Serba-serbi Warga

Secuil Kisah Kurir Paket Sukabumi: Sortir Barang di Pekuburan

Siti Fatimah - detikJabar
Selasa, 09 Agu 2022 08:00 WIB
Kurir paket menyortir barang di i TPU Taman Rohmat , Kota Sukabumi
Kurir paket menyortir barang di i TPU Taman Rohmat , Kota Sukabumi (Foto: Siti Fatimah/detikJabar)
Sukabumi -

Belanja online sudah menjadi kebiasaan masyarakat di manapun dan kapan pun. Di balik paket yang sampai ke depan pintu rumah kita, tentu ada sekelumit perjalanan sang kurir dalam mengantarkan puluhan bahkan ratusan paket.

Siang itu, angin sepoi-sepoi di TPU Taman Rohmat jadi tempat penyortiran paket ke Kecamatan Kadudampit, Kabupaten Sukabumi. Belasan kurir terlihat menggelar terpal dan menumpahkan puluhan paket di atasnya.

"Nyortir paket teh (sapaan untuk perempuan Sunda), adem di sini, dipisah per RT," kata Irfan (34) salah satu kurir yang ditemui detikJabar di TPU Taman Rohmat, Citamiang, Kota Sukabumi beberapa waktu lalu.


Irfan mengatakan, paket itu tiba ke gudang penyimpanan pada pagi hari. Di gudang, petugas sudah memisahkan per kecamatan, lalu dipisah lagi per desa. Biasanya, kata dia, satu desa ditangani oleh satu orang kurir yang bertanggung jawab mengantarkan paket ke customer.

"Mulai dari RT 1 jadi sejalur, antar paketnya berurutan. Rata-rata 80 paket per orang (kurir) tapi kadang bisa lebih 150, apalagi pas lebaran lebih banyak," ujarnya.

Kurir paket menyortir barang di i TPU Taman Rohmat , Kota SukabumiKurir paket menyortir barang di i TPU Taman Rohmat , Kota Sukabumi Foto: Siti Fatimah/detikJabar

Satu tahun lebih ia menggeluti profesi sebagai kurir paket. Mayoritas paket yang diantarnya menggunakan sistem cash on delivery (COD). Jadi setelah selesai mengantarkan paket, Irfan kembali ke kantor untuk menyerahkan setoran uang tunai.

Upah dari antar paket itu dihitung harian. Per harinya, Irfan mendapatkan gaji sebesar Rp 121 ribu untuk kebutuhan keluarga termasuk bensin motor.

"Per hari Rp 121 ribu, bensin sendiri. Libur tergantung kita, bisa full sebulan tapi saya ambil libur terus. Minimal antar paket 80 ke atas, paling sedikit 50," ucapnya.

Iwong (40) kurir lainnya juga ikut bercerita saat ditanya lika-liku menjadi pengantar paket. Kurir memiliki target untuk mengantar paket selesai dalam satu hari.

"Target hari ini harus beres, kita dikejar perform. Ada cancel-an dua itu ngaruh. Di akhir bulan biasanya ada penilaian," kata Iwong.

Berbeda dengan Irfan, Iwong bekerja sejak pagi di gudang penyimpanan daerah Jalan Jalur Lingkar Selatan, Kota Sukabumi. Dia menyortir barang per kecamatan dan desa, baru dibagikan ke anak-anak di lapangan.

"Ada (kurir) yang baru bawa paket 50 itu bisa selesai 8 jam. Kalau yang lama bisa 2-3 jam beres 100 paket. Saya kerjanya dari pagi, pas datang langsung sortir, per kecamatan, per desa baru dibagiin ke anak-anak," ungkapnya.

Selama 3 tahun menjadi pengantar paket, Iwong melewati berbagai macam drama. Dia menceritakan, pernah suatu ketika ada customer yang ingin membatalkan orderan COD.

"Minta paket dibatalkan, sebetulnya di ekspedisi enggak bisa di-cancel, paling kita kasih pengertian jangan gitu lagi. Soalnya di kita 99 persen COD," tuturnya.

Dia juga seringkali harus merogoh kocek untuk menyelesaikan selisih uang tunai yang didapat dari mengantarkan paket. "Nomboknya gini, satu paket hilang terus paket salah nyebut harga, harusnya Rp 75 ribu jadi Rp 57 ribu karena capek, lieur, kepanasan kehujanan lah atau ada juga paket harusnya failed itu disukseskan," jelasnya.

Selain itu, tanggung jawab kurir juga semakin besar saat ada customer yang membayar paket dengan harga yang fantastis. Bahkan, ia pernah membawa uang tunai hingga Rp 25 juta.

"Itu mah tanggung jawab kita. Ada satu paket Iphone harga Rp 25 juta itu si konsumennya nggak tahu gimana ya bayar cash. Bukan grogi tapi takut dijalannya gimana, apalagi daerah Kadudampit rawan kejahatan," kata dia.

Meski banyak drama dan tantangan, Iwong dan Irfan sama-sama menyukai pekerjaannya sebagai pengantar paket. Dia berharap, masyarakat dapat lebih mengerti dan menghargai pekerjaan pengantar paket.

"Ya keinginannya dapat customer yang pengertian ya. Kadang ada yang baik banget nerima paket ramah, kadang ada juga yang ngasih tip buat kurir," tutupnya.

(yum/yum)