Kisah Fikri dan Tragedi Berdarah di Pasar Caringin

Round-Up

Kisah Fikri dan Tragedi Berdarah di Pasar Caringin

Tim detikJabar - detikJabar
Selasa, 27 Okt 2026 09:00 WIB
Lokasi penyerangan tukang parkir di Pasar Caringin Bandung.
Lokasi penyerangan tukang parkir di Pasar Caringin Bandung (Foto: Rifat Alhamidi/detikJabar).
Bandung -

Fikri Ramadhan (22) sempat pulang ke rumah pada Sabtu (24/10) sore untuk memberikan uang kepada istrinya. Tak lama kemudian, ayah muda itu memilih kembali ke Pasar Induk Caringin, Kota Bandung, untuk mencari tambahan uang demi bisa membeli susu bagi anak perempuannya yang masih berusia 15 bulan.

Namun yang tidak pernah keluarga bayangkan, Fikri ternyata tak pernah kembali ke rumah untuk selamanya. Dia menjadi salah seorang korban meninggal dunia akibat kasus penyerangan di kawasan Blok B-2 Pasar Caringin, Kecamatan Babakan Ciparay, Kota Bandung.

Kejadian brutal ini dilaporkan dialami Fikri bersama dua rekannya, Tisna (37) dan Agus Safari (34). Tisna yang sempat dalam kondisi kritis akhirnya meninggal dunia, sedangkan Agus Safari saat ini sudah dioperasi ke Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berdasarkan laporan awal yang diterima polisi, Fikri dan kedua rekannya diserang oleh 30 orang. Petugas saat itu mengidentifikasi Fikri dan rekannya sebagai tukang parkir di Pasar Caringin.

ADVERTISEMENT

Pada Minggu (24/10) kemarin, polisi pun membeberkan dugaan motif sementara tragedi berdarah ini bisa terjadi. Petugas menyebut pemicunya diduga karena masalah kesalahpahaman antara kelompok korban dengan kelompok kuli panggul di pasar.

"Awalnya ini ada kesalahpahaman antara tukang parkir dan kuli panggul. Tukang parkir dikira nyuri bawang," demikian keterangan Kapolsek Babakan Ciparay AKP Kardi pada saat itu.

Hasil pemeriksaan sementara juga menyebutkan bahwa sebelum penyerangan terjadi, sebetulnya, kesalahpahaman kedua belah pihak sudah sempat dimediasi. Namun entah apa penyebabnya, korban lalu diserang hingga membuatnya tewas di lokasi kejadian.

"Sudah sempat berdamai, tapi ada kesalahpahaman lagi lah," kata dia.

Kejadian mengerikan ini pun turut digambarkan warga di sana. Sembari meminta namanya dirahasiakan, sumber tersebut mengatakan bahwa kelompok yang menyerang baru bubar setelah ada korban yang tergeletak di tengah jalan. Belakangan diketahui, bahwa korban itu adalah Fikri Ramadhan yang dinyatakan meninggal dunia.

Bahkan saking mencekamnya, sumber tersebut baru bisa merasa aman setelah polisi berdatangan ke lokasi. Dia juga akhirnya baru mengetahui jika peristiwa yang terjadi merupakan penyerangan yang membuat seseorang tewas.

Setelah serangkaian penyelidikan, polisi pun akhirnya mengamankan satu orang tak lama setelah kejadian berdarah di Pasar Caringin. Namun, polisi belum bisa memastikan apakah pelaku yang diamankan terlibat dalam penyerangan tersebut atau tidak.

"Memang sudah diamankan satu orang, tapi belum A1. Masih dalam pemeriksaan," kata AKP Kardi.

Kepergian Fikri pun membawa luka mendalam bagi keluarganya. Sebagai anak bungsu dari dua bersaudara, Fikri telah meninggalkan seorang istri dan anak perempuan yang masih berusia 15 bulan, dan merupakan pria yang bertanggungjawab terhadap keluarganya meski masih berusia muda.

Ayah korban, Nandang Johari (46), bahkan tak kuasa menahan tangisnya. Sebab sebelum peristiwa berdarah itu terjadi, Fikri sempat pulang ke rumah, lalu memberikan uang kepada istrinya, dan memilih kembali lagi ke pasar demi bisa mencari tambahan keperluan membeli susu bagi anaknya yang masih balita.

"Sempet ngasih uang dulu sama istrinya jam 3 sore, terus udah gitu pergi lagi ke pasar. Katanya mau cari uang buat beli susu, nanti balik lagi," ucap Nandang ditemui di rumah duka, Gang Porib V, Caringin, Kota Bandung, kemarin.

Sayangnya, langkah Fikri kembali ke Pasar Caringin itu ternyata jadi kepergian terakhir untuknya. Nandang kemudian baru mendapat kabar bahwa anaknya sudah meninggal dunia sekitar pukul 20.00 WIB setelah menjadi korban penyerangan.

Nandang juga membantah informasi yang beredar yang menyatakan anaknya merupakan tukang parkir di Pasar Caringin. Korban menurutnya, sehari-hari beraktivitas sebagai buruh harian yang biasanya mengangkat meja dagangan pasar tumpah di Blok B-2 Pasar Caringin.

"Anak bapak mah bukan tukang parkir, jadi tiap pedagang itu dikasih meja sama anak saya. Nyiapin meja, bongkar pagi-pagi gitu. Bukan tukang parkir, bukan tukang pikul, bukan," ucapnya.

Tak banyak harapan saat itu yang bisa disampaikan Nandang. Sembari menahan air matanya, ia meminta polisi bisa mengusut kasus tersebut hingga selesai dan pelakunya bisa dihukum setimpal.

"Dari kecil saya (ngurus anak) sampai besar. Udah besar dimatiin orang, saya nggak rida. Mudah-mudahan polisi bisa menangkap pelakunya dan dihukum setimpal," ujarnya.

Ibu korban, Suastri, juga punya harapan serupa. Ia menginginkan kasus ini langsung ditindaklanjuti supaya tidak memunculkan keributan kembali.

"Saya minta, misalkan, kalau kita diperpanjang misalkan, ribut lagi kan enggak mungkin, nanti ada korban lagi. Saya minta kalau pelakunya udah dapat, kita minta sebagai keluarganya tolong pertanggungjawabkan anak-anaknya sama istrinya, sekolahnya. Kalau diterusin enggak mungkin, nanti takut jatuh korban lagi," pungkasnya.

Halaman 3 dari 2


Simak Video "Video: Tragedi Penyerangan di Pasar Caringin Bandung, 2 Orang Tewas"
[Gambas:Video 20detik] (ral/mso)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads