Matahari belum sepenuhnya meninggi ketika aktivitas mencari air sudah menjadi bagian dari rutinitas warga Desa Sampiran, Kecamatan Talun, Kabupaten Cirebon. Kemarau panjang yang mengeringkan sejumlah sumur membuat air bersih kini menjadi barang yang tidak lagi mudah didapat.
Bagi sebagian warga, kebutuhan paling mendasar itu harus diperoleh dengan cara membeli air isi ulang. Sementara untuk mandi dan mencuci, sungai hingga saluran irigasi menjadi pilihan yang tak terelakkan.
Wahyu, salah seorang warga Desa Sampiran, merasakan betul beratnya menjalani hari-hari di tengah keterbatasan air. Sejak musim kemarau melanda, keluarganya harus mengandalkan air galon isi ulang untuk kebutuhan memasak dan minum. Dalam sehari, sedikitnya dua hingga tiga galon harus dibeli.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Setiap harinya beli dua sampai tiga galon. Itu juga buat masak, minum sama yang lain-lain," ujar Wahyu kepada detikJabar, Selasa (1/9/2026).
Harga satu galon isi ulang memang terlihat tidak terlalu besar. Namun ketika harus dibeli setiap hari, pengeluaran tersebut menjadi beban tambahan bagi keluarga.
Dengan harga sekitar Rp5.000 per galon, Wahyu harus mengeluarkan hingga Rp15.000 dalam sehari hanya untuk memenuhi sebagian kebutuhan air rumah tangganya.
"Satu galon aja harganya udah Rp5.000, terus setiap hari harus beli sampai tiga galon. Itu kan berat juga, pas lagi kondisinya begini serba mahal, terus pemasukan segitu-segitu aja," katanya.
Air galon pun tak mungkin digunakan untuk seluruh aktivitas. Untuk mandi dan kebutuhan mencuci, Wahyu bersama keluarganya terpaksa mencari sumber air lain. Saluran irigasi dan sungai menjadi alternatif.
"Kalau untuk mandi sih dari irigasi atau sungai. Kalau enggak mandi di sana langsung, ya paling disedot ke tempat penampungan," ungkapnya.
Kondisi serupa dialami Siti, warga lainnya di Desa Sampiran. Sumur yang selama ini menjadi sumber utama air di rumahnya kini mengering akibat musim kemarau.
Akibatnya, aktivitas sederhana seperti mandi dan mencuci pakaian harus dilakukan dengan cara yang berbeda.
"Kalau buat mandi sama nyuci sih ya ke sungai, soalnya kondisi sumur juga kering," tuturnya.
Namun menggunakan air sungai dan irigasi bukan tanpa risiko. Siti mengaku terkadang mengalami gangguan kesehatan pada kulit setelah menggunakan air tersebut untuk kebutuhan sehari-hari.
"Kalau lagi kena, ya paling penyakit kulit semacam gatal-gatal. Daripada harus beli air isi ulang buat mandi atau nyuci kan boncos juga," katanya.
Bagi warga seperti Wahyu dan Siti, kemarau bukan sekadar tentang panas yang menyengat pada siang hari. Kemarau telah mengubah rutinitas dan memaksa mereka menghitung setiap tetes air yang digunakan.
Di tengah kondisi tersebut, bantuan air bersih menjadi salah satu harapan warga yang wilayahnya terdampak kekeringan.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cirebon mencatat krisis air bersih mulai dirasakan di sejumlah wilayah. Hingga Selasa (1/9/2026), BPBD telah menyalurkan sebanyak 65.000 liter air bersih kepada 3.031 kepala keluarga atau sekitar 10.095 jiwa.
Pelaksana Tugas Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Cirebon, Syamsul Huda, mengatakan bantuan air bersih tersebut disalurkan ke empat kecamatan yang mengalami kesulitan mendapatkan pasokan air.
Kecamatan Klangenan menjadi wilayah dengan jumlah penerima bantuan terbesar. Sebanyak 37.000 liter air bersih telah disalurkan untuk memenuhi kebutuhan 2.063 kepala keluarga atau 7.104 jiwa.
Selanjutnya, Kecamatan Sedong mendapatkan bantuan sebanyak 20.000 liter untuk 485 kepala keluarga atau 1.610 jiwa.
Sementara di Kecamatan Talun, BPBD telah menyalurkan 4.000 liter air bersih yang diperuntukkan bagi 365 kepala keluarga atau 620 jiwa.
Adapun Kecamatan Gegesik menerima pasokan 4.000 liter air bersih untuk memenuhi kebutuhan 118 kepala keluarga atau 761 jiwa.
Syamsul mengatakan pendistribusian bantuan dilakukan secara terukur agar air bersih benar-benar sampai kepada masyarakat yang membutuhkan.
"Pendataan dilakukan untuk memastikan lokasi, jumlah kepala keluarga dan kebutuhan air di lapangan sesuai dengan kondisi sebenarnya," ujarnya.
Menurutnya, BPBD menerapkan sejumlah tahapan dalam penyaluran bantuan air bersih. Proses dimulai dari pendataan dan verifikasi lokasi terdampak, pengisian air ke armada tangki, pengiriman ke titik distribusi, penyaluran kepada masyarakat hingga monitoring dan evaluasi.
Setelah data kebutuhan diverifikasi, BPBD menyiapkan pasokan air bersih ke dalam armada tangki untuk kemudian dikirim sesuai jadwal dan kebutuhan di masing-masing wilayah.
Setiap proses distribusi juga dilakukan pencatatan dan evaluasi. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya BPBD untuk memantau kondisi di lapangan sekaligus menentukan kebutuhan bantuan berikutnya.
Syamsul menegaskan, BPBD Kabupaten Cirebon akan terus melakukan pemantauan terhadap wilayah-wilayah yang mengalami kekeringan.
Langkah itu dilakukan sebagai bentuk kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan meluasnya krisis air bersih apabila musim kemarau terus berlangsung.
"BPBD berkomitmen melayani masyarakat secara cepat, tanggap dan profesional, terutama dalam menghadapi kebutuhan air bersih di wilayah terdampak," katanya.
Bagi warga Desa Sampiran, bantuan air bersih tentu menjadi penopang di tengah sulitnya mendapatkan sumber air. Sebab, ketika sumur telah mengering dan sungai menjadi pilihan terakhir untuk mandi serta mencuci, air bukan lagi sekadar kebutuhan sehari-hari.
Di tengah kemarau yang belum berakhir, setiap galon yang dibeli, setiap ember yang ditampung, hingga setiap perjalanan menuju sungai menjadi gambaran perjuangan warga untuk memenuhi satu kebutuhan paling mendasar untuk bisa mendapatkan air.
(yum/yum)
