Pak Jokowi-Ridwan Kamil Tolong! Pria Sukabumi Disekap di Laos

Siti Fatimah - detikJabar
Selasa, 09 Agu 2022 12:08 WIB
Ilustrasi kasus Human Trafficking
Ilustrasi human trafficking (Foto: Ilustrator: Luthfy Syahban)
Sukabumi -

AF (28) pria asal Kecamatan Citamiang, Kota Sukabumi diduga menjadi korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO) atau penipuan penyalur kerja ke Laos. Dia curhat di media sosial terkait kondisinya di sana dan berharap mendapatkan pertolongan.

Dilihat detikJabar, AF membuat status di Facebook soal pekerjaannya di Laos. Dia mengaku tidak bisa ke luar gedung tempatnya tinggal dan kesulitan untuk makan.

"Minta doanya dan sharenya mumpung ada koneksi karena komunikasi dibatasi. Saya dan teman saya jadi korban perdagangan manusia di Laos," tulis AF dikutip, Selasa (9/8/2022).


Lebih lanjut, ia juga menceritakan kronologi singkatnya bisa menjadi korban TPPO. Mulanya ia ditawari pekerjaan ke Thailand namun ternyata dipindahkan ke Laos.

"Kronologi mau dipekerjakan di Thailand malah disebrangkan ke Laos lewat sungai Mekong, di gedung ini saya tidak bisa keluar dan dikurung, mau makan pun susah karena mengandung babi. Jadi susah makan," ujarnya.

Dalam postingan itu, ia juga men-tag beberapa pejabat negara mulai dari Polres Sukabumi Kota, Gubernur Jabar Ridwan Kamil hingga Presiden Joko Widodo.

"Semoga pihak Divisi Humas Polri Polres Sukabumi bisa menolong saya teman saya dan warga Indonesia di sini yang terjebak jadi korban perdagangan orang bisa keluar dari gedung ini. Ridwan Kamil, Presiden Joko Widodo, Kepala BP2MI RI, Humas Polres Sukabumi Kota," lanjutnya.

Dihubungi terpisah, AF membenarkan kondisi tersebut. Sehari-hari ia hanya makan nasi karena lauk pauk yang tersedia dilarang oleh agama yang dianutnya.

"Kebanyakan dikasih makannya sama daging babi, jadi saya milih makan nasi aja kadang kalau ada sayurnya baru sama sayur itu," kata AF saat dihubungi awak media.

Sambil menangis, dia ingin segera pulang ke Tanah Air karena merasa tertipu bekerja di luar negeri. "Ingin bisa pulang karena kerjaan di sini gelap, saya tidak sanggup," tuturnya.

Diketahui, AF bersama temannya berangkat dari Indonesia pada Selasa (2/8/2022) lalu. Keduanya naik pesawat dari Bandara Soekarno-Hatta tiba di Bangkok lalu ke Chiang Mai Thailand. Di sana mereka dibawa hingga ke tepian sungai Mekong perbatasan Thailand dan Laos.

Setibanya di Laos, mereka diberi tempat tinggal di sebuah apartemen. Di sana mereka bekerja sebagai pencari investor di situs aplikasi Trading.

Mulanya mereka minat bekerja di luar negeri karena diimingi-imingi dengan gaji besar hingga US$ 1.000 tapi ternyata dibawa ke Laos. Kini mereka berdua dan seorang warga Lampung berada dalam satu kamar dan tidak bisa kemana-mana.

Kondisi keduanya saat ini masih baik-baik saja. Namun menurut pengakuan AF, handphone pribadi dan dokumen pentingnya disita sejak Senin (8/8) kemarin.

"Tadi hp saya disita, ini komunikasi pakai hp perusahaan. Handphone yang dipegang saya ini untuk mencari investor-investor itu (buat nipu orang)," kata dia.

"Harapan saya mah hanya itu ada yang jemput, kita tidak bisa keluar dari gedung ini (apartemen), dan saya terancam kalo sebulan tidak dapat transaksi penjualan atau investor akan dijual ke perusahan lain," katanya.

(yum/yum)