Menjelang Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia, nuansa kemerdekaan mulai menyelimuti sejumlah desa di Kabupaten Indramayu. Salah satu yang mencuri perhatian berada di Desa Tempel Kulon, Kecamatan Lelea. Sosok Garuda berukuran raksasa berdiri gagah di atas jembatan yang menjadi akses utama masuk ke desa tersebut.
Dengan sayap terkembang lebar dan dominasi warna merah putih, ornamen tersebut seolah menjadi penyambut hangat bagi siapa pun yang melintas. Di seberangnya, sosok Semar turut berdiri tegak, menghadirkan sentuhan budaya pewayangan Jawa yang kental di tengah semarak perayaan kemerdekaan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menariknya, karya yang kini menjadi pusat perhatian warga itu bukanlah hasil tangan seniman profesional. Garuda raksasa tersebut lahir murni dari kreativitas dan semangat gotong royong para pemuda Desa Tempel Kulon.
Sejak Juni 2026, pemuda yang tergabung dalam Karang Taruna Desa Tempel Kulon rela menghabiskan waktu malam mereka untuk menggarap ornamen tersebut. Selepas menjalani aktivitas masing-masing pada siang hari, mereka kembali berkumpul demi menyelesaikan karya yang dipersiapkan khusus menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
"Ini murni buatan pemuda karang taruna untuk menyambut HUT Kemerdekaan. Tanpa ada paksaan, tanpa ada bayaran, riil kita ngopi bareng judulnya," ujar pengurus Karang Taruna Desa Tempel Kulon, Panji Asmara Bangun, saat ditemui di lokasi, Kamis (13/8/2026).
Warga melintas di dekat ornamen Garuda di Desa Tempel Kulon Indramayu menyambut peringatan kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia. (Foto: Burhannudin/detikJabar) |
Bahan yang digunakan pun terbilang sederhana. Dengan memanfaatkan tripleks, mereka menyusun bagian demi bagian dengan teliti hingga membentuk replika Garuda berukuran masif.
"Pengerjaan dilakukan di kediaman saya. Setelah seluruh bagian selesai, ornamen tersebut kemudian dipindahkan dan dipasang di gerbang desa. Proses pemasangannya memakan waktu sekitar lima hari dan dilakukan secara bersama-sama," kata Panji.
Agar tampil lebih memukau saat malam tiba, para pemuda menambahkan instalasi lampu LED yang membuat tubuh Garuda tampak menyala terang di tengah kegelapan.
Pada bagian dada Garuda, terdapat perisai yang memuat lima simbol Pancasila. Detail lainnya juga dikerjakan sedemikian rupa agar bentuknya menyerupai lambang negara dengan akurat.
Di bagian bawah objek, tertulis 'HUT RI 81'. Sementara angka '17-08-45' dan '17-08-26' ditempatkan di sisi kiri dan kanan sebagai penanda sejarah Proklamasi serta peringatan kemerdekaan pada tahun ini. Lima bendera Merah Putih dan sejumlah umbul-umbul turut menghiasi kawasan tersebut, menambah kemeriahan suasana.
Panji mengungkapkan, ide awal para pemuda sebenarnya bukan membuat Garuda. Mereka sempat berencana menghadirkan replika Ibu Kota Nusantara (IKN).
Namun, setelah menghitung kebutuhan material dan biaya pengerjaan, rencana itu akhirnya urung diwujudkan karena dinilai membutuhkan anggaran yang cukup besar.
Pilihan kemudian jatuh pada Garuda. Selain lebih memungkinkan dikerjakan dengan bahan yang tersedia, lambang negara tersebut dinilai memiliki makna filosofis yang kuat dalam perayaan kemerdekaan.
"Waktu itu kemudian disetujui, ya, sudah Garuda saja, soalnya ini, kan, lambang negara juga," kata Panji.
Bagi para pemuda, Garuda itu bukan sekadar dekorasi untuk mempercantik gerbang desa. Ada harapan besar yang mereka sematkan di balik setiap kepingan tripleks yang dirangkai.
Mereka ingin semangat Garuda yang identik dengan kekuatan dan ketinggian menjadi simbol harapan agar Desa Tempel Kulon terus berkembang. Mereka berharap desa tersebut dapat semakin mandiri dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya.
Kerja keras para pemuda ini akhirnya membuahkan apresiasi. Ketika malam datang dan lampu-lampu LED mulai berpijar, gerbang desa berubah menjadi titik kumpul yang ramai didatangi warga.
Sebagian datang untuk melihat langsung detail karya tersebut, sementara lainnya sibuk mengabadikan momen dengan berfoto di bawah ornamen Garuda.
"Kalau malam itu ramai, suka ada yang foto-foto," tutur Panji.
Warga melintas di dekat ornamen Garuda di Desa Tempel Kulon Indramayu menyambut peringatan kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia. (Foto: Burhannudin/detikJabar) |
Bagi para pemuda, antusiasme warga menjadi kepuasan batin tersendiri. Tidak ada upah materi yang mereka terima, namun melihat karya mereka dinikmati dan dibanggakan masyarakat menjadi penghargaan yang tak ternilai harganya.
Panji menyebut karya tersebut juga tidak lepas dari dukungan penuh Pemerintah Desa Tempel Kulon. Dukungan diberikan baik dalam bentuk anggaran maupun dorongan semangat kepada para pemuda.
"Alhamdulillah pemerintah desa mendukung banget, mulai dari anggaran, semangatnya, dari masyarakat juga ada, terutama dari bapak kuwu. Kami berterima kasih banget," ujarnya.
Kepala Desa Tempel Kulon, Caryono, pun mengaku bangga melihat kreativitas anak-anak muda di wilayahnya.
Ia menyaksikan langsung bagaimana para pemuda meluangkan waktu istirahat malam mereka untuk mengerjakan ornamen tersebut. Padahal, pada siang hari mereka tetap harus menjalankan pekerjaan dan aktivitas rutin masing-masing.
"Ini adalah karya pemuda desa kami yang punya inisiatif dan ide. Kami dari Pemdes sifatnya memberikan dukungan. Hasilnya itu bagus, sampai banyak yang pada selfie di sana," kata Caryono.
Menurutnya, keberadaan pemuda memiliki peran vital dalam perkembangan desa. Karena itu, ruang bagi mereka untuk berkreasi perlu terus diberikan dan didukung secara maksimal.
Karya Garuda tahun ini juga bukan menjadi kreasi pertama yang dibuat para pemuda Tempel Kulon. Dua tahun sebelumnya, mereka pernah membuat ornamen berbentuk perahu raksasa yang juga sempat viral dan menjadi perhatian warga.
"Kami pun ingin mengucapkan terima kasih kepada para pemuda yang sudah membuat karya ini untuk Desa Tempel Kulon," ujar Caryono.
Wakil Ketua Karang Taruna Desa Tempel Kulon, Wirano, mengatakan bahwa menyatukan banyak pemuda dengan karakter dan pemikiran berbeda bukanlah perkara mudah. Namun, komunikasi yang baik serta perhatian dari pemerintah desa membuat semangat kebersamaan tetap terjaga.
"Para pemuda gotong royong meski tidak dibayar sepeser pun. Dibilang sulit mengakomodir pemuda bisa jadi, tapi alhamdulillah dengan pendekatan dan perhatian Pemdes, pemuda jadi guyub dan kompak," tutur Wirano.
Kisah para pemuda Tempel Kulon menunjukkan bahwa perayaan kemerdekaan tidak selalu identik dengan kemewahan. Dengan bahan sederhana, waktu luang, dan kemauan untuk bekerja bersama, sebuah karya besar bisa lahir dari lingkungan desa.
Kini, di bawah kepakan sayap Garuda yang terbuat dari kepingan tripleks tersebut, tersimpan pesan mendalam tentang arti kemerdekaan yang hakiki, yaitu kebersamaan, kepedulian, dan gotong royong.
Sebab, bagi warga Tempel Kulon, membawa desa untuk "terbang tinggi" tidak harus dimulai dengan sesuatu yang megah. Hal itu bisa berawal dari sekelompok pemuda yang mau berkumpul, bekerja hingga larut malam, dan bersama-sama menciptakan sesuatu yang bermakna untuk kampung halaman.
(orb/orb)


