Udara dingin segera menyergap saat kendaraan mulai menanjak menyusuri lereng Gunung Ciremai. Di salah satu sudutnya yang asri, Botanika Kuningan berdiri menyambut para pelancong dengan hamparan perbukitan hijau dan barisan pohon pinus yang menjulang. Destinasi ini bukan sekadar tempat makan biasa, melainkan ruang pelarian bagi mereka yang merindukan ketenangan di tengah alam.
Begitu tiba, pengunjung disambut area parkir yang lapang sebelum melangkah menuju bar utama. Di sini, urusan memilih tempat duduk menjadi tantangan tersendiri karena setiap sudut menawarkan perspektif keindahan yang berbeda. Bagi pencinta suasana rimbun, area depan dengan lantai bebatuan estetis di bawah naungan kanopi adalah pilihan tepat. Namun, bagi mereka yang ingin memanjakan mata dengan lanskap kota dan perbukitan dari ketinggian, lantai atas menjadi spot favorit.
Keajaiban Botanika kian terasa saat cuaca cerah, di mana siluet Waduk Darma tampak mengintip dari kejauhan. Menjelang petang, tempat ini bertransformasi menjadi panggung alami untuk menyaksikan matahari terbenam. Saat malam tiba, giliran kerlip lampu kota (city light) yang menghiasi kegelapan, menciptakan suasana romantis yang sulit dilupakan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak hanya soal rasa dan pemandangan, Botanika kini telah berkembang menjadi pusat rekreasi keluarga. Berbagai wahana mulai dari Perosotan Pelangi yang ikonik, lintasan ATV, gokart, hingga kebun stroberi siap memacu adrenalin sekaligus menghibur pengunjung.
Transformasi lahan ini menyimpan cerita menarik. Ferry, sang pengelola, mengisahkan bahwa kawasan ini dulunya adalah perkebunan kopi milik Pemerintah Daerah Kabupaten Kuningan yang kurang produktif. Perubahan besar dimulai pada 2023 saat pihak swasta mulai mengelola lahan tersebut.
"Ini kan awalnya kebun kopi nih. Dan ini kan tanah Pemda, kita sewa ke Pemda. Dulu tuh dikelola sama masyarakat dan kurang maksimal. Jadi akhirnya kita sewa, kita kelola, alhamdulillah kita maksimalkan. Kalau hari libur pengunjung, paling ramai yang keluar masuk sampai 800 sampai 1.000 orang. Kebanyakan yang datang ke Botanika itu dari luar kota," tutur Ferry.
Menariknya, pengunjung tidak dipungut biaya tiket masuk untuk menikmati kawasan ini. Cukup membayar parkir Rp5.000 untuk motor atau Rp10.000 untuk mobil, siapa pun bisa masuk dan bersantai. Sementara untuk wahana permainan, tarifnya dipatok bervariasi.
"Biaya parkir untuk mobil Rp10.000, motor Rp5.000. Ada Hill Slide atau perosotan pelangi. Itu tiketnya kalau di hari biasa Rp 25 ribu kalau di libur Rp 30 ribu, ATV 70 untuk tiga dua kali putaran. Itu lintasannya sekitar 1 kilo. Terus ada gokar tiketnya Rp 60 ribu. Itu panjang lintasannya sekitar 500 meter dikasih tiga putaran. Hydroglide itu perosotan air Rp 40 untuk hari biasa, Rp 45 ribu untuk hari libur. Kita dikasih jas hujan," tutur Ferry merinci.
Urusan perut pun terjamin dengan beragam menu, mulai dari racikan kopi susu yang hangat hingga hidangan mengenyangkan seperti nasi goreng dan bakso malang. Hal inilah yang membuat Dani (25), pemuda asal Cirebon, kerap kembali ke sini. Sembari duduk santai di lantai atas, ia menikmati sisa hari dengan memandang perbukitan.
"Terjangkau sih, view-nya kalau bagus. Suasana juga sejuk. Sering ke sini mah," tutur Dani.
Kesan serupa dirasakan Ulya. Baginya, luasnya area dan kesejukan udara kaki gunung membuat waktu seolah berjalan lebih lambat di Botanika. Kualitas hidangan yang disajikan pun menurutnya sangat sepadan dengan pengalaman yang didapat.
Bagi Anda yang ingin berkunjung, Botanika Kuningan terletak di Jalan Boenoet Lembur Kuring, Desa Puncak, Kecamatan Cigugur. Jika berangkat dari Kota Cirebon, Anda cukup mengarahkan kendaraan menuju Jalan Raya Cirebon-Kuningan, lalu berbelok ke arah Cirendang dan mengikuti jalur menuju Palutungan. Sebuah papan informasi bertuliskan 'Botanika' di ujung jalan akan menjadi penanda bahwa Anda telah sampai di gerbang ketenangan lereng Ciremai.
(dir/dir)
