.

Oman sendiri tidak mengetahui secara pasti kapan pendakian ke puncak Gunung Ciremai kembali dibuka. Meski begitu, Oman berharap pemerintah serta pengelola kawasan Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (BTNGC) dapat mempertimbangkan pembukaan kembali jalur pendakian dengan pengawasan yang lebih ketat.

"Cepat buka ajalah. Mungkin ya kalau kebijakannya yang penting lebih diketatin lagi misalkan ya buat pendaki. Kalau mau dibuka tuh ya lebih diketatin lagi dari pengelolanya buat api unggun, pemicu-pemicu itulah. Kita jualan nggak ada kegiatan lain. Kasihan warga sini tuh. Khususnya saya, maksudnya kalau ditutup ya sudah saya mau ke mana? Apalagi ini nggak ada batasan buat dibukanya kapan," tutur Oman.

Sementara itu, salah satu pengunjung adalah Mohammad Romadon (24). Ia mengaku bahwa ia pertama kali treking ke pos Cigowong. Menurutnya, selain untuk mencoba merasakan sensasi pendakian, treking ke Cigowong juga bertujuan untuk menikmati mi ayam di pos 1 Cigowong yang viral di media sosial.

Meski harus berjalan kaki hampir 1,5 jam lebih, semuanya bisa terbayarkan saat makan mi ayam sambil menikmati suasana asri Gunung Ciremai.

"Enak. Jauh jauh ke sini buat coba mendaki sambil mau makan mi ayam juga. Cape sih cuman puaslah. Apalagi di sini, ada nasi sama makanan ringan juga. Jadi pas pulang ke bawah energinya sudah balik lagi," pungkas Romadon.

Halaman 2 dari 2
(mso/mso)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads