Piring & Guci Pusaka 6 Abad Dicuci di Siraman Panjang Kasepuhan

Piring & Guci Pusaka 6 Abad Dicuci di Siraman Panjang Kasepuhan

Ony Syahroni - detikJabar
Kamis, 20 Agu 2026 14:09 WIB
Tradisi Siraman Panjang di Keraton Kasepuhan.
Tradisi Siraman Panjang di Keraton Kasepuhan. (Foto: Ony Syahroni/detikJabar)
Cirebon -

Suasana khidmat terasa di Pungkuran, salah satu bangunan di kompleks Keraton Kasepuhan Cirebon, Kamis (20/8/2026). Keluarga keraton berkumpul dengan pakaian serba putih untuk menjalankan tradisi Siraman Panjang.

Tradisi ini merupakan prosesi membersihkan benda-benda pusaka. Satu per satu benda pusaka dikeluarkan dari tempat penyimpanannya, mulai dari piring, guci, hingga botol yang digunakan untuk menyimpan minyak mawar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Prosesi diawali dengan pembacaan doa. Setelah itu, benda-benda pusaka tersebut dibawa ke tempat yang telah disiapkan untuk dicuci menggunakan air.

Lantunan salawat terdengar mengiringi setiap tahapan prosesi. Air kemudian digunakan untuk membasuh benda-benda pusaka yang dipercaya menjadi bagian dari peninggalan Sunan Gunung Jati.

ADVERTISEMENT

Patih Sepuh Keraton Kasepuhan, Pangeran Raja Goemelar Soeriadiningrat, mengatakan Siraman Panjang merupakan salah satu rangkaian tradisi menjelang peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

"Hari ini Keraton Kasepuhan baru saja melaksanakan tradisi Siraman Panjang, salah satu rangkaian untuk memperingati Maulid Nabi," kata Goemelar saat ditemui di Keraton Kasepuhan, Kamis (20/8/2026).

Tradisi Siraman Panjang di Keraton Kasepuhan.Tradisi Siraman Panjang di Keraton Kasepuhan. (Foto: Ony Syahroni/detikJabar)

Rangkaian prosesi yang dilaksanakan hari ini nantinya akan berlanjut hingga puncak peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Bagi Keraton Kasepuhan, membersihkan benda pusaka bukan sekadar mencuci benda peninggalan masa lalu. Tradisi itu memiliki makna simbolis sebagai upaya membersihkan diri.

Benda-benda yang dibersihkan dalam Siraman Panjang itu jumlahnya cukup banyak. Di antaranya tujuh piring tapsi, 38 piring pengiring, dua guci, serta dua botol untuk minyak mawar.

"Kalau untuk piring tapsi itu tujuh, piring pengiring 38, ada guci dua, dan botol untuk minyak mawar juga dua," tuturnya.

Benda-benda tersebut merupakan peninggalan Sunan Gunung Jati. Usianya pun diperkirakan telah mencapai hampir enam abad.

"Benda-benda itu adalah peninggalan dari Sunan Gunung Jati, kurang lebih usianya hampir enam abad," kata Goemelar.

Setelah seluruh rangkaian Siraman Panjang selesai, benda-benda pusaka kembali disimpan. Namun, rangkaian tradisi belum berakhir.

Menurut Goemelar, beberapa benda pusaka, termasuk piring dan guci, nantinya akan kembali dikeluarkan dalam rangkaian puncak peringatan Maulid Nabi. "Nanti akan dikeluarkan dan diarak di acara puncak," kata dia.

Sementara itu, Maria, salah seorang warga, sudah berada di kompleks Keraton Kasepuhan Cirebon sejak pagi. Botol kosong dibawanya dari rumah. Perempuan asal Desa Waruduwur, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon, itu datang demi mendapatkan air yang telah digunakan untuk mencuci benda-benda pusaka dalam tradisi Siraman Panjang.

Maria tidak datang sendirian. Ia bersama sejumlah warga lainnya sengaja menyambangi Keraton Kasepuhan untuk menyaksikan tradisi yang digelar setiap tahun menjelang peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Namun, bagi Maria, kedatangannya bukan sekadar untuk melihat prosesi. Ia juga bertekad membawa pulang air bekas pencucian benda-benda pusaka di keraton tersebut.

"Dari pagi saya udah di sini," kata Maria saat ditemui di Keraton Kasepuhan, Kamis (20/8/2026).

Maria pun rela berdesak-desakan bersama warga lain yang memiliki tujuan serupa, yaitu mengambil air yang digunakan untuk mencuci benda-benda pusaka di keraton.

Bagi Maria, air tersebut dipercaya memiliki khasiat tersendiri. Ia meyakini air itu bisa digunakan untuk keperluan tertentu, termasuk ketika ada anggota keluarga yang sedang sakit.

Kepercayaan itulah yang membuat Maria rela datang sejak pagi dan ikut berebut air di tengah kerumunan warga. "Airnya bisa buat mandi. Terus misalkan ada yang sakit biar sehat," ujarnya.

(orb/orb)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads