Untuk menanggulangi masalah sampah di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Ciniru, Kuningan yang mengalami kelebihan kapasitas, Pemerintah Kabupaten Kuningan akan mendorong pengelolaan sampah berbasis masyarakat desa serta mengoptimalkan pemanfaatan gas metana dari timbunan sampah yang ada di TPA Ciniru.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kuningan, Usep Sumirat, memaparkan bahwa dalam menghadapi keterbatasan kapasitas dan sarana operasional TPA, DLH Kabupaten Kuningan mendorong pengelolaan sampah berbasis masyarakat melalui penguatan inisiatif di tingkat desa. Dari semula hanya sekitar dua desa, kini terdapat hampir 12 desa yang mulai mengembangkan pengelolaan sampah secara mandiri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pengembangan tersebut dilakukan melalui kerja sama antardesa, penguatan peran kepala desa, serta pemanfaatan fasilitas pengolahan sampah secara bersama. Menurutnya, skema ini dinilai dapat menjadi solusi untuk mengurangi volume sampah yang harus diangkut ke TPA sekaligus menekan kebutuhan investasi fasilitas di setiap desa.
Usep mengatakan bahwa keberhasilan pengelolaan sampah tidak semata-mata diukur dari banyaknya sampah yang diangkut pemerintah daerah, tetapi juga dari kemampuan masyarakat dan desa mengelola sampah secara mandiri dan bertanggung jawab.
"Kalau desa sudah mampu mengelola sampahnya sendiri, tentu itu yang kita harapkan. Selama sampah dapat diselesaikan di tingkat hulu dan tidak dibiarkan mencemari lingkungan, kemandirian desa perlu terus kita dukung," tutur Usep, Senin (12/10/2026).
Selain mendorong pengelolaan berbasis masyarakat desa, pihaknya juga akan memanfaatkan gas metana yang ada di tumpukan sampah TPA Ciniru. Menurutnya, gas metana yang ada dalam tumpukan sampah tersebut dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif untuk kebutuhan rumah tangga, khususnya masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan TPA.
Usep memaparkan uji coba pemanfaatan gas metana sebelumnya telah dilakukan dengan melibatkan sekitar 50 rumah tangga. Namun, pemanfaatannya saat ini masih terbatas akibat kendala instalasi dan kebutuhan penyesuaian jaringan pipa untuk rencana pengembangan berikutnya.
Sebagai tindak lanjut, DLH merencanakan pembangunan instalasi distribusi gas metana dengan menjajaki dukungan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR). Pengembangan tersebut ditargetkan dapat menjangkau sekitar 450 rumah tangga di kawasan sekitar TPA.
Pemanfaatan ini diharapkan tidak hanya mendukung pengurangan emisi dari timbunan sampah, tetapi juga memberikan nilai guna bagi sumber daya yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Sementara itu, dalam jangka menengah, pihaknya juga menyiapkan rencana pengembangan TPA menjadi Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) berbasis RDF, disertai pembangunan fasilitas TPS 3R Plus.
"Melalui skema tersebut, sampah diharapkan tidak seluruhnya langsung dibuang ke TPA, tetapi terlebih dahulu melalui proses pengurangan, pemilahan, dan pengolahan di tingkat hulu. Sementara itu, sampah yang memenuhi persyaratan dapat diolah menjadi RDF untuk dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif bagi industri," tutur Usep.
Baca juga: Kebakaran TPA Ciniru Kuningan Mulai Mereda |
Lewat berbagai macam upaya tersebut diharapkan persoalan TPA Ciniru yang kelebihan kapasitas dapat segera diatasi. Menurutnya, upaya mempertahankan kualitas lingkungan tidak hanya bertumpu pada kondisi alam, tetapi juga membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat dalam pengelolaan sampah, mulai dari tingkat rumah tangga.
"Yang kita perkuat adalah aspek sumbernya, termasuk mempertahankan rasio tutupan lahan dan menggerakkan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah. Dengan demikian, daya dukung alam di Kabupaten Kuningan dapat terus terjaga dan dioptimalkan," pungkas Usep.
Simak Video "Video: 'Revolusi Pengelolaan Sampah' ala Walkot Solo Respati Ardi"
[Gambas:Video 20detik] (mso/mso)
