Di sudut-sudut Indramayu, ingatan tentang sosok MA Sentot tak pernah benar-benar pudar. Bagi generasi yang kini melewati usia kepala empat, nama itu bukan sekadar deretan huruf di papan nama rumah sakit, melainkan simbol perlawanan yang pernah membakar semangat di tanah para pejuang.
Kolonel (Purn) Muhammad Asmat Sentot Sutajaya, atau yang lebih karib disapa MA Sentot, adalah putra asli Pekandangan yang lahir pada 17 Agustus 1925. Meski telah berpulang pada 6 Oktober 2001, fragmen-fragmen keberaniannya masih sering diceritakan kembali sebagai warisan identitas wong Dermayu.
Ia dikenal sebagai lelaki yang tak kenal kompromi. Di balik seragam militernya, bersemayam prinsip yang kokoh dan sikap alergi terhadap ketidakadilan. Menariknya, di tengah heroisme yang ia bangun, MA Sentot justru sosok yang enggan memamerkan jasa-jasanya.
Saptaguna, seorang penulis yang sempat menyelami sisi personal sang kolonel, berbagi kisahnya. Dua dekade silam, ia mendatangi kediaman MA Sentot di Desa Sukahaji, Kecamatan Patrol. Pertemuan itu bukan tanpa alasan; Saptaguna bersama rekan-rekannya di Solidaritas Independen untuk Indramayu (SOLID) merasa gelisah melihat sejarah tokoh-tokoh lokal yang mulai luntur.
"Waktu itu kalau gak salah tahun 2000 atau 2001, saya dan kawan-kawan melakukan gerakan moral bernama SOLID (Solidaritas Independen untuk Indramayu), bahwa kita (Indramayu) punya tokoh hebat," kata Saptaguna saat ditemui di rumahnya, Minggu (16/8/2026).
Bagi Saptaguna, mendokumentasikan sejarah adalah cara melawan lupa. Ia percaya bahwa narasi perjuangan tokoh daerah harus tetap hidup melintasi zaman.
"Itu harus ditulis. Harus diabadikan. Misalnya, MA Sentot sebagai pahlawan pejuang yang memimpin pemberontakan terhadap Belanda, kemudian ada tokoh pertanian, ada tokoh agama, dan lain-lain," ujarnya.
Namun, mendekati MA Sentot ternyata menjadi tantangan tersendiri. Sang pejuang yang terbiasa di medan tempur itu sempat menunjukkan "pertahanan" saat hendak diwawancarai. Ia tak ingin kisah hidupnya dibukukan, sebuah bentuk kerendahan hati yang ekstrem dari seorang tokoh besar.
"Beliau orangnya keras (idealis). Waktu itu kami sempat ditolak sama beliau, rupanya beliau tidak mau ditulis (kisah hidupnya). Berkat bujuk rayu, akhirnya beliau mau," tutur Saptaguna mengenang momen tersebut.
Karakter keras dan tanpa ampun terhadap penyimpangan juga terekam dalam buku Wong Dermayu Ngomong. Di sana digambarkan bagaimana ketegasan MA Sentot mampu menciutkan nyali siapa pun yang berseberangan dengan kebenaran. Saptaguna masih ingat betul satu kalimat pendek namun tajam yang pernah diucapkan sang kolonel kepadanya.
"Pokoknya yang tidak benar saya sikat," ucap Saptaguna, menirukan perkataan sang pejuang.