Fikri Ramadhan (22), tewas setelah jadi korban penyerangan di Pasar Caringin, Kota Bandung pada Sabtu (24/10) sore. Pihak keluarga pun meminta polisi supaya pelakunya dihukum setimpal.
Saat ditemui derikJabar di rumah duka, Gang Porib V, Caringin, Kota Bandung, Minggu (25/10/2026) pukul 11.45 WIB, pihak keluarga masih menunggu kedatangan jenazah almarhum. Ayah korban, Nandang Johari (46), tak kuasa menahan tangis setelah mengetahui anaknya meninggal dunia.
Korban Fikri Ramadhan merupakan anak bungsu dari dua bersaudara. Nandang pun mengaku baru mengetahui kejadian itu sekitar pukul 20.00 WIB setelah mendapatkan kabar dari rekan korban.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dapet kabar dari temennya, waktu itu saya baru pulang kerja. Pas saya ke TKP, anak saya udah enggak ada di lokasi. Terus saya ke (Rumah Sakit) Bandung Kiwari, ada yang bilang kalau anak saya enggak selamat," katanya.
Nandang juga membantah informasi yang beredar yang menyatakan anaknya merupakan tukang parkir di Pasar Caringin. Korban sehari-hari beraktivitas sebagai buruh harian yang biasanya mengangkat meja dagangan pasar tumpah di Blok B-2 Pasar Caringin.
"Anak bapak mah bukan tukang parkir, jadi tiap pedagang itu dikasih meja sama anak saya. Nyiapin meja, bongkar pagi-pagi gitu. Bukan tukang parkir, bukan tukang pikul, bukan," ucapnya.
Fikri Ramadhan tewas setelah terkena tusuk hingga ke bagian jantungnya. Usai kejadian ini, Nandang berharap polisi bisa mengusut kasus tersebut hingga selesai dan pelakunya bisa dihukum setimpal.
"Dari kecil saya (ngurus anak) sampai besar. Udah besar dimatiin orang, saya nggak rida. Mudah-mudahan polisi bisa menangkap pelakunya dan dihukum setimpal," ujarnya.
Ibu korban, Suastri (44), juga punya harapan serupa. Ia menginginkan kasus ini langsung ditindaklanjuti supaya tidak memunculkan keributan kembali.
"Saya minta, misalkan, kalau kita diperpanjang misalkan, ribut lagi kan enggak mungkin, nanti ada korban lagi. Saya minta kalau pelakunya udah dapat, kita minta sebagai keluarganya tolong pertanggungjawabkan anak-anaknya sama istrinya, sekolahnya. Kalau diterusin enggak mungkin, nanti takut jatuh korban lagi," pungkasnya.
(ral/sud)
