Cuaca Buruk, Aktivitas Lelang Ikan di TPI Cirebon Lesu

Cuaca Buruk, Aktivitas Lelang Ikan di TPI Cirebon Lesu

Ony Syahroni - detikJabar
Minggu, 06 Sep 2026 05:00 WIB
Suasana TPI Sambung Jaya Mulya di Desa Karangreja, Cirebon.
Suasana TPI Sambung Jaya Mulya di Desa Karangreja, Cirebon. (Foto: Ony Syahroni)
Cirebon -

Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Sambung Jaya Mulya di Desa Karangreja, Kecamatan Suranenggala, Kabupaten Cirebon, tak seramai biasanya. Faktor cuaca membuat nelayan mengurangi aktivitas melaut sehingga ikan yang masuk ke TPI untuk dilelang ikut berkurang.

Pantauan detikJabar di lokasi, Sabtu (5/9), aktivitas pelelangan ikan tampak sepi. Hanya terlihat sejumlah sepeda motor warga terparkir di sekitar TPI. Mereka datang untuk berbelanja ikan di pasar ikan yang berada di sekitar lokasi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketua TPI Sambung Jaya Mulya, Tarji mengatakan kondisi tersebut mulai terjadi sejak Juni. Cuaca yang tidak bersahabat membuat aktivitas nelayan tidak berjalan seperti biasanya.

"Itu sudah terjadi dari bulan 6 (Juni). Anginnya besar, gelombangnya besar," kata Tarji saat berbincang dengan detikJabar di TPI Sambung Jaya Mulya, Desa Karangreja, Sabtu (5/9/2026).

ADVERTISEMENT

Berkurangnya hasil tangkapan membuat aktivitas pelelangan di TPI ikut menurun. Dalam kondisi normal, pelelangan bisa berlangsung hampir setiap hari dengan nilai transaksi mencapai sekitar Rp18 juta sehari.

"Biasanya Rp18 juta per hari nilai transaksinya. Itu kalau kondisi normal," ujarnya.

Kini, pelelangan tidak lagi berlangsung setiap hari. Dalam sebulan, kegiatan lelang hanya sekitar tujuh kali, bergantung pada ada tidaknya hasil tangkapan yang masuk.

"Ya tetap ada, tapi cuma sedikit. Sebulan paling 7 kali. Tapi kita tetap standby," tuturnya.

Tarji mengatakan ikan sebenarnya masih ada. Namun, kondisi cuaca membuat ikan lebih sulit didapatkan. "Ikan mah sebenarnya ada, cuma susah nyarinya," katanya.

Berkurangnya pasokan ikan juga berdampak pada harga di pasar. Tarji mencontohkan harga balakutak yang biasanya Rp45 ribu-Rp50 ribu per kilogram kini mencapai sekitar Rp70 ribu per kilogram.

"Ya mahal, balakutak aja yang biasanya itu Rp45 ribu - Rp50 ribu, sekarang sampai Rp70 ribu per kilo," ujarnya.

Tarji menyebut kondisi seperti ini baru terjadi tahun ini. Pada tahun-tahun sebelumnya, ketika cuaca buruk, aktivitas di tempat pelelangan biasanya hanya berhenti selama beberapa hari.

"Ya paling dulu dua atau tiga hari stopnya," pungkasnya.

(sud/sud)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads