Di tengah sunyinya malam pada September 1912, bumi di Kabupaten Majalengka tiba-tiba berguncang. Dinding-dinding rumah bergetar. Dari kejauhan terdengar dentuman samar yang disusul gemuruh panjang, memecah keheningan malam.
Warga pun panik berhamburan ke luar rumah, berharap guncangan segera berakhir. Namun harapan itu pupus. Hari demi hari, guncangan itu kembali datang. Rasa takut perlahan menyelimuti kota kecil di bawah kaki Gunung Ciremai tersebut.
Peristiwa itu bukan terjadi beberapa tahun lalu, melainkan lebih dari seabad silam, ketika Majalengka masih berada di bawah pemerintahan Hindia Belanda.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kisah tersebut tersiar dalam laporan surat kabar berbahasa Belanda berjudul 'De aardschokken te Madjalengka' atau yang berarti 'Guncangan Gempa di Majalengka'. Kabar itu dimuat dalam Koran Batavia edisi 3 Oktober 1912.
Menurut laporan tersebut, getaran pertama kali dirasakan pada 4 September 1912. Awalnya hanya berupa guncangan kecil. Namun setelah sekitar 20 hari, bumi kembali bergetar dengan kekuatan yang jauh lebih besar.
"Op den 4en September werden voor het eerst kleine trillingen van den grond waargenomen te Madjalengka, gepaard aan eenige kleine verticale schokken. Na een rustperiode van ongeveer twintig dagen herhaalden zich dese trillingen doch in heviger mate," tulis koran tersebut dikutip detikJabar, Kamis (9/7/2026).
"Pada tanggal 4 September, untuk pertama kalinya di Majalengka teramati getaran-getaran kecil pada permukaan tanah, yang disertai beberapa guncangan vertikal ringan. Setelah masa tenang sekitar dua puluh hari, getaran-getaran tersebut kembali terjadi, namun dengan intensitas yang lebih kuat," demikian arti laporan tersebut jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Malam 25 dan 26 September menjadi puncak kepanikan. Warga melaporkan guncangan jauh lebih keras. Bersamaan dengan itu terdengar dentuman serta gemuruh panjang seperti suara petir dari kejauhan.
"Terwijl gedurende de nachten van 25 en 26 deser volgens de verklaringen van de verschillende inwoners hevige aardschokken werden waargenomen, gepaard aan doffe knallen dan zwaar gerommel als van verwijderd onweer," terangnya.
"Sementara itu, pada malam tanggal 25 dan 26 bulan ini, menurut keterangan dari berbagai penduduk, terjadi gempa bumi yang cukup kuat, disertai bunyi dentuman yang tumpul serta suara gemuruh keras yang menyerupai guntur di kejauhan," tulis laporan tersebut dalam versi terjemahan.
Ketakutan pun menjalar ke seluruh penjuru Majalengka. Setiap getaran membuat orang-orang bersiap menghadapi kemungkinan terburuk.
"De geheele bevolking van Madjalengka, zoowel Europeanen als Chineezen en inlanders, verwachtte bij eiken schok het ergste," jelas koran tersebut.
"Seluruh penduduk Majalengka, baik orang Eropa, Tionghoa, maupun pribumi, setiap kali terjadi guncangan selalu mengkhawatirkan kemungkinan yang paling buruk," bunyi terjemahan dari laporan lawas tersebut.
Situasi yang semakin mencekam memaksa pemerintah kolonial mengambil langkah darurat. Sebanyak 15 prajurit bersama seorang komandan didatangkan dari Cirebon untuk menjaga kantor pemerintahan, pegadaian, hingga penjara.
Bahkan di dalam penjara, para tahanan tak lagi tidur di balik jeruji. Mereka dipindahkan ke halaman terbuka agar tidak tertimpa reruntuhan apabila bangunan ambruk akibat gempa.
"De gevangenen slapen sedert eenige nachten op de binnenplaats van de gevangenis in stede van in de afgesloten cellen, opdat bij het instorten van de gevangenismuren de arme kerels niet verpletterd zullen worden," bebernya.
"Selama beberapa malam terakhir, para narapidana tidur di halaman dalam penjara, bukan di sel-sel yang tertutup, agar jika tembok penjara runtuh, mereka tidak tertimpa reruntuhan hingga tewas," tulis laporan itu dalam terjemahannya.
Bahkan roda pemerintahan ikut berubah. Para pegawai pemerintah dan petugas kantor pos memilih meninggalkan gedung-gedung permanen. Selama ancaman gempa masih berlangsung, pekerjaan dilakukan di bawah rindangnya pohon-pohon beringin.
"Daar de gouvernementsambtenaren en het personeel van het postkantoor bevreesd waren werkzaam te zijn in de zwaar gebouwde kantoren, wordt voorloopig kantoor gehouden onder de waringinboomen," jelasnya.
"Karena para pegawai pemerintah dan petugas kantor pos khawatir bekerja di gedung-gedung kantor yang berbangunan berat, untuk sementara waktu kegiatan perkantoran dipindahkan ke bawah pohon-pohon beringin," demikian bunyi terjemahan laporan tersebut.
Laporan itu juga mencatat banyak rumah milik warga Tionghoa dan pribumi ditinggalkan penghuninya. Sementara sebagian besar warga Eropa memilih bermalam di bangunan tambahan atau gubuk-gubuk bambu yang dianggap lebih aman jika sewaktu-waktu bumi kembali berguncang.
Yang menarik, rentetan gempa tersebut dianggap sebagai peristiwa yang misterius. Pemerintah kolonial bahkan meminta seorang ahli dari Observatorium Batavia datang ke Majalengka untuk mencari penyebabnya.
"Wij vernemen nog dat door den assistent-resident het verzoek is gedaan dat een specialiteit van het Observatorium van Batavia zich naar Madjalengka zoude begeven ten einde een serieus onderzoek in te stellen naar de oorzaak van de geheimzinnige aardschokken waarmede sedert eenigen tijd Madjalengka dermate verontrust wordt," terangnya.
"Kami juga memperoleh kabar bahwa Asisten Residen telah mengajukan permohonan agar seorang ahli dari Observatorium Batavia datang ke Majalengka untuk melakukan penyelidikan serius mengenai penyebab gempa-gempa misterius yang sejak beberapa waktu terakhir terus meresahkan wilayah tersebut," tulis laporan itu dalam terjemahan bahasa Indonesia.
Meski telah berlalu lebih dari satu abad, laporan surat kabar itu menjadi jejak sejarah bahwa Majalengka pernah mengalami rentetan gempa yang begitu meresahkan. Namun dalam laporan koran tersebut, tidak dijelaskan apa penyebab gempa bumi pada waktu itu.
(iqk/iqk)
