Pundi-pundi Cuan dari Pengolahan Sampah di KM 164 Tol Cipali Majalengka

Pundi-pundi Cuan dari Pengolahan Sampah di KM 164 Tol Cipali Majalengka

Erick Disy Darmawan - detikJabar
Sabtu, 05 Sep 2026 08:00 WIB
Pengolahan sampah di Rest Area KM 164 Tol Cipali Majalengka.
Pengolahan sampah di Rest Area KM 164 Tol Cipali Majalengka. (Foto: Erick Disy Darmawan/detikJabar)
Majalengka -

Sampah di Rest Area KM 164 Tol Cipali, Kabupaten Majalengka, tak sekadar berakhir di tempat pembuangan. Sampah yang dihasilkan pengunjung kini dipilah dan diolah menjadi sumber pendapatan sekaligus mendukung pemberdayaan masyarakat sekitar.

Manager Rest Area KM 164 Tol Cipali, Taufik Nurohman mengatakan, pengelolaan sampah dilakukan dengan konsep mini circular economy. Sampah dipilah sejak dari sumbernya menjadi organik, anorganik, dan residu.

Sampah anorganik seperti botol plastik dan material bernilai ekonomi lainnya dikumpulkan untuk kemudian dijual kepada pengepul. Sementara sampah organik dimanfaatkan sebagai pakan budidaya maggot.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Awalnya kita pilah dari sumbernya. Anorganik untuk pemberdayaan masyarakat, sedangkan organik untuk pakan maggot," kata Taufik kepada detikJabar, Jumat (4/9/2026).

Pengelolaan sampah anorganik tersebut bahkan telah mampu menciptakan lapangan pekerjaan bagi dua warga sekitar. Keduanya mendapat upah setara UMR Majalengka yang bersumber dari hasil penjualan sampah anorganik.

ADVERTISEMENT

"Alhamdulillah bulan ini kita sudah bisa memberdayakan dua orang dari masyarakat setempat dan bisa untuk menggaji karyawan. Gajinya UMR Majalengka," ujarnya.

Menurut Taufik, sampah anorganik yang dikumpulkan rata-rata menghasilkan sekitar Rp1,5 juta per pekan. Pengelolaan sampah anorganik ini telah berjalan sejak Mei 2026.

"Sampahnya dijual ke pengepul. Rata-rata Rp1,5 juta per minggu," ucapnya.

Nilai ekonomi juga diperoleh dari pengolahan maggot. Budidaya maggot mulai dijalankan sejak Juni 2026 dengan memanfaatkan sampah organik dari aktivitas di rest area.

Dalam sehari, kebutuhan sampah organik untuk budidaya maggot mencapai sekitar 12-15 kilogram. Dari proses tersebut, produksi maggot diperkirakan mencapai 20-30 kilogram dalam sebulan.

Sebagian maggot dimanfaatkan sebagai pakan ikan lele dan nila yang dibudidayakan di kawasan rest area. Sebagian lainnya dijual untuk kebutuhan pakan ikan, termasuk kepada toko pancing.

Pengolahan sampah di Rest Area KM 164 Tol Cipali Majalengka.Pengolahan sampah di Rest Area KM 164 Tol Cipali Majalengka. Foto: Erick Disy Darmawan/detikJabar

Maggot tersebut dijual dalam kemasan sekitar 45 gram dengan harga Rp4 ribu. Saat ini, produk maggot telah memasok sekitar empat toko dengan pendapatan sekitar Rp150 ribu per pekan.

"Kalau untuk maggot, kita sudah dijual keluar untuk di toko pancing, untuk pakan pancing. Satu cup 45 gram harganya Rp 4.000," ujar Taufik.

"Dari maggot sudah menghasilkan rata-rata Rp150 ribu per minggu. Saat ini yang kita suplai baru empat toko pancing," sambungnya.

Tak hanya itu, Taufik menjelaskan, maggot tersebut juga dimanfaatkan sebagai pakan ikan untuk mendukung ekosistem di tempatnya. Ikan yang dibudidayakan terdiri dari lele dan nila.

Hingga kini, budidaya tersebut telah melalui dua kali panen. Pada panen perdana, hasil ikan dibagikan kepada karyawan, khususnya mereka yang membantu pengelolaan tempat penampungan sampah (TPS) di rest area.

Ke depan, Taufik berencana memperbesar budidaya ikan dan menambah kapasitas bak maggot yang saat ini baru mempunyai delapan bak. Hasil budidaya ikan juga berpeluang dipasarkan kepada tenant yang berjualan di rest area.

"Ke depannya mungkin kita bisa berkolaborasi dengan tenant, sehingga lele yang kita produksi bisa dijual ke tenant di sini," tuturnya.

Sekedar diketahui, dalam sehari Rest Area KM 164 menghasilkan sekitar 800 kilogram sampah pada hari biasa. Volume tersebut meningkat menjadi sekitar 900 kilogram hingga 1 ton per hari saat long weekend.

Dengan sistem pemilahan dan pengolahan yang diterapkan, Taufik menyebut hanya sebagian sampah yang berakhir sebagai residu. Sekitar 40 persen dari total sampah disebut masih menjadi residu yang belum dapat diolah.

"Yang dibuang itu hanya residu. Dengan adanya ini sangat efektif, karena residu yang kita buang hanya sekitar 40 persen dari sampah keseluruhan," ujarnya.

Selain maggot dan ikan, hasil pengolahan juga dimanfaatkan untuk mendukung pertanian sederhana di kawasan rest area. Pupuk organik digunakan untuk tanaman seperti cabai, terong, dan tomat.

Bagi Taufik, pemilahan sampah bukan hanya persoalan mengurangi timbulan sampah. Lebih dari itu, sampah yang sebelumnya menjadi beban justru dapat diubah menjadi sumber ekonomi.

"Pemilahan ini sangat efektif, karena bisa untuk pemberdayaan masyarakat," pungkasnya.

(yum/yum)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads