Sebanyak 94 jemaah umrah asal Kabupaten Kuningan dilaporkan telantar di Bandara Soekarno-Hatta sejak Jumat (31/7/2026). Insiden ini dipicu oleh kendala administrasi visa yang tidak sinkron dengan jadwal keberangkatan pesawat.
Para jemaah, yang didominasi oleh lansia, telah tiba di bandara sejak Jumat sore pukul 17.52 WIB. Namun, hingga jadwal keberangkatan yang seharusnya berlangsung pukul 21.00 WIB, dokumen visa belum juga rampung. Akibatnya, koper jemaah terpaksa diturunkan kembali dari pesawat. Meski visa akhirnya terbit pada pukul 22.00 WIB, pesawat dilaporkan sudah lepas landas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Anne, salah satu keluarga jemaah, mengonfirmasi kondisi memprihatinkan para jemaah yang terpaksa menunggu di area bandara dalam kondisi lesu. Ia menyebut pihak travel kurang kooperatif dalam memberikan penjelasan.
"Saya anne, anak dari salah satu jamaah umroh yang rencananya berangkat tanggal 31 juli 2026 pukul 21.40 (take off). Saya domisili di jakarta dan mengantar orang tua saya semalam, hingga pukul 21.40 jamaah tidak check in akibat visa belum terbit. Akibatnya jamaah terlantar di terminal 2F soetta hingga jam 8 pagi tadi," tutur Anne saat dihubungi, Sabtu (1/8/2026).
Kekecewaan Anne semakin memuncak saat jemaah dipindahkan ke hotel, namun tidak langsung mendapatkan fasilitas kamar yang memadai. Sebagian jemaah bahkan hanya bisa beristirahat di lobi dan selasar hotel.
"Lalu jamaah dibawa ke hotel tapi tidak dibukakan kamar, hanya menunggu di loby dan selasar hotel. Sebagian jemaah dapat kamar, sebagian jemaah terlantar di sekitaran hotel saja. Hingga detik ini jamaah masih menunggu kepastian kabar. Pihak travel sama sekali tidak kooperatif dan komunikatif.Harapan jamaah tetap diberangkatkan untuk umroh, atau jika travel tidak menyanggupi maka kami meminta refund 100%," tegas Anne.
Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Kuningan, Ahmad Fauzi, membenarkan adanya 94 jemaah yang tertahan di bandara, sementara 23 jemaah lainnya telah berhasil diberangkatkan. Menurutnya, masalah utama terletak pada sinkronisasi waktu antara penerbitan visa dan jadwal tiket pesawat.
"Informasi yang saya terima, katanya visa sudah ada, cuma tiketnya mau di-reschedule katanya. Jadi pas tiket pesawat mau berangkat, visanya baru keluar. Karena beririsan, terlalu beririsan antara visa dengan tiketnya, itu memang permasalahannya. Ada 23 yang sudah berangkat dan 94 yang tertahan," ungkap Fauzi.
Merespons situasi ini, Fauzi mendesak biro travel yang berbasis di Kuningan tersebut untuk segera mengambil langkah konkret. Ia menekankan agar hak-hak dasar jemaah, seperti penginapan dan konsumsi, tetap terpenuhi selama menunggu kepastian keberangkatan.
"Intinya saya dari Kementerian Umroh dan Haji sudah menelepon direkturnya untuk segera carikan solusi dan penyelesaian. Kalaupun mau di-reschedule tiket, ya harus segera kepastian jam berapa atau waktunya. Saya pesan ke biro travel itu untuk mengantisipasi jemaah supaya jangan terlantar. Segera diamankan, segera dihotelkan, dikasih makan, segala macam. Yang jelas mah kalau kantor mah punya izin resmi, dia berkantor di Kuningan sebagai kantor pusat," pungkas Fauzi.
Hingga saat ini, pihak biro travel terkait belum memberikan pernyataan resmi meskipun telah dihubungi melalui berbagai saluran komunikasi. Para jemaah masih menunggu kepastian apakah mereka akan diberangkatkan melalui penjadwalan ulang atau mendapatkan pengembalian dana sepenuhnya.
(dir/dir)
