Herry Wirawan Mau Tanggung Jawab, Keluarga Keburu Tak Simpati

Dony Indra Ramadhan - detikJabar
Selasa, 05 Apr 2022 14:31 WIB
Terpidana kasus kekerasan seksual terhadap anak Herry Wirawan berjalan dalam ruangan untuk  menjalani sidang vonis di Pengadilan Negeri Bandung, Jawa Barat, Selasa (15/2/2022). Majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Bandung menjatuhkan vonis pidana seumur hidup kepada Herry Wirawan atas kasus pemerkosaan 13 santriwati dibawah umur sekaligus diminta membayar restitusi (santunan) kepada para korban. ANTARA FOTO/Novrian Arbi/foc.
Herry Wirawan (Foto: ANTARA FOTO/NOVRIAN ARBI)
Bandung -

Itikad baik Herry Wirawan terhadap 13 santriwati korban pemerkosaan turut terungkap dalam putusan hakim. Herry disebutkan berusaha meminta maaf kepada korban hingga orang tuanya.

Hal itu termasuk di dalam kontra memori banding yang diajukan Herry Wirawan melalui kuasa hukumnya. Kontra memori banding diajukan Herry untuk mengimbangi banding yang diajukan jaksa.

Dalam dokumen putusan yang diterima detikJabar, kontra memori banding itu turut diungkapkan. Herry disebutkan hendak meminta maaf kepada korban dan juga keluarga korban.


"Bahwa sejak perkara aquo ini bergulir diproses hukum, terdakwa kehilangan kesempatan memperbaiki, menyelesaikan masalah ini. Terdakwa telah direnggut paksa, dipisahkan dengan anak kandungnya bayi-bayi santriwati-santriwati yang dimaksud perkara aquo," ujar hakim yang diketuai Herri Swantoro itu sebagaimana dilihat detikJabar, Selasa (5/4/2022).

Dalam dokumen itu juga tertulis bila Herry Wirawan hendak meminta maaf dan bertanggung jawab. Namun upaya itu gagal setelah keluarga korban tidak simpati lagi terhadap Herry.

"Terdakwa berusaha meminta maaf terhadap saksi anak korban maupun keluarganya serta mau bertanggungjawab. Namun kesempatan tersebut pupus karena baik isteri terdakwa, saksi anak korban dan orang tua saksi anak korban sudah tidak simpati lagi dengan terdakwa sejak perkara ini bergulir," katanya.

"Berbeda ketika perkara aquo belum bergulir ketika masih guyub selama bertahun tahun suka cita dalam satu atap di pesantren Manarul Huda," tutur hakim menambahkan.

Sekedar diketahui, Herry dituntut hukuman mati oleh Jaksa. Akan tetapi, dalam vonis, hakim memvonis Herry dengan hukuman penjara seumur hidup.

"Mengadili, menjatuhkan pidana kepada terdakwa oleh karena itu dengan pidana penjara seumur hidup," ucap hakim.

Hakim menilai perbuatan Herry Wirawan telah terbukti bersalah sesuai dengan Pasal 81 ayat (1), ayat (3) Dan (5) jo Pasal 76.D UU RI Nomor 17 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak jo Pasal 65 ayat (1) KUHP sebagaimana dakwaan pertama.

Jaksa mengajukan banding atas vonis seumur hidup yang diberikan majelis hakim terhadap Herry Wirawan. Jaksa meyakini, hukuman mati patut diberikan atas perbuatan Herry memperkosa 13 santriwati.

Di tingkat banding, hukuman Herry Wirawan diperberat menjadi hukuman mati.

"Menerima permintaan banding dari jaksa/penuntut umum. Menghukum terdakwa oleh karena itu dengan pidana mati," ucap hakim PT Bandung yang diketuai oleh Herri Swantoro sebagaimana dokumen putusan yang diterima, Senin (4/4/2022).

(dir/yum)