Di ruang kelas VI SDN Guntur Cirebon, Senin pagi (13/7/2026), satu per satu siswa diminta memperkenalkan diri di hadapan wali kelas barunya. Mereka menyebutkan nama, hobi, hingga cita-cita yang ingin diraih ketika dewasa nanti.
Ketika gilirannya tiba, Lovanya Evelin Kautsar berdiri dengan percaya diri. Dengan suara pelan namun mantap, siswi berusia 10 tahun itu mengungkapkan impian yang sederhana sekaligus mulia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak ada yang menyangka, hanya beberapa jam setelah kalimat itu terucap, kehidupan Lovanya berubah dalam sekejap.
Sore harinya, bocah yang baru memulai perjalanan sebagai siswi kelas VI itu menjadi korban kecelakaan maut di Jalan Raya Cirebon-Kuningan, Desa Ciperna, Kecamatan Talun, Kabupaten Cirebon.
Truk pengangkut ribuan botol air mineral diduga kehilangan kendali sebelum menghantam sejumlah kendaraan dan sebuah warung di pinggir jalan.
Tragedi tersebut merenggut nyawa ayah, ibu, dan adik perempuan Lovanya yang baru berusia tujuh bulan. Lovanya menjadi satu-satunya anggota keluarga inti yang selamat.
Namun untuk mempertahankan hidupnya, tim dokter RSD Gunung Jati Cirebon terpaksa melakukan amputasi pada kaki kanannya yang mengalami kerusakan sangat parah.
Kini, di tengah masa pemulihan fisik dan luka batin yang begitu dalam, para guru di SDN Guntur bertekad memastikan satu hal: mimpi Lovanya tidak boleh ikut terkubur bersama tragedi itu.
Hari Pertama yang Tak Akan Pernah Dilupakan
Bagi Muhamad Winarno, wali kelas VI SDN Guntur, hari pertama mengajar kelas barunya semestinya menjadi awal untuk mengenal karakter para siswa.
Ia masih mengingat jelas wajah Lovanya saat memperkenalkan diri di depan kelas. Belum sempat mengenal lebih jauh murid barunya itu, kabar mengejutkan datang pada sore harinya.
"Saya sebagai wali kelasnya sebenarnya merasa syok dan terpukul. Hari pertama baru perkenalan dengan Lovanya, terus sore mendengar berita yang ternyata benar terjadi, yang dialami Lovanya dan keluarganya," tutur Winarno saat ditemui di SDN Guntur, Rabu (15/7/2026).
Perasaan kehilangan itu bukan hanya dirasakan keluarga korban. Bagi Winarno, seorang guru yang baru beberapa jam menjadi wali kelasnya, kabar tersebut menjadi pukulan yang sulit diterima.
Di balik duka yang menyelimuti sekolah, Winarno bersama seluruh guru telah membuat satu komitmen. Mereka tidak ingin Lovanya merasa sendirian ketika nanti kembali menjalani kehidupan sebagai seorang pelajar.
Menurutnya, pemulihan kesehatan memang menjadi prioritas utama saat ini. Namun setelah kondisi Lovanya membaik, sekolah siap menyesuaikan seluruh proses pembelajaran agar hak pendidikan siswi tersebut tetap terpenuhi.
"Kalau untuk ke depannya, sekolah akan penuh, 100 persen, bahkan full senyumannya Lovanya. Kami akan memenuhi hak-haknya sebagai pelajar," katanya.
Para guru telah sepakat untuk bergantian mendampingi Lovanya apabila nantinya belum memungkinkan datang ke sekolah.
Guru kelas, guru mata pelajaran, hingga guru olahraga siap menyesuaikan cara mengajar dengan kondisi yang dihadapi siswi mereka.
"Misalkan saya yang bisa berkunjung, ataupun guru mata pelajaran, guru olahraga, guru PAI, guru Bahasa Inggris. Kami pasti akan melayani Lovanya sepenuh hati. Kami akan berusaha sebaik mungkin untuk pelayanan belajar Lovanya ke depan, untuk masa depannya," ujarnya.
Baginya, pendidikan bukan sekadar soal hadir di ruang kelas, melainkan memastikan setiap anak tetap memiliki kesempatan untuk meraih cita-citanya.
Di antara banyak kenangan hari pertama sekolah itu, ada satu momen yang terus terngiang di kepala Winarno. Saat sesi perkenalan, ia meminta seluruh siswa menyebutkan cita-cita mereka. Jawaban Lovanya begitu sederhana. Ia ingin menjadi dokter.
"Dia bercita-cita menjadi dokter. Jadi awal di hari pertama itu perkenalan, namanya siapa, hobinya apa, terus cita-citanya apa, dia bilangnya dokter. Jadi saya itu kaget pas awal mendengar itu," kenangnya.
Kalimat yang awalnya hanya menjadi bagian dari perkenalan kini berubah menjadi sebuah janji yang ingin dijaga bersama.
Bagi para guru, tragedi yang dialami Lovanya tidak boleh menghapus impian yang baru saja ia ucapkan dengan penuh keyakinan.
"Pokoknya intinya sekolah akan memfasilitasi penuh untuk Lovanya ke depan, baik pelayanan, baik apa pun. Dari segi apa pun kami akan 100 persen mendukung Lovanya," tegasnya.
Perjalanan menuju kesembuhan Lovanya tentu tidak mudah. Ketua Tim Kerja Evaluasi Pelayanan dan Sarana Prasarana Medis RSD Gunung Jati Cirebon, dr. Ika Komala, Sp.KN-TM, menjelaskan bahwa amputasi harus dilakukan karena kondisi kaki kanan korban sudah tidak dapat dipertahankan.
"Waktu datang anak ini dalam kondisi sadar. Tetapi kaki kanannya sudah hancur bagian bawahnya sampai mendekati lutut. Kondisinya memang sudah tidak bisa kami selamatkan. Untuk mencegah infeksi dan komplikasi lainnya, akhirnya diputuskan dilakukan tindakan amputasi," jelasnya.
Selain pemulihan fisik, Lovanya juga akan menjalani pendampingan psikologis setelah kehilangan seluruh keluarga intinya dalam satu peristiwa tragis.
Kini, ranjang rumah sakit menjadi ruang belajar sementara bagi Lovanya. Jalan menuju cita-citanya mungkin akan lebih panjang dan lebih berat dibanding anak-anak seusianya.
Namun di belakangnya, ada keluarga, guru, teman-teman sekolah, dan masyarakat yang tak ingin membiarkan langkahnya berhenti.
Sebab bagi para guru di SDN Guntur, mimpi seorang anak tidak ditentukan oleh seberapa sempurna tubuhnya, melainkan oleh seberapa besar harapan yang terus dijaga.
Kalimat sederhana yang diucapkan Lovanya pada hari pertama sekolah kini menjadi pengingat bahwa di balik duka yang begitu dalam, masih ada masa depan yang layak diperjuangkan.
Menjadi dokter mungkin kini terasa lebih jauh daripada sebelumnya. Tetapi selama masih ada tangan-tangan yang siap menopang dan hati-hati yang terus mendoakan, cita-cita itu belum pernah benar-benar hilang.
Diberitakan sebelumnya, sebuah truk kontainer bermuatan air mineral kemasan yang melaju dari arah Kuningan menuju Cirebon diduga mengalami rem blong saat melintasi jalur menurun Gronggong. Kendaraan besar itu tak lagi bisa dikendalikan hingga menghantam sebuah warung makan di pinggir jalan dan menyeruduk empat sepeda motor yang berada di sekitarnya.
Peristiwa nahas tersebut merenggut tiga nyawa di lokasi kejadian. Korban yang meninggal dunia diduga merupakan seorang ibu dan anaknya yang masih bayi. Sementara tiga orang lainnya mengalami luka-luka dan dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan intensif.
(sud/sud)
