7 Fakta Sungai Citarum, Sempat Jadi Sungai Terkotor di Dunia

Cornelis Jonathan Sopamena - detikJabar
Selasa, 09 Agu 2022 08:15 WIB
Foto udara Sungai Citarum yang menjadi perbatasan antara Kabupaten Bandung Barat dengan Kabupaten Cianjur di Haurwangi, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Selasa (25/1/2022). Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui Dinas Lingkungan Hidup berharap agar program Citarum Harum dapat membantu Indonesia dalam upaya perbaikan untuk penurunan emisi karbon dioksida. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/rwa.
Sungai Citarum (Foto: ANTARA FOTO/RAISAN AL FARISI)
Bandung -

Memiliki panjang sekitar 297 kilometer dan melalui 13 wilayah kabupaten/kota, Sungai Citarum merupakan sungai terpanjang dan terbesar di Provinsi Jawa Barat. Sungai ini juga menjadi sumber air yang paling diandalkan bagi masyarakat.

Sempat viral karena menjadi sungai paling kotor di dunia, Sungai Citarum kini mulai dibenahi dan perlahan membaik. Berikut 7 fakta yang dirangkum detikJabar tentang Sungai Citarum.

1. Sempat Menjadi Sungai Terkotor di Dunia

Pada 2018 lalu, Sungai Citarum dinobatkan sebagai sungai terkotor di dunia. Menurut Deputi SDM, Iptek, dan Budaya Maritim, Kemenko Kemaritiman, Safri Burhanuddin pada detikcom, terdapat 1.900 industri di sekitar daerah aliran sungai (DAS) Citarum dengan 90 persen diantaranya memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang tidak memadai.


Selain itu, Sungai Citarum juga disuplai 20.462 ton sampah rumah tangga per harinya dengan 71 persen diantaranya tidak terangkut sampai ke tempat pembuangan akhir (TPA).

Hal tersebut tentu menjadi dilema besar bagi penghuni dan perusahaan yang berada di sekitar DAS Citarum. Pasalnya, seluruh industri dan pabrik di sekitar sungai tersebut menjadi sumber penghasilan dan pekerjaan warga sekitar Citarum, sedangkan pabrik tersebut menyumbang 340.000 ton limbah cair per harinya.

2. Erat dengan Kerajaan Kuno

Dilihat dari peninggalan prasasti dan situs sejarahnya, Citarum berkaitan erat dengan Kerajaan Tarumanegara. Aktivitas permukaan di bagian hilir pada masa lampau pun ditunjukkan melalui beberapa komplek bangunan kuno seperti Situs Batujaya dan Situs Cibuaya.

Selain itu, ditemukan juga Prasasti Ciaruteun yang merupakan batu peringatan dari kerajaan tersebut sekitar abad 5 Masehi. Prasasti ini memiliki bentuk tapak kaki Raja Purnawarman. Prasasti bertuliskan huruf Palawa berbahasa sansekerta tersebut ditemukan pada 1863.

3. Batas Wilayah Kerajaan

Setelah Kerajaan Tarumanegara pecah pada sekitar 650 Masehi, muncul dua kerajaan baru di area Jawa Barat, yaitu Kerajaan Sunda yang berpusat di Pakuan Pajajaran (kini Bogor) dan Kerajaan Galuh yang berpusat di Ciamis. Uniknya, Sungai Citarum menjadi batas diantara kedua kerajaan tersebut.

4. "Tulang Punggung" Warga

Sungai Citarum menjadi peran yang sangat penting bagi kehidupan banyak warga di area Jawa Barat dan sekitarnya, terutama masyarakat yang tinggal di samping DAS Citarum. Pasalnya, air dari Sungai Citarum digunakan sebagai irigasi pertanian, sumber pembangkit tenaga listrik, pemasok air untuk kegiatan industri, dan masih banyak lagi.

Pesatnya pertumbuhan warga di sekitar aliran Sungai Citarum juga memiliki dampak pada DAS tersebut. Berbagai dampak negatif pun timbul dari ketidakselarasan pesatnya perkembangan kegiatan pembangunan dengan pelestarian dan pengelolaan lingkungan hidup.

5. Korban Pencemaran Industri

Bahkan dari sebelum Sungai Citarum divonis sebagai sungai terkotor di dunia, DAS tersebut mulai memiliki kondisi mengkhawatirkan pada 2010-an. Kala itu, sungai selalu mengalami banjir saat musim penghujan dan kekeringan saat musim kemarau.

Fenomena tersebut sekaligus menunjukkan telah terjadinya kerusakan di DAS tersebut. Dinilai memasuki kondisi kritis, terutama di bagian hulu, kondisi DAS tersebut menurunkan kemampuan daya dukung pasokan air.

6. Berangsur Pulih Kembali

Disebut sebagai sungai paling kotor di dunia tentu menjadi hal yang memalukan bagi Indonesia dan Sungai Citarum itu sendiri. Oleh karena itu, pemerintah pun mulai menggencarkan berbagai upaya untuk mengembalikan ekosistem yang bagus dan alami dari Sungai Citarum, salah satunya melalui Program Citarum Harum.

Program itu pun menjadi tindak lanjut dari amanat Presiden Joko Widodo melalui Perpres No 15 Tahun 2018 tentang Percepatan Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Daerah Aliran Sungai Citarum. Ridwan Kamil pun menyatakan bahwa harus ada progres sebanyak 15-20 persen per tahunnya untuk bisa mengembalikan Sungai Citarum seperti sedia kala.

7. Diselimuti Mitos

Menjadi salah satu sungai dengan nilai historis kuat tentu tidak dapat dilepaskan dari mitos dan kepercayaan masyarakat sekitar. Berbagai ikan di Sungai Citarum sendiri dipercaya akan mendadak hilang jika ada mayat di aliran sungai tersebut.

Sebelumnya, sempat ditemukan dua mayat tanpa busana di Sungai Citarum pada 22 Maret dan 11 April 2022. Penjala ikan di area situ, Asep Suhendra (54) juga sempat bercerita pada detikJabar terkait mitos tersebut. Biasanya, ia dapat menjala 3 kilogram ikan setiap harinya. Ketika ada mayat, menjala 2 ekor per hari pun menjadi sebuah tantangan.

(iqk/iqk)