195 Kasus Baru HIV di Cirebon, Kelompok LSL dan TBC Paling Rawan

195 Kasus Baru HIV di Cirebon, Kelompok LSL dan TBC Paling Rawan

Devteo Mahardika - detikJabar
Rabu, 02 Sep 2026 18:15 WIB
Ilustrasi HIV
Ilustrasi HIV. (Foto: iStock)
Cirebon -

Upaya menemukan kasus HIV secara dini di Kabupaten Cirebon masih menghadapi tantangan. Hingga periode Januari-Juli 2026, sebanyak 26.113 orang telah menjalani pemeriksaan HIV dari total target 48.466 orang.

Capaian tersebut baru mencapai sekitar 53 persen dari target pemeriksaan yang ditetapkan. Dari ribuan orang yang menjalani skrining, ditemukan 195 kasus terkonfirmasi positif HIV.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Yang menjadi perhatian, sebanyak 52 kasus di antaranya telah memasuki fase AIDS.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Cirebon, Mona Isabela Saragih mengatakan pemeriksaan HIV dilakukan terhadap sejumlah kelompok populasi yang menjadi sasaran skrining.

ADVERTISEMENT

Temuan kasus positif tersebut menunjukkan pentingnya memperluas pemeriksaan HIV, terutama kepada kelompok yang memiliki risiko penularan maupun masyarakat yang membutuhkan akses terhadap layanan deteksi dini.

"Berdasarkan data capaian pemeriksaan, pasien tuberkulosis (TBC) menjadi salah satu kelompok dengan temuan HIV positif cukup tinggi," ucapnya saat di konfirmasi, Rabu (2/9/2026).

Dari target pemeriksaan sebanyak 7.993 pasien TBC, baru 3.179 orang atau sekitar 39 persen yang telah menjalani tes. Dari pemeriksaan tersebut ditemukan 52 kasus positif HIV.

Sementara itu, kelompok Lelaki Suka Lelaki (LSL) juga mencatatkan angka temuan positif yang cukup tinggi. Dari target 2.044 orang, sebanyak 512 orang atau sekitar 25 persen telah menjalani pemeriksaan.

"Meski capaian pemeriksaannya masih rendah, kelompok tersebut mencatatkan 51 kasus positif HIV," terangnya.

Lebih lanjut ia menyampaikan, adapun kelompok ibu hamil menjadi populasi dengan jumlah pemeriksaan terbanyak. Dari target 36.895 orang, sebanyak 21.459 orang atau 58 persen telah menjalani tes HIV.

"Dari pemeriksaan tersebut ditemukan 6 kasus positif HIV," bebernya.

Sementara pada kelompok Wanita Pekerja Seks (WPS), capaian pemeriksaan mencapai 81 persen. Sebanyak 515 orang dari target 635 orang telah menjalani tes dan ditemukan 5 kasus positif HIV.

Kemudian, pemeriksaan terhadap Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) mencapai 48 persen, dengan 339 orang diperiksa dari target 700 orang. Dari pemeriksaan tersebut ditemukan 4 kasus positif.

Pada kelompok transgender, sebanyak 109 orang atau 54 persen dari target 199 orang telah menjalani pemeriksaan. Hasilnya ditemukan 4 kasus positif HIV.

Sementara itu, pemeriksaan pada kelompok Pengguna Napza Suntik (IDUS) tercatat belum berjalan, dengan target dan capaian pemeriksaan masih berada pada angka nol.

"Di luar kelompok populasi yang telah ditentukan, kategori populasi lainnya justru mencatatkan jumlah temuan positif HIV paling tinggi," tegasnya.

Ia menerangkan, dari kelompok tersebut ditemukan sebanyak 73 kasus positif HIV. Data tersebut sekaligus menunjukkan bahwa HIV tidak hanya menjadi persoalan pada kelompok populasi tertentu. Pemeriksaan dan edukasi mengenai HIV perlu terus diperluas agar masyarakat yang memiliki risiko maupun yang tidak mengetahui status HIV nya dapat memperoleh akses terhadap layanan kesehatan secara tepat.

"Dengan capaian pemeriksaan baru 53 persen hingga Juli 2026, masih terdapat sekitar 47 persen target yang perlu dikejar," katanya.

Ia menjelaskan, meningkatan cakupan skrining dinilai penting untuk menemukan kasus HIV sedini mungkin. Dengan mengetahui status HIV lebih awal, seseorang yang terkonfirmasi positif dapat segera memperoleh penanganan dan terapi Antiretroviral (ARV) sesuai layanan kesehatan.

"Deteksi dini juga menjadi salah satu langkah penting untuk mencegah kondisi infeksi berkembang ke tahap yang lebih berat," tuturnya.

Karena itu, upaya penjangkauan masyarakat, edukasi, serta peningkatan kesadaran untuk melakukan pemeriksaan HIV perlu terus diperkuat.

Ia berharap, semakin cepat HIV diketahui, semakin cepat pula penanganan dapat diberikan. Hal ini menjadi penting mengingat masih ditemukannya puluhan kasus yang telah memasuki fase AIDS dari hasil pemeriksaan hingga Juli 2026.

(sud/sud)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads