Kisah Rani, Perawat Cirebon Ubah Trauma Jadi Layanan Caregiver

Devteo Mahardika - detikJabar
Selasa, 21 Jul 2026 06:31 WIB
Rani Caregiver (Foto: Ai Gemini).
Cirebon -

Aroma obat-obatan, suara monitor pasien, dan lorong rumah sakit pernah menjadi tempat yang paling ingin dihindari Mirani. Kehilangan kedua orang tuanya hanya dalam rentang tujuh hari meninggalkan luka yang begitu dalam hingga membuat perempuan yang akrab disapa Rani itu trauma kembali menginjakkan kaki di rumah sakit.

Ironisnya, rumah sakit adalah tempat yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari kehidupannya sebagai seorang perawat.

Namun, waktu perlahan mengubah duka menjadi kekuatan. Dari pengalaman kehilangan itulah lahir sebuah tekad untuk menemani orang-orang yang tengah berjuang melawan sakit, terutama mereka yang harus menjalani perawatan tanpa didampingi keluarga.

Kini, perempuan asal Cirebon itu mendirikan Rani Caregiver, sebuah layanan pendampingan pasien yang melayani wilayah Ciayumajakuning, meliputi Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan.

Bagi Rani, profesi caregiver bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan kemanusiaan.

"Saya merasa mereka benar-benar membutuhkan pendampingan. Kepercayaan itu yang membuat saya memberanikan diri kembali membantu pasien," tuturnya saat dihubungi pada Senin (20/7/2026).

Perjalanan Rani sebagai caregiver tidak dimulai dengan rencana bisnis.

Sejak menjadi perawat pada 2012, ia kerap diminta keluarga maupun kerabat untuk mendampingi anggota keluarga mereka yang sedang dirawat di rumah sakit. Berbekal pengalaman sebagai tenaga kesehatan, kehadirannya membuat keluarga pasien merasa lebih tenang.

Awalnya permintaan itu hanya datang sesekali. Namun, semuanya berubah ketika pandemi COVID-19 melanda. Banyak keluarga kesulitan mendampingi pasien karena pembatasan aktivitas maupun kesibukan pekerjaan.

Dari situlah nama Rani mulai dikenal melalui rekomendasi dari mulut ke mulut.

"Awalnya hanya keluarga dan kerabat. Lama-kelamaan, dari cerita mulut ke mulut, semakin banyak orang yang meminta bantuan pendampingan," katanya.

Saat itu Rani masih bekerja di sebuah klinik. Ia menerima jadwal pendampingan pasien setelah menyelesaikan tugasnya pada pagi hingga siang. Meski harus membagi waktu dan tenaga, ia tetap berusaha memenuhi setiap permintaan yang datang.

Cobaan terbesar datang ketika kedua orang tuanya meninggal dunia akibat sakit, hanya berselang tujuh hari.

Peristiwa tersebut menjadi pukulan berat yang membuatnya kehilangan semangat. Bahkan sebagai tenaga kesehatan, ia mengaku sempat tidak sanggup kembali memasuki rumah sakit.

"Saya sempat trauma menginjakkan kaki di rumah sakit. Padahal saya tenaga medis, tetapi rasa kehilangan saat itu sangat berat," ungkapnya.

Dalam masa berduka itu, telepon dan pesan permintaan bantuan terus berdatangan. Ada pasien yang hendak menjalani operasi, ibu yang akan melahirkan, hingga pasien pascaoperasi yang membutuhkan pendamping.

Di balik setiap pesan, Rani melihat satu kesamaan: banyak pasien yang harus menghadapi proses pengobatan tanpa keluarga di sisi mereka.

Perasaan itulah yang perlahan menghapus traumanya.

Keinginan memastikan pasien menjalani perawatan dengan aman menjadi alasan yang menguatkannya untuk kembali mengenakan seragam perawat dan mendampingi mereka yang membutuhkan.

Simak Video "Video: Makam Remaja di Pangkalpinang Dibongkar, Diduga Jadi Korban Malapraktik"


(mso/mso)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork
InsertLive
Kamis, 01 Jan 1970 07:00 WIB