Menjaga Denyut Tanah Liat di Jantung Sitiwinangun

Devteo Mahardika - detikJabar
Selasa, 13 Okt 2026 08:00 WIB
Perajin gerabag di Desa Sitiwinangun (Foto: Devteo Mahardika/detikJabar)
Cirebon -

Di sebuah sudut Kecamatan Jamblang, Kabupaten Cirebon, tanah liat bukan sekadar komoditas. Bagi masyarakat Desa Sitiwinangun, material bumi ini adalah napas kehidupan yang disulap menjadi deretan gerabah artistik, lengkap dengan ukiran khas yang membawa jejak panjang peradaban lokal.

Namun, suasana di sentra gerabah ternama Pantura ini tak lagi seriuh dulu. Ada kecemasan yang merayap di antara jemari para perajin. Keterampilan yang diwariskan lintas generasi kini dibayangi ancaman kepunahan seiring menyusutnya minat generasi muda untuk bergelut dengan lumpur dan tungku pembakaran.

Secara historis, Sitiwinangun adalah identitas yang kokoh. Kepala Dusun Desa Sitiwinangun, Sutrisno, mengisahkan bahwa nama desa ini mulai mencuat pada abad ke-19, diambil dari kata siti yang berarti tanah dan winangun yang bermakna dibangun. Namun, akarnya jauh lebih dalam. Sebelum nama itu lahir, kawasan ini dikenal sebagai Pedukuhan Kebagusan yang jejaknya bisa ditarik hingga abad ke-13, berkaitan erat dengan sosok leluhur Ki Buyut Kebagusan.

Sejarah ini juga berkelindan dengan sosok Pangeran Panjunan, tokoh kunci penyebaran Islam di Cirebon.

"Menurut kisah yang diwariskan secara turun-temurun, seni gerabah menjadi bagian dari perjalanan budaya masyarakat pada masa tersebut," ungkap Sutrisno saat ditemui pada Senin (12/10/2026).

Sayangnya, nilai historis yang tinggi tak menjamin kelanggengan jumlah pelakunya. Regenerasi menjadi momok yang nyata. Data menunjukkan penurunan yang cukup tajam; jika pada 2019 masih terdapat 72 perajin aktif, kini di tahun 2026, angka tersebut merosot hingga tersisa 49 orang saja.

"Sekarang jumlah perajin semakin menurun drastis sehingga dibutuhkan regenerasi yang perlu melanjutkan kesenian ini," paparnya dengan nada prihatin.

Menjadi perajin gerabah memang bukan perkara instan. Dibutuhkan ketajaman insting untuk memahami karakter tanah serta kesabaran ekstra dalam proses pembentukan. Padahal, gerabah Sitiwinangun memiliki keunggulan pada kualitas tanahnya yang solid dan tidak mudah pecah.

"Di sini juga bukan hanya gerabah polos aja, tapi juga ada gerabah dengan motif-motif tertentu yang hanya dimiliki oleh gerabah asal Sitiwinangun," terang Sutrisno.

Tak main-main, terdapat sedikitnya 27 ragam ukiran khas, mulai dari ornamen tumbuhan hingga motif api, yang menuntut ketelitian tingkat tinggi.

Proses produksinya pun adalah sebuah uji kesabaran. Dimulai dari tahap ngeleler atau membangun fondasi bentuk dengan campuran pasir sungai halus.

"Bedanya disini pakai pasir halus dengan teknik pembuatan yang di padatkan sehingga gerabah tidak mudah pecah," tambahnya.

Setelah dibentuk dan dikeringkan, gerabah memasuki tahap finishing dan pengukiran detail sebelum akhirnya dibakar selama tiga hingga empat jam dalam suhu mencapai 600 derajat Celsius.

"Keseluruhan proses pembuatan satu gerabah dapat memakan waktu hingga satu bulan, bergantung pada bentuk, ukuran, dan tingkat kerumitan produk," bebernya.

Di tengah gempuran produk rumah tangga modern, sosok Iskandar menjadi saksi hidup yang masih bertahan. Di usianya yang telah menginjak 80 tahun, ia tetap setia mencumbui tanah liat. Iskandar adalah legenda hidup, ia sudah mulai berkarya sejak era Presiden Soekarno.

Ia bahkan masih mengingat momen ketika Sang Proklamator menginjakkan kaki di Sitiwinangun untuk melihat langsung karya warga.

"Seingat saya dulu Pak Karno peenah kesini buat liat hasil gerabah," ucapnya singkat, mengenang masa keemasan itu.

Kini, Iskandar tak lagi berproduksi setiap hari secara masif. Ia hanya akan menggerakkan tangannya yang renta saat pesanan datang. Meski begitu, karyanya tetap diburu.

"Pesanan datang dari berbagai daerah mulai dari Banten, Bandung, Bogor, dan Jakarta," tuturnya.

Kisah dari Sitiwinangun ini adalah potret nyata tentang tradisi yang sedang bertarung melawan zaman. Di satu sisi, ada kekayaan motif dan kualitas bahan yang tak tertandingi. Di sisi lain, ada kenyataan pahit tentang jumlah perajin yang terus tergerus.

Masa depan gerabah Sitiwinangun kini berada di persimpangan jalan. Tanpa adanya tangan-tangan muda yang bersedia melanjutkan estafet ini, dikhawatirkan 27 motif ukiran indah itu kelak hanya akan menjadi catatan bisu dalam buku sejarah, sementara tanah Sitiwinangun kehilangan ruh seninya untuk selamanya.



Simak Video "Menguji Keberanian Melakukan Repling di Tebing Cupang, Cirebon"

(dir/dir)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork