Suasana Jalan Siliwangi pada Minggu (13/9/2026) tampak berubah. Jika biasanya dipenuhi kendaraan, kali ini Jalan Siliwangi dipenuhi oleh ribuan orang yang ikut terlibat dalam karnaval hari jadi Kuningan.
Pantauan detikJabar di lokasi memperlihatkan ribuan orang tersebut tampak memadati area jalan untuk menonton karnaval dengan tema 'Tumapak ka Jaman Baheula: Napak Tilas Kuningan'.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seperti dalam temanya, karnaval tersebut mengangkat napak tilas sejarah Kuningan. Karnaval tersebut terbagi dalam lima grup yang memiliki makna lima fase sejarah atau kondisi sosial di Kuningan. Grup pertama menampilkan pertunjukan modern seperti drum band, Paskibraka, TNI-Polri, atraksi pencak silat Yonif TP 839/Satria Abyakta, replika Kuda Putih dan angklung, Polisi Cilik, Mojang Jajaka, hingga drum band pelajar.
Grup kedua menghadirkan Kerajaan Saung Galah, TP PKK, Kesultanan Kasepuhan dan Kanoman, perwakilan daerah Kunci Bersama, BUMD dan pihak swasta, serta marching band pelajar.
Grup ketiga menjadi bagian utama napak tilas sejarah Kuningan, yakni berupa seni dan budaya yang mempertontonkan perjalanan panjang daerah, mulai dari masa prasejarah, pengaruh Hindu-Buddha, perkembangan Islam, masa kolonial Belanda, perjuangan kemerdekaan dan Perundingan Linggarjati, hingga Kuningan pada era kemerdekaan dan modern.
Pada grup keempat diisi lembaga pendidikan, perguruan tinggi, rumah sakit, komunitas, pertunjukan sulap hingga pementasan musik. Sedangkan grup kelima menampilkan angklung Universitas Muhammadiyah Kuningan, Banser NU, Barakuda, komunitas senam, paguyuban delman, serta kendaraan kreatif.
Salah satu peserta karnaval yang mencuri perhatian adalah dari Universitas Kuningan di mana peserta memakai kaus putih bertuliskan Segala Zaman Harus Bersih dan Semua Unsur Harus Jujur. Di belakangnya tampak alat musik menyala sambil menyerukan tentang pentingnya menjaga lingkungan.
Salah satu warga yang ikut menonton adalah Andri, siang itu di tengah teriknya panas sinar matahari, Andri bersama dengan teman-temannya tampak antusias menonton karnaval. Meski rela panas-panasan, bagi Andri hal itu tak masalah. Baginya acara karnaval tersebut tetap jadi tontonan yang menarik.
"Dari jam 7 di sini. Dari Ciporang. Kuningan, Datang bertiga sama teman teman. Seneng ada budaya gini. Bisa lihat reog kuda. Nggak papa panas panasan juga. Seneng," tutur Andri, Minggu (13/9/2026).
Senada dengan Andri, pengunjung lain, Rahman dari Cirebon memaparkan bahwa ia sengaja datang ke Kuningan untuk menonton karnaval. Meski harus rela panas-panasan dan berjalan kaki cukup jauh dari tempat parkir kendaraan ke pusat acara, Rahman tak masalah. Menurutnya, karnaval tersebut cukup seru dan menampilkan banyak pesan-pesan mengenai lingkungan.
Sementara itu, Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar memaparkan budaya ini tidak sekadar menjadi hiburan bagi masyarakat, tetapi juga menjadi momentum untuk mengingat kembali perjalanan sejarah dan budaya Kuningan. Menurutnya, masyarakat harus mampu mengikuti perkembangan zaman dan bergerak menuju kemajuan, namun harus tetap menjaga nilai-nilai sejarah, tradisi, dan budaya yang menjadi identitas daerah.
"Tradisi adalah akar, budaya adalah jati diri. Kita boleh modern, tapi kita tidak boleh lupa dan harus tetap mengingat jasa-jasa leluhur. Jati diri, tradisi harus jadi bagian hidup kita, masa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan datang," pungkas Dian.
(sud/sud)
