Iding Soemita, Pejuang Buruh Tani Suriname asal Tasikmalaya

Iding Soemita, Pejuang Buruh Tani Suriname asal Tasikmalaya

Faizal Amiruddin - detikJabar
Rabu, 21 Sep 2022 06:30 WIB
Iding Soemita saat dikirimkan ke Suriname pada 1925
Iding Soemita saat dikirimkan ke Suriname pada 1925 (Foto: istimewa)
Tasikmalaya -

Keberadaan warga negara Indonesia di Suriname telah menjadi bagian catatan sejarah masa kolonial Belanda. Ribuan warga Indonesia diberangkatkan oleh Belanda untuk dipekerjakan di negara koloni Belanda di wilayah Amerika Selatan.

Hingga kini keberadaan anak cucu atau keturunan warga Indonesia di Suriname tetap eksis karena mereka menetap dan memiliki penghidupan di negara itu. Karena mayoritas warga Indonesia yang diberangkatkan ke Suriname kala itu berasal dari suku Jawa, maka hingga kini dikenal dengan istilah Jawa Suriname.

Padahal dari puluhan ribu warga yang dipekerjakan Belanda ke Suriname, ratusan orang berasal dari suku Sunda.


"Dari Priangan Timur khususnya dari Tasikmalaya juga banyak. Berdasarkan catatan sejarah dari arsip nasional Belanda ada 284 orang kuli kontrak asal Tasikmalaya yang berangkat ke Suriname," kata Dudu Risana pegiat sejarah yang juga dosen di Tasikmalaya, Selasa (20/9/2022).

Dudu menambahkan mereka berasal dari berbagai distrik atau kecamatan, diantaranya Singaparna, Banjar, Ciawi, Manonjaya, Panjalu, Taraju, Karangnunggal, Kawali Ciamis Indihiang, Rancah Ciamis, Cikatomas, dan Pangandaran.

"Mereka terdiri dari lelaki dewasa, perempuan dan anak-anak. Mereka berangkat bertahap mulai 1897 sampai 1937," kata Dudu.

Iding Soemita: Suara Orang Sunda di Suriname

Meski eksistensi buruh asal suku Sunda di Suriname ini tak terlalu terdengar gaungnya, tapi ada beberapa orang Sunda yang justru namanya moncer karena kiprah dan pergerakannya.

"Kalau eksistensi Sunda Suriname memang tak terdengar karena dari puluhan ribu berasal dari suku Jawa. Sementara warga Sunda hanya ratusan. Tapi walau demikian memang ada pekerja asal Tasikmalaya yang justru menonjol dan menjadi tokoh," kata Dudu.

Sosok tersebut adalah Iding Soemita. Pria yang kemudian menjadi tokoh persatuan kuli tani Indonesia di Suriname itu lahir di Cikatomas Tasikmalaya pada 3 April 1908. Dia meninggal dunia di Suriname pada 18 Nopember 2001, pada usia 93 tahun.

"Iding Soemita berangkat menjadi kuli kontrak di Suriname saat masih pemuda. Catatan sejarah menuliskan dia berangkat ke Suriname tahun 1925, berarti usianya masih 17 tahun," kata Dudu.

Bekerja menjadi buruh tani di perkebunan Belanda tak membuat Iding Soemita terjebak di zona nyaman atau hanya fokus pada pekerjaannya saja Pikirannya yang revolusioner mendorong dia menjadi motor penggerak untuk melawan ketidakadilan termasuk melakukan perlawanan terhadap kolonialisme.

"Iding Soemita menjadi tokoh perjuangan bagi masyarakat Indonesia di Suriname untuk mendapatkan hak-hak politiknya," kata Dudu.

Kiprahnya diawali dengan keprihatinan dirinya terhadap nasib rekan sesama kuli tani Indonesia di Suriname. Keterbatasan membuat buruh yang meninggal dunia dikuburkan dengan tidak layak.

Iding SoemitaIding Soemita Foto: (Fotocollectie Anefo Reportage: Eigenhuis, Nico)

Atas hal tersebut Iding menggagas penghimpunan dana pemakaman secara swadaya, sehingga ketika ada buruh yang meninggal dunia bisa dimakamkan secara layak dan terhormat.

Semangat persatuan dan gotong royong itu akhirnya mengkristal menjadi sebuah kekuatan. Iding sebagai frontman di komunitasnya, kemudian kerap kali tampil mengadvokasi perselisihan kaum buruh dengan kaum kolonial.

Moelih n' Djawa

Sosok Iding semakin disegani ketika dia menyuarakan gerakan Moelih n' Djawa sekitar tahun 1933.

"Moelih n' Djawa adalah gerakan dari buruh tani yang menuntut agar mereka dipulangkan ke tanah air. Pada tahun-tahun itu banyak buruh yang sudah habis masa kontrak kerjanya, rata-rata mereka bekerja untuk 5 tahun," kata Dudu.

Dari puluhan ribu buruh banyak yang tidak kerasan bekerja di Suriname, mereka ingin pulang ke tanah air. Di sisi lain pemerintah Belanda tak bisa langsung memenuhi tuntutan tersebut. Banyak alasan dan kecurangan-kecurangan.

"Sejarah mencatat gerakan ini dengan sebutan politik Nagih Djangjie. Mereka menagih janji Belanda atas kesepakatan-kesepakatan kerja terhadap buruh asal Indonesia tersebut," kata Dudu.

"Kesepakatan itu diantaranya gaji yang diterima pekerja laki-laki usia di atas 16 tahun sebesar 60 sen, pekerja wanita usia di atas sepuluh tahun sebesar 40 sen. Itu adalah upah harian," imbuh Dudu.

Masa perjanjian kerja para buruh tani di Suriname adalah lima tahun. Setelah bekerja selama masa kontrak, mereka mendapatkan hak untuk kembali ke tanah air. Pemerintah Belanda menanggung biaya kepulangan mereka ke tanah air. Janji-janji inilah yang mereka tagih kepada Pemerintah Belanda.

Titi Karier Politik

Di sisi lain momentum ini seakan memberikan ruang bagi Iding untuk meretas perjalanan karier politiknya. Hal itu ditandai dengan dibentuknya sebuah organisasi pergerakan bernama Persatuan Indonesia pada tahun 1946. Organisasi itu dia dirikan bersama rekannya sesama buruh dari Indonesia.

"Dengan adanya Persatuan Indonesia ini, gerakan politik Nagih Djangjie semakin masif, semakin kuat dan semakin diperhitungkan," kata Dudu.

Selanjutnya para 1948, Iding mengubah nama organisasi Persatuan Indonesia menjadi Kaoem Tani Persatoean Indonesia (KTPI). Berbeda dengan sebelumnya, KTPI dibentuk dan dideklarasikan sebagai partai politik.

"Konstelasi politik berubah, sepertinya Iding menangkap celah yang lebih potensial untuk perjuangan kaumnya. Nah pada tahun 1949, KTPI ikut jadi peserta Pemilu Suriname di distrik Commewijne," kata Dudu.

Pada Pemilu itu partai KTPI berhasil meraup 2.325 suara sehingga berhasil mendapatkan 2 kursi parlemen dari total 21 kursi.

"Sukses masuk parlemen, membuat Iding tak hanya sebatas berjuang untuk kaum buruh tani asal Indonesia saja. Tapi dia ikut aktif dalam upaya kemerdekaan Suriname," kata Dudu.

Di parlemen, Iding aktif terlibat dalam setiap perundingan dengan Belanda terkait kemerdekaan Suriname.

Sebuah perjuangan panjang yang pada akhirnya menemukan titik terang ketika Pemerintah Belanda bersama beberapa wakil dari Suriname menandatangani kesepakatan rencana Belanda mengakhiri penjajahan pada 15 Desember 1954.

"Suriname tergolong negara yang terlambat merdeka, negara ini baru merdeka 25 November 1975," kata Dudu.

Dia menambahkan masyarakat Tasikmalaya patut berbangga dengan kiprah dan perjuangan sosok Iding Soemita ini. "From zero to hero, sosok pemuda kampung buruh tani yang bertransformasi menjadi pejuang keadilan bagi kaumnya," kata Dudu.

(yum/yum)