ASN Bogor Dicecar soal Sumber Uang Suap untuk Pegawai BPK Jabar

Dony Indra Ramadhan - detikJabar
Senin, 08 Agu 2022 17:34 WIB
Suasana sidang
Foto: Suasana sidang kasus suap BPK Jabar (Dony Indra Ramadhan/detikJabar).
Bandung -

Jaksa KPK kembali menghadirkan saksi ASN dalam sidang kasus suap yang dilakukan oleh Bupati Bogor nonaktif Ade Yasin kepada pegawai Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Jabar. Salah satu saksi bercerita soal proses pengumpulan uang untuk pegawai BPK.

Salah satunya diungkapkan Ruli Fathurahman. Pria menjabat sebagai Kasubbag Penatausahaan Keuangan Setda Pemkab Bogor ini mengaku pernah diminta oleh Ihsan Ayatullah untuk mencari uang. Uang tersebut nantinya akan digunakan untuk memberi kepada pegawai BPK Jabar.

"Pada 12 Januari 2022, sebenarnya (saya) pernah menyerahkan uang Rp 10 juta kepada Ihsan Ayatullah ditujukan untuk Hendra, dia dari BPK. (Rp 10 juta itu) uang pribadi saya," kata Ruli saat bersaksi dalam persidangan yang berlangsung di Pengadilan Tipikor Bandung, Jalan LLRE Martadinata, Senin (8/8/2022) sore.


Hendra yang dimaksud, yakni Hendra Nur Rahmatullah Kartiwa pegawai BPK. Sedangkan Ihsan Ayatullah merupakan Kasubbid Kas Daerah BPKAD Bogor.

Hakim lantas menanyakan soal pemberian uang yang dilakukan pada 7 Maret 2022. Sebagaimana dakwaan, ada pemberian uang berlokasi di parkiran pedagang sate kiloan di Babakan Madang, Sentul. Saat itu, disebutkan atas arahan Ihsan Ayatullah, Unu Nuriman dan Ruli menyerahkan uang Rp 100 juta yang masing-masing Rp 50 juta.

Ruli tak menampik adanya penyerahan tersebut. Menurut dia, pemberian itu atas dasar permintaan Ihsan Ayatullah.

"Ihsan mengatakan, BPK butuh uang, carikan uang. Saya yang mencari, uang (Rp) 50 (juta) itu saya (dapat dari) pinjam," kata Ruli.

Hakim lantas menanyakan maksud dari pemberian tersebut. Namun, Ruli mengaku tidak tahu menahu. Atas hal itu, Hakim tak percaya dan langsung meminta agar Ruli berkata jujur.

"Masa tidak tahu, harusnya saudara jujur, pengecut bapak ini, kelihatan bohongnya. Untuk apa?" kata hakim.

"Mungkin untuk pemeriksaan," kata Ruli menjawab.

"Jangan jawab mungkin, kalau tahu ya tahu, kalau tidak ya tidak. Saudara ini pendidikan tinggi tapi tidak jujur," kata hakim lagi.

"Saya jujur yang mulia," ujar Ruli.

(dir/mso)