Melihat Geliat Rumah Tahfiz Pencetak Hafiz di Indramayu

Melihat Geliat Rumah Tahfiz Pencetak Hafiz di Indramayu

Burhannudin - detikJabar
Selasa, 28 Jul 2026 05:30 WIB
Madinatul Yatim Siti Aminah, Bojongsari, Indramayu.
Madinatul Yatim Siti Aminah, Bojongsari, Indramayu. (Foto: Burhannudin/detikJabar)
Indramayu -

Sore mulai merayap di Jalan Perjuangan, Blok Bojong, Kelurahan Bojongsari, Kecamatan Indramayu. Dari luar, bangunan itu tampak bersahaja. Tidak ada pagar megah ataupun gerbang yang mencolok. Namun, menjelang azan Magrib, halaman rumah itu dipenuhi langkah-langkah kecil anak-anak yang datang menjinjing Al-Qur'an.

Mereka datang bukan sekadar untuk belajar mengaji. Di tempat itu, mereka menemukan ruang untuk tumbuh, belajar, dan merengkuh perhatian. Rumah sederhana itu adalah Madinatul Yatim Siti Aminah, yang dikelola Yayasan Rindang Indonesia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bangunan yang berdiri di atas lahan sekitar 620 meter persegi itu merupakan wakaf dari Siti Aminah, warga asli Bojongsari yang kini menetap di Bekasi. Sejak diresmikan pada Februari 2022, tempat ini berkembang menjadi rumah tahfiz sekaligus pusat pembinaan bagi anak yatim piatu dan dhuafa di wilayah Indramayu.

Setiap sore, lantunan ayat suci Al-Qur'an bergema dari ruang-ruang belajar. Puluhan anak dari Bojongsari, Sindang, Terusan, Paoman, hingga kawasan sekitarnya datang mengikuti kegiatan secara gratis. Mereka belajar membaca Al-Qur'an, menghafal ayat-ayat suci, mengikuti bimbingan belajar, hingga kelas bahasa Inggris. Khusus setiap Jumat sore, seluruh anak berkumpul selepas salat Asar untuk beristigasah dan makan bersama.

ADVERTISEMENT

Di balik aktivitas itu, berdiri para pengajar yang dengan sabar mendampingi anak-anak, di antaranya Ustaz Jamaluddin Ramadan dan Ustazah Juju. Mereka tidak hanya mengajarkan bacaan Al-Qur'an, tetapi juga menempa kedisiplinan, akhlak, dan rasa percaya diri anak-anak.

Keberadaan yayasan ini tidak hanya dirasakan oleh anak-anak yang belajar setiap hari. Sekitar 60 hingga 70 anak yatim piatu dan dhuafa yang tinggal bersama keluarganya juga memperoleh santunan rutin setiap bulan. Mereka memang tidak menetap di yayasan, tetapi tetap menjadi bagian dari keluarga besar Yayasan Rindang Indonesia.

Bagi Aura, siswa kelas VII SMP, rumah tahfiz ini menjadi kawah candradimuka untuk mengejar cita-citanya sebagai penghafal Al-Qur'an. Hampir setiap sore ia datang mengikuti kegiatan. Berawal dari ajakan teman, kini ia telah berhasil menghafal Juz 30, mulai dari Surah An-Naba hingga An-Nas.

"Maunya, sih, hafal 30 juz," ucapnya dengan senyum malu-malu, Senin (27/7/2026) sore.

Menurut Aura, yayasan telah memberinya lebih dari sekadar tempat belajar mengaji. Ia merasa lebih mengenal kegiatan keagamaan, memiliki lingkungan pergaulan yang positif, serta termotivasi mengajak teman-temannya untuk ikut belajar.

Semangat serupa juga dirasakan para pengelola yayasan. Egi, pengelola Yayasan Rindang Indonesia cabang Indramayu, mengatakan bahwa perkembangan lembaga ini terus menunjukkan kemajuan sejak berdiri.

"Jumlah anak yang mengikuti kegiatan semakin bertambah. Dukungan masyarakat mulai mengalir dalam bentuk makanan siap saji kayak makanan ringan, susu, hingga berbagai bentuk donasi lainnya," tutur Egi.

Bantuan tersebut menjadi penyemangat bagi para pengurus untuk terus memperluas manfaat bagi anak-anak.

Saat ini, program utama yang dijalankan adalah tahfiz Al-Qur'an bagi anak usia SD hingga SMA. Namun, Yayasan Rindang Indonesia memiliki visi yang lebih luas. Di bawah kepemimpinan pendirinya, Muhammad Adi Pamungkas, yayasan mengembangkan 13 program pemberdayaan, mulai dari komputer, jurnalistik, tata boga, kewirausahaan, bahasa Inggris, hingga berbagai pelatihan keterampilan lainnya.

Harapan itu perlahan mulai diwujudkan. Di bagian belakang kompleks yayasan telah disiapkan lahan yang nantinya akan dibangun asrama bagi anak-anak yatim piatu dan dhuafa.

Meski saat ini sebagian besar anak masih berstatus non-panti dan pulang ke rumah masing-masing setelah belajar, beberapa kamar telah dipersiapkan sebagai tempat singgah sementara bagi anak-anak yang membutuhkan perlindungan dalam kondisi darurat.

Bagi Yayasan Rindang Indonesia, pendidikan bukan hanya soal menghafal ayat-ayat Al-Qur'an. Pendidikan adalah ikhtiar membentuk karakter, membangun kemandirian, sekaligus membuka masa depan yang lebih baik bagi anak-anak yang kehilangan sebagian penopang hidupnya.

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan kota kecil Indramayu, rumah sederhana di Bojongsari itu menjadi bukti bahwa kepedulian tidak selalu lahir dari lembaga besar. Ia tumbuh dari niat baik, kerja bersama, dan keyakinan bahwa setiap anak berhak memperoleh kesempatan untuk belajar, berkembang, dan meraih masa depan yang lebih cerah.

(orb/orb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads