Sejarah Kenapa Nasi Jamblang Dibungkus Daun Jati

Zaenab Nurhabibah - detikJabar
Minggu, 25 Okt 2026 09:00 WIB
Nasi jamblang (Foto: iStock)
Cirebon -

Nasi jamblang menjadi salah satu kuliner khas Cirebon dan salah satu ikon Kota Udang populer yang mudah dikenali dari cara penyajiannya.

Berbeda dari penyajian kuliner nasi pada umumnya, nasi jamblang Cirebon disajikan dengan dialasi atau dibungkus menggunakan daun jati. Bukan tanpa alasan, ternyata penggunaan daun jati tersebut berkaitan dengan sejarah panjang makanan ini sejak masa kolonial Belanda.

Sega jamblang atau nasi jamblang juga telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia pada 2023 oleh Kemendikbudristek, penetapan tersebut menjadi bagian dari pengakuan terhadap kekayaan budaya kuliner Jawa Barat.

Lalu kenapa nasi jamblang Cirebon dibungkus menggunakan daun jati? Berikut sejarah dan alasan di balik ciri khas nasi jamblang yang sudah detikJabar rangkum.

Sejarah Nasi Jamblang Cirebon

Mengutip dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Cirebon, nasi jamblang diperkirakan telah ada sejak 1847. Kemunculannya berkaitan dengan pembangunan infrastruktur dan fasilitas industri pada masa pemerintahan kolonial Belanda.

Saat itu, pembangunan Pabrik Gula Gempol dan Pabrik Spiritus Palimanan membutuhkan banyak tenaga kerja. Sebagian warga bekerja sebagai buruh pabrik maupun pekerja kasar dan harus berangkat sejak pagi buta, terutama jika tempat tinggalnya jauh dari lokasi pekerjaan.

Persoalannya, para pekerja kesulitan mendapatkan makanan untuk sarapan. Penjual nasi pun masih terbatas, sementara bekal yang dibawa dari rumah tidak selalu dapat bertahan lama selama perjalanan dan jam kerja.

Melihat kondisi tersebut, seorang dermawan asal Desa Jamblang bernama Haji Abdulatif bersama istrinya, Ny. Tan Piaw Lun yang juga dikenal sebagai Mbah Pulung, berinisiatif menyediakan nasi bungkus beserta lauk pauk untuk para pekerja.

Makanan tersebut awalnya dibagikan secara cuma-cuma sebagai bentuk sedekah dan banyak pekerja yang datang untuk mendapatkan makanan, namun tak sedikit para pekerja yang memberikan bayaran karena tidak ingin membebani. Meski awalnya uang tersebut tidak diterima oleh Mbah Pulung, pada akhirnya Mbah Pulung membiarkan para pekerja tersebut memberikan uang seikhlasnya sebagai bentuk terima kasih.

Dari kebiasaan tersebut, nasi bungkus yang semula menjadi bekal sedekah perlahan berkembang menjadi sajian yang dijual kepada masyarakat.

Kenapa Nasi Jamblang Dibungkus Daun Jati?

Daun jati bukan sekadar pembungkus untuk mempercantik tampilan nasi jamblang, pemilihannya berkaitan dengan kebutuhan para pekerja yang memerlukan bekal praktis untuk dibawa bepergian dan dikonsumsi setelah beberapa waktu.

Dikutip dari detikJabar, daun jati memiliki tekstur yang cukup kuat dan tidak mudah robek. Karakter tersebut membuatnya sesuai untuk membungkus nasi dalam perjalanan. Selain itu, daun jati dipercaya membantu nasi tetap pulen dan tidak cepat kering. Daun ini juga memiliki aroma khas yang dapat menambah karakter pada nasi hangat.

Dibungkus Daun Jati, Ini Nikmatnya Nasi Jamblang Mang Dul Cirebon Foto: Andi Annisa DR/detikfood

Penggunaan daun jati akhirnya menjadi identitas nasi jamblang yang bertahan hingga sekarang. Ukuran nasinya pun umumnya relatif kecil, sekitar satu kepalan tangan, sehingga pembeli tak jarang mengambil beberapa bungkus sekaligus untuk dinikmati bersama aneka lauk.

Selain pembungkusnya, nasi jamblang juga terkenal dengan pilihan lauknya yang beragam. Pembeli biasanya bisa memilih lauk yang ditata di atas meja, sesuai selera dan porsi yang diinginkan.

Beberapa pilihan yang umum ditemukan antara lain sambal goreng, tahu kuah atau sayur tahu, tempe goreng, paru, telur, semur daging, ikan, hingga aneka olahan cumi. Sambal dan lauk berbumbu menjadi pelengkap yang membuat nasi jamblang terasa semakin khas.

Tradisi penyajian dengan beragam pilihan lauk ini juga membuat nasi jamblang cocok disantap kapan saja, baik untuk sarapan, makan siang, maupun makan malam.

Rekomendasi Warung Nasi Jamblang di Cirebon

Jika ingin mencicipi kuliner khas ini langsung di daerah asalnya, berikut beberapa tempat yang bisa masuk daftar wisata kuliner detikers.

1. Nasi Jamblang Ibu Nur

Nasi Jamblang Ibu Nur merupakan salah satu warung nasi Jamblang yang terkenal, warung ini dikenal dengan pilihan lauk yang beragam dan penyajiannya yang menyerupai prasmanan, menu yang bisa dicari antara lain cumi hitam atau balakutak hideung, paru goreng, dan sate kerang.

Berlokasi di Jl. Cangkring 2 No.34, Kejaksan, Kec. Kejaksan, Kota Cirebon, Nasi Jamblang Ibu Nur buka setiap hari pukul 07.00-20.30 WIB.

2. Nasi Jamblang Mang Dul

Nasi Jamblang Mang Dul juga bisa menjadi pilihan, tempat ini dikenal dengan menu seperti sayur tahu dan sambal goreng yang menjadi pelengkap nasi jamblang.

Berlokasi di Jl. DR. Cipto Mangunkusumo No.8, Pekiringan, Kec. Kesambi, Kota Cirebon, Nasi Jamblang Mang Dul setiap hari pukul 05.00-00.00 WIB, sehingga bisa menjadi alternatif untuk sarapan pagi atau penyelamat jika detikers merasa lapar tengah malam.

3. Nasi Jamblang Ibad Otoy

Nasi Jamblang Ibad Otoy disebut telah beroperasi sejak 1996, tempat ini menawarkan banyak pilihan lauk dengan harga yang relatif bersahabat.

Berlokasi di Jl. DR. Cipto Mangunkusumo, Pekiringan, Kec. Kesambi, Kota Cirebon, Nasi Jamblang Ibad Otoy buka setiap Selasa-Minggu pukul 07.00-22.00 WIB, sedangkan Senin tutup.

Jadi, nasi jamblang tak hanya sekedar makanan dan ikon khas Cirebon, tetapi juga bagian dari cerita kehidupan masyarakat sejak dulu.

Dari yang awalnya hanya berupa bekal sedekah bagi para pekerja hingga menjadi kuliner yang dikenal luas, penggunaan daun jati tetap menjadi ciri yang membedakan sega jamblang atau nasi jamblang dari sajian nasi lainnya.




(yum/yum)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork