Kisah Gunawan, Bertaruh Nyawa Demi Rp 30 Ribu di TPA Pecuk Indramayu

Kisah Gunawan, Bertaruh Nyawa Demi Rp 30 Ribu di TPA Pecuk Indramayu

Burhannudin - detikJabar
Minggu, 02 Agu 2026 07:30 WIB
Para pemulung tampak sibuk mencari sampah yang bernilai rupiah di TPA Pecuk
Para pemulung tampak sibuk mencari sampah yang bernilai rupiah di TPA Pecuk (Foto: Burhannudin/detikJabar)
Indramayu -

Matahari baru saja merangkak naik saat deru mesin truk sampah mulai memecah kesunyian di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Pecuk, Desa Sindang, Indramayu. Di sana, berton-ton limbah rumah tangga dimuntahkan dari bak truk, lalu diratakan oleh moncong buldoser yang tak kenal lelah.

Belum juga debu dari alat berat itu mengendap, puluhan sosok dengan karung lusuh di pundak sudah merangsek maju. Berbekal pengait besi, mereka beradu cepat dengan waktu dan aroma menyengat, memburu botol plastik atau lembaran kardus yang masih laku ditukar rupiah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bagi warga Indramayu, TPA seluas 13 hektare ini mungkin hanya muara akhir dari sisa konsumsi harian. Namun bagi sekitar 50 pemulung di sana, gunungan sampah ini adalah ladang harapan. Salah satunya Gunawan (41), yang sudah setahun terakhir menjadikan tempat ini sebagai "kantor" terbukanya bersama sang istri.

Gunawan bercerita tentang rutinitasnya yang panjang di bawah terik matahari. "Kami kerja dari jam tujuh pagi sampai jam empat sore," kata Gunawan saat ditemui di lokasi belum lama ini.

ADVERTISEMENT

Selama hampir sembilan jam, ia dan istrinya telaten memilah plastik, kardus, hingga karung bekas. Barang-barang itu dikelompokkan dengan rapi sebelum nantinya disetor ke pengepul. Namun, keringat yang bercucuran seringkali tak sebanding dengan upah yang dibawa pulang.

"Paling sekitar tiga puluh ribu rupiah sehari," ujar Gunawan lirih.

Harga barang bekas memang sedang tidak bersahabat. Botol plastik hanya dihargai sekitar Rp2.500 per kilogram, sementara jenis plastik lain cuma berkisar Rp1.500 per kilogram. Angka-angka kecil inilah yang menjadi tumpuan Gunawan untuk menyambung napas keluarganya.

Saat ditanya mengapa ia tetap bertahan melakoni pekerjaan yang menguras fisik ini, Gunawan hanya memberikan jawaban singkat yang menyentuh realitas sosial.

"Karena tidak ada pekerjaan lain," katanya.

Jawaban itu seolah mewakili suara hati banyak orang di sekitar TPA. Memulung bukanlah cita-cita, melainkan cara paling realistis untuk bertahan hidup di tengah sempitnya lapangan pekerjaan.

Di sela-sela aktivitasnya, Gunawan dan rekan-rekannya biasanya membawa hasil buruan ke tenda-tenda darurat di pinggir area pembuangan untuk penyortiran akhir. Jika lelah mulai mendera, warung-warung kecil di kawasan TPA menjadi tempat mereka melepas penat sejenak sebelum kembali bergelut dengan limbah.

Bekerja di TPA Pecuk bukan hanya soal berdamai dengan bau busuk dan debu, tapi juga bertaruh nyawa. Di balik tumpukan sampah itu, tersimpan gas metana yang sangat mudah terbakar. Pengelola TPA tak bosan-bosannya mengingatkan agar tidak ada satu pun yang merokok di sana. Sedikit percikan api bisa memicu kebakaran besar atau bahkan ledakan dari dalam perut gunung sampah.

Namun, bagi Gunawan, risiko kesehatan dan keselamatan itu seolah menjadi kawan sehari-hari. Dari botol plastik dan kardus yang dibuang orang, ia merajut asa demi memenuhi kebutuhan dapur.

Gunung sampah ini mungkin tak akan pernah menjadi destinasi wisata yang indah. Namun di baliknya, tersimpan potret keteguhan hati manusia yang terus berjuang di tengah keterbatasan.

"Pengennya, sih, kerja. Bukan jadi pemulung. Tapi sementara ini saya nyari duitnya di sini dulu," pungkas Gunawan.



(dir/dir)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads