Teror Molotov Sasar Rumah Desta GIE di Bandung

Round-up

Teror Molotov Sasar Rumah Desta GIE di Bandung

Tim detikJabar - detikJabar
Kamis, 22 Okt 2026 08:00 WIB
Penampakan bagian rumah yang terbakar akibat dilempar molotov
Penampakan bagian rumah yang terbakar akibat dilempar molotov (Foto: Istimewa)
Bandung -

Teriakan seorang nenek membangunkan Desta Pancaputra pada dini hari. Bukan tanpa alasan, neneknya mendadak berteriak memanggil namanya setelah mengetahui rumah yang ditempatinya bersama orang tua Desta terbakar. Belakangan, keluarga mengetahui rumah di wilayah Ranca Tungku, Kecamatan Pameungpeuk, Kabupaten Bandung, itu diduga menjadi sasaran teror lemparan bom molotov.

Peristiwa yang terjadi pada Minggu (18/10/2026) sekitar pukul 03.45 WIB tersebut membuat keluarga panik. Rumah yang menjadi sasaran diketahui dihuni orang tua serta kakek dan nenek Desta, founder Gerakan Indonesia Emas (GIE).

Keluarga sempat khawatir rumah tersebut habis dilalap api. Beruntung, kobaran api berhasil dipadamkan dengan bantuan warga sekitar yang saat itu masih terjaga.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jadi pas dini hari itu nenek saya tiba-tiba berteriak, 'Desta, Desta!' Lalu saya langsung keluar rumah untuk menanyakan apa yang terjadi. Nenek saya tampak dengan raut wajah yang betul-betul ketakutan dan berkata bahwa rumahnya terbakar," kata Desta kepada awak media.

Desta mengaku pikirannya langsung kacau ketika mendengar kabar tersebut. Ia membayangkan rumah neneknya sudah hangus terbakar, terlebih rumah itu juga menjadi tempat tinggal orang tuanya.

ADVERTISEMENT

"Pada saat itu, pikiran saya langsung kacau, yang ada di dalam benak saya, rumah nenek saya sudah betul-betul hangus terbakar. Jadi itu rumah nenek saya sekaligus kediaman orang tua saya, alhamdulillah, puji Tuhan, api telah berhasil dipadamkan berkat bantuan warga sekitar," jelasnya.

Usai kejadian, Desta memutuskan menelusuri rekaman kamera CCTV di sejumlah titik untuk mencari petunjuk. Ia menduga dua pengendara sepeda motor yang terekam kamera memiliki kaitan dengan insiden tersebut.

"Jadi saksi melihat sepeda motor yang berada di sekitar TKP. Kecurigaan saya diperkuat setelah rekaman CCTV di beberapa titik memperlihatkan keberadaan dua pengendara misterius yang diduga kuat sebagai pelaku pelemparan bom molotov," ucapnya.

Polisi Olah TKP dan Periksa Saksi

Peristiwa tersebut kemudian dilaporkan keluarga korban ke Polsek Pameungpeuk, Polresta Bandung. Polisi bergerak melakukan penyelidikan dengan mendatangi lokasi kejadian dan mengumpulkan barang bukti.

Kapolsek Pameungpeuk AKP Saep Balya mengatakan, petugas telah melakukan pengecekan dan olah tempat kejadian perkara (TKP) bersama tim Inafis Polres.

"Iya benar kemarin kita sudah melakukan cek TKP dan olah TKP, kebetulan kita bersama dari Inafis Polres juga," ujar Saep kepada awak media, Rabu (21/10/2026).

Saep mengatakan, kasus dugaan penyerangan tersebut masih dalam tahap penyelidikan. Polisi juga telah meminta keterangan sejumlah saksi untuk mengungkap peristiwa itu.

"Kami masih penyelidikan. Pemeriksaan saksi-saksi sudah kita lakukan," katanya.

Sejumlah Barang Rusak, Keluarga Trauma

Selain menimbulkan kepanikan, insiden tersebut menyebabkan sejumlah bagian rumah mengalami kerusakan. Beberapa barang dilaporkan terbakar, termasuk kursi dan pakaian. Kaca pintu rumah juga pecah akibat terkena serpihan bom molotov.

"Jadi dampak yang kami dan keluarga alami tentu secara materil, seperti kursi yang terbakar, beberapa pakaian di belakang yang hangus, serta kaca pintu rumah yang pecah berkeping-keping. Namun, kerugian terbesar bagi saya pribadi bukanlah hal-hal tersebut, melainkan rasa trauma mendalam yang dialami oleh orang tua saya, terutama kakek dan nenek saya," kata Desta.

Menurut Desta, sebelum kejadian, keluarganya tidak merasakan adanya hal mencurigakan di lingkungan sekitar. Namun, ia mengungkapkan bahwa salah seorang pamannya pernah mengalami teror pembakaran dengan modus serupa sekitar 10 hari sebelumnya.

"Jadi paman saya kemarin-kemarin pernah menjadi sasaran teror pembakaran dengan modus dan alat yang hampir serupa menggunakan botol berisi bensin," ungkapnya.

Rentetan kejadian tersebut membuat Desta menduga ada motif tertentu di balik teror yang menimpa keluarganya. Ia meyakini peristiwa itu berkaitan dengan aktivitasnya dalam menyuarakan keresahan masyarakat, terutama di Kabupaten Bandung.

Meski demikian, Desta mengaku belum bisa menunjuk pihak tertentu yang diduga bertanggung jawab atas kejadian tersebut.

"Ketika ditanya siapa pihak yang kami duga melakukan pembakaran ini, saya tidak bisa menyebutkan pihak yang spesifik. Namun, saya meyakini kuat bahwa motifnya adalah alasan politis. Secara individu, saya adalah orang yang tidak suka mencari masalah dengan orang lain. Akan tetapi, karena saya aktif menyuarakan keresahan masyarakat, khususnya di Kabupaten Bandung, alasan politis inilah yang paling kuat saya duga menjadi dalang di balik pembakaran ini," tegasnya.

Kakek dan Nenek Akan Mengungsi Sementara

Demi mengantisipasi kemungkinan terjadinya teror susulan, keluarga Desta memutuskan meningkatkan kewaspadaan. Salah satu langkah yang direncanakan adalah memindahkan kakek dan neneknya untuk sementara waktu ke rumah saudara.

"Tapi kakek dan nenek saya rencananya akan diajak tinggal sementara bersama saudara. Untuk keamanan juga," bebernya.

Desta juga menyampaikan pesan kepada pihak yang merasa terganggu dengan aktivitas dan kritiknya agar tidak menggunakan kekerasan. Menurutnya, kritik yang disampaikan merupakan bentuk kepedulian terhadap kondisi daerah dan keinginan untuk mendorong perubahan.

"Kepada siapapun yang menjadi dalang di balik kasus ini, kritikan saya bukanlah kebencian, melainkan bentuk rasa peduli. Saya menginginkan sebuah perubahan untuk kemajuan daerah maupun pusat. Itu sebetulnya yang saya inginkan. Tolong, ketika saya mengkritik, cukup dengarkan apa yang saya suarakan atau wujudkan aspirasi tersebut. Dan saya meminta agar tindakan-tindakan pengecut seperti ini tidak pernah terjadi lagi kepada siapapun dan di manapun," ucapnya.

Di sisi lain, Desta mengapresiasi langkah kepolisian yang telah melakukan olah TKP dan mengumpulkan barang bukti. Ia berharap penyelidikan segera membuahkan hasil sehingga pelaku dan motif di balik dugaan teror tersebut dapat terungkap.

"Iya pihak kepolisian tentu sudah mengumpulkan seluruh barang bukti, lalu meminta dukungan serta doa agar kasus ini bisa segera terungkap. Pertama, siapa pelakunya, dan kedua yang tidak kalah penting adalah apa motif dari pelaku ini. Pihak kepolisian juga menyampaikan agar kita tidak khawatir. Meskipun perkara ini tergolong sulit, jika ada sinergi antara aparat, warga, dan korban, insyaallah dalam waktu sesegera mungkin kasus ini akan segera terungkap," tuturnya.

Diketahui, Desta Pancaputra merupakan warga Kabupaten Bandung sekaligus founder Gerakan Indonesia Emas (GIE). Melalui media sosial, ia kerap menyampaikan kritik dan menyoroti berbagai persoalan yang terjadi di masyarakat.

Sejumlah isu yang menjadi perhatian GIE di antaranya kebijakan Bupati Bandung, tata kelola Pemerintah Kabupaten Bandung, serta persoalan lingkungan. Gerakan tersebut juga menyoroti berbagai isu di tingkat provinsi hingga pemerintah pusat.

Selain menyampaikan kritik, Desta melalui akun Instagramnya juga kerap mengunggah kegiatan solidaritas sosial. Kegiatan tersebut di antaranya membagikan makanan dan pakaian hasil donasi kepada masyarakat yang membutuhkan.

(yum/yum)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads