Peta Bawang Merah Cirebon Berubah, Losari Kini Jadi Sentra Utama

Peta Bawang Merah Cirebon Berubah, Losari Kini Jadi Sentra Utama

Devteo Mahardika - detikJabar
Selasa, 13 Okt 2026 21:31 WIB
Red onions on wood board
Ilustrasi bawang merah (Foto: Getty Images/iStockphoto/greenp).
Cirebon -

Peta sentra produksi bawang merah di Kabupaten Cirebon terus mengalami perubahan dalam tiga tahun terakhir. Kecamatan Losari yang sebelumnya berada di bawah wilayah Pabedilan berhasil menempati posisi teratas sebagai daerah penghasil bawang merah terbesar pada 2025, dengan total produksi mencapai 85.629 kuintal.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Cirebon, sejumlah kecamatan menjadi penopang utama produksi komoditas hortikultura tersebut. Selain Losari dan Pabedilan, wilayah Pabuaran, Gebang, Waled, hingga Babakan turut memberikan kontribusi terhadap produksi bawang merah di daerah tersebut.

Perubahan posisi antar kecamatan menunjukkan bahwa produksi bawang merah di Kabupaten Cirebon cukup dinamis. Kondisi lahan, ketersediaan air, serta keberanian petani untuk menanam menjadi sejumlah faktor yang memengaruhi aktivitas budidaya di masing-masing wilayah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada 2023, Kecamatan Pabedilan menjadi penghasil bawang merah terbesar dengan produksi mencapai 90.400 kuintal. Posisi kedua ditempati Gebang dengan 86.780 kuintal, disusul Pabuaran sebanyak 64.440 kuintal.

ADVERTISEMENT

Sementara itu, Losari mencatat produksi 41.660 kuintal dan Waled sebanyak 18.010 kuintal.

Setahun kemudian, Pabedilan masih mempertahankan posisinya sebagai salah satu sentra utama dengan produksi 87.230 kuintal. Namun, Losari menunjukkan peningkatan signifikan hingga mencapai 82.600 kuintal.

Di sisi lain, produksi di Pabuaran tercatat 43.500 kuintal, Gebang 41.640 kuintal, dan Waled 22.310 kuintal.

Perubahan paling menonjol terjadi pada 2025. Losari berhasil mengambil alih posisi teratas dengan produksi 85.629 kuintal, sedangkan Pabedilan berada di urutan kedua dengan 71.700 kuintal.

Pabuaran menempati posisi berikutnya dengan produksi 49.308 kuintal. Babakan juga mulai masuk dalam jajaran lima besar dengan produksi 29.520 kuintal, sementara Gebang mencatat 26.100 kuintal.

Di tengah perubahan peta produksi tersebut, Kecamatan Pabuaran masih menjadi salah satu wilayah yang dipertahankan petani sebagai sentra budidaya bawang merah. Namun, ketersediaan air menjadi tantangan tersendiri bagi petani, terutama ketika sejumlah wilayah mulai menghadapi keterbatasan pasokan air untuk pertanian.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon, Deni Nurcahya mengatakan saat ini terdapat areal bawang merah seluas sekitar 60 hektare di Kecamatan Pabuaran yang baru memasuki usia tanam sekitar satu minggu.

Menurutnya, petani di Pabuaran masih berani melakukan penanaman karena sumber air dari sumur dalam masih tersedia. Kondisi tersebut berbeda dengan sejumlah wilayah lain, seperti Gebang, Babakan, dan Ciledug, yang menghadapi kendala ketersediaan air.

"Di Pabuaran masih berani menanam karena sumur dalamnya masih ada air. Sementara di Gebang, Babakan, dan Ciledug, petani belum berani karena terkendala air," ujarnya saat dikonfirmasi, Selasa (13/10/2026).

Deni menyebutkan, dalam satu musim tanam, luas areal budidaya bawang merah di Kabupaten Cirebon dapat mencapai sekitar 450 hektare. Produktivitasnya pun cukup menjanjikan, dengan hasil panen terakhir mencapai sekitar 16 ton per hektare.

Capaian tersebut menunjukkan bahwa bawang merah masih memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai salah satu komoditas unggulan pertanian Kabupaten Cirebon. Meski demikian, keberlanjutan produksi tetap bergantung pada kondisi lahan dan ketersediaan air selama masa budidaya.

Selain persoalan air, harga jual juga menjadi perhatian petani bawang merah. Deni menyebutkan, harga bawang merah di pasar saat ini berada di kisaran Rp22.000 per kilogram.

Sementara itu, petani menginginkan harga di tingkat lahan mencapai sekitar Rp20.000 per kilogram.

"Perbedaan harga tersebut menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam menjaga keberlangsungan usaha tani bawang merah. Sebab, petani tidak hanya menghadapi risiko produksi akibat cuaca dan ketersediaan air, tetapi juga harus memperhitungkan biaya budidaya hingga masa panen," terangnya.

Dengan potensi produksi yang tersebar di sejumlah kecamatan, pengembangan bawang merah di Kabupaten Cirebon masih terbuka lebar.

Ia menerangkan, dukungan ketersediaan air, keberlanjutan areal tanam, dan harga jual yang menguntungkan diharapkan dapat menjaga produktivitas sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.

Pergeseran posisi Losari dan Pabedilan dalam tiga tahun terakhir juga menjadi gambaran bahwa sentra produksi bawang merah tidak selalu menetap di satu wilayah.

"Kemampuan petani beradaptasi dengan kondisi lingkungan dan menjaga produktivitas lahan akan menjadi faktor penting dalam mempertahankan posisi Kabupaten Cirebon sebagai salah satu daerah penghasil bawang merah di Jawa Barat," pungkasnya.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Melihat Kondisi Sentra Produksi Pindang Salem di Tasikagung Rembang"
[Gambas:Video 20detik] (mso/mso)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads