Keindahan Waduk Darma Tergerus Hamparan Eceng Gondok

Keindahan Waduk Darma Tergerus Hamparan Eceng Gondok

Fahmi Labibinajib - detikJabar
Senin, 27 Jul 2026 20:00 WIB
Eceng Gondok Tutupi Waduk Darma Kuningan
Eceng Gondok Tutupi Waduk Darma Kuningan (Foto: Fahmi Labibinajib/detikJabar)
Kuningan -

Waduk Darma di Desa Jagara, Kecamatan Darma, Kabupaten Kuningan, kini menghadapi ancaman serius. Hamparan eceng gondok yang kian masif tak hanya merusak estetika panorama, namun juga memukul pendapatan nelayan ikan dan tutut setempat.

Pantauan di lokasi menunjukkan gulma hijau tersebut telah menutupi sebagian besar permukaan air, mulai dari tepian hingga ke area tengah. Kondisi ini dikeluhkan pengunjung yang merindukan pemandangan jernih waduk. Nia (20), salah satu pengunjung rutin, menyebut populasi eceng gondok saat ini sangat mengganggu kenyamanan visual.

"Pernah banyak liat eceng gondok. Jelas mengganggu sih, merusak pemandangan. Pernah sebelum dibersihkan itu lihat eceng gondoknya sampai ke daerah tengah sana," tutur Nia, Senin (27/7/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dampak lebih pahit dirasakan para nelayan. Nino (42), nelayan tutut yang sudah belasan tahun menggantungkan hidup di Waduk Darma, mengaku produktivitasnya merosot tajam. Pergerakan perahu terhambat, sementara ekosistem tutut terganggu oleh perakaran gulma yang rapat. Fenomena ledakan populasi ini diakui mulai masif terjadi sejak empat tahun terakhir.

ADVERTISEMENT

"Eceng gondok membawa pengaruh.Tempat kita nyarinya dipenuhi eceng gondok, ya berarti perahu kita nggak bisa jalan. Bahkan kita nggak bisa nyari sama sekali. Dulu sebelum banyak eceng gondok sekali berangkat bisa dapat satu ton sehari, tapi sekarang paling 50 sampai 30 kilogram saja sehari," ungkap Nino.

Pengelola Desa Wisata Jagara, Yudi, mengakui invasi eceng gondok tahun ini tergolong parah. Jika dibiarkan tanpa pembersihan, gulma tersebut diprediksi mampu menutupi hingga lebih dari 40 persen luas perairan waduk.

"Parahnya tuh kalau misalkan dari tepi ini ada sampai 10 meter ke tengah sana. Penumpukannya sampai perahu gitu susah lewat kalau misalkan mau ke pinggir karena kegenang eceng. Mungkin bisa sampai 40 persen lebih menutup area Waduk Darma kalau misalkan nggak dibersihin. Kemarin juga hampir 30 persen. Sekali pembersihan bisa sampai 100 orang yang terlibat," jelas Yudi.

Eceng Gondok Tutupi Waduk Darma KuninganEceng Gondok Tutupi Waduk Darma Kuningan Foto: Fahmi Labibinajib/detikJabar

Menurut Yudi, ada tiga faktor utama pemicu ledakan pertumbuhan ini. Pertama, penurunan kualitas air akibat residu pakan dari Keramba Jaring Apung (KJA). Kedua, kenaikan debit air yang membawa bibit eceng dari area persawahan. Ketiga, faktor angin yang mempercepat persebaran bibit ke berbagai titik.

"Misalkan Waduk Darma ini surut di sebelah sana kan itu ada sawah. Nah, kalau misalkan air naik, itu kan si sawah itu tertutup air jadi si ecengnya tuh terangkat, naik ke permukaan air, nah, larilah ke sini. Kalau misalkan angin lagi kecil gini nih, si eceng tuh jalan ke sana, ke area tengah. Nanti kalau misalkan udah ada angin, pinggir lagi. Jadi kendalanya memang seperti itu kalau eceng, karena kan di permukaan," tambahnya.

Masalah kian pelik karena upaya penanggulangan terbentur keterbatasan alat. Mesin pengolah eceng gondok menjadi pupuk organik yang tersedia tak mampu mengimbangi volume gulma yang tumbuh sangat cepat.

"Sampah pencacah eceng gondok untuk diubah jadi pupuk itu sudah ada. Cuman sekarang sudah nggak ketampung. Kapasitas mesinnya cuman satu ton perhari, tapi limbah eceng gondoknya bisa mencapai 10 ton dalam sekali pembersihan. Ada perawatan juga dan ada batasnya, kalau untuk 1 ton itu juga, kita biasanya pakainya nggak sampai 1 ton. Makanya kurang maksimal," kata Yudi.

Hingga saat ini, solusi preventif yang konkret belum ditemukan. Pihak pengelola bersama pemangku kepentingan terkait sejauh ini hanya bisa melakukan pembersihan berkala saat populasi gulma sudah menumpuk demi menjaga keseimbangan ekosistem bawah air.

"Berdampak pada ekosistem juga. Karena kan yang namanya ikan perlu kena sinar matahari kan. Nah, kalau misalkan ketutup eceng kan si air itu kan dianggap dingin di bawah juga. Paling untuk sekarang sih mungkin lebih ke pembersihan. Betul, kita belum ada upaya untuk mencegahnya. Belum ada. Sebenarnya untuk tiap tahun eceng selalu ada cuman yang penting kan intensitasnya itu," pungkas Yudi.



(dir/dir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads