Penyebab pasti kecelakaan maut yang melibatkan truk kontainer bermuatan air minum dalam kemasan (AMDK) di jalur Cirebon-Kuningan, tepatnya di Desa Ciperna, Kecamatan Talun, Kabupaten Cirebon, masih menjadi teka-teki. Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Cirebon bersama Unit Penegakan Hukum (Gakkum) Satlantas Polresta Cirebon terus melakukan pendalaman terhadap kondisi teknis kendaraan yang diduga menjadi salah satu faktor penyebab insiden tragis tersebut.
Hasil pemeriksaan teknis awal menunjukkan belum ada bukti yang mengarah pada dugaan rem blong sebagai penyebab utama kecelakaan. Namun, petugas menemukan sejumlah komponen kendaraan yang dinilai tidak memenuhi standar kelayakan jalan, terutama kondisi ban yang sudah aus hingga lapisan kawatnya terlihat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemeriksaan dilakukan usai olah tempat kejadian perkara (TKP) dan dilanjutkan dengan uji teknis terhadap truk di lokasi penyimpanan kendaraan, yakni halaman Mapolsek Talun, Rabu (15/7/2026).
Fungsional Analis Kebijakan Pengujian Kendaraan Bermotor Dishub Kabupaten Cirebon Diyanto menjelaskan bahwa pemeriksaan awal difokuskan pada tiga komponen utama kendaraan, yakni sistem pengereman, sistem kemudi, dan dimensi kendaraan.
"Dari pemeriksaan awal kami mengecek saluran rem beserta fungsinya, sistem kemudi, dan dimensi kendaraan. Untuk sistem pengereman masih menggunakan sistem angin dengan fungsi ganda, yakni untuk rem sekaligus klakson," ujarnya.
Menurutnya, temuan paling mencolok justru berada pada kondisi ban kendaraan. Dari hasil inspeksi, beberapa ban sudah mengalami keausan cukup parah sehingga kawat ban terlihat keluar. Kondisi tersebut dinilai membahayakan dan tidak memenuhi standar keselamatan kendaraan angkutan barang.
"Untuk ban, ada sebagian yang sudah tidak layak karena kawat ban sudah terlihat. Sementara sistem kemudi masih berfungsi dengan baik. Itu merupakan hasil sementara pemeriksaan awal," katanya.
Meski begitu, Diyanto menegaskan bahwa pihaknya belum dapat memastikan apakah dugaan rem blong benar-benar menjadi penyebab kecelakaan. Dari hasil pemeriksaan sementara, belum ditemukan kerusakan yang secara langsung mengindikasikan kegagalan pada sistem pengereman.
"Untuk kemungkinan rem blong belum bisa kami simpulkan. Yang kami temukan sementara adalah tabung angin digunakan secara ganda untuk sistem rem dan klakson sehingga suplai angin terbagi. Idealnya tekanan angin diprioritaskan untuk sistem pengereman, namun pada kendaraan ini juga dimanfaatkan untuk klakson," jelasnya.
Ia menambahkan, penggunaan satu tabung angin untuk dua fungsi tersebut belum tentu menjadi penyebab utama kecelakaan. Tim masih membutuhkan pemeriksaan lanjutan untuk memastikan kondisi sebenarnya, termasuk menguji performa kendaraan saat mesin dinyalakan.
"Kami belum menyimpulkan penyebab kecelakaan dari sisi teknis kendaraan karena pemeriksaan masih tahap awal. Kendaraan juga masih dalam kondisi terkunci sehingga mesin belum bisa dihidupkan untuk pemeriksaan lebih lanjut," ungkapnya.
Setelah pemeriksaan teknis rampung, proses penyelidikan akan dilanjutkan oleh penyidik Unit Gakkum Satlantas Polresta Cirebon dengan memeriksa pengemudi truk. Pemeriksaan tersebut diharapkan dapat mengungkap secara utuh kronologi kecelakaan, termasuk kemungkinan adanya faktor kelalaian pengemudi, kondisi kendaraan, maupun faktor lain yang berkontribusi terhadap insiden tersebut.
"Untuk kemungkinan human error ataupun faktor lainnya kami belum sampai ke sana. Saat ini fokus kami masih pada pemeriksaan kendaraan. Setelah itu, penyidik akan memeriksa pengemudi untuk melengkapi proses penyelidikan," pungkasnya.
Kecelakaan maut yang terjadi di jalur menurun kawasan Gronggong tersebut sebelumnya mengakibatkan dua orang meninggal dunia dan tiga lainnya mengalami luka-luka setelah truk kontainer menabrak sebuah warung makan di tepi Jalan Raya Cirebon-Kuningan. Hingga kini, aparat kepolisian bersama instansi terkait masih terus mengumpulkan bukti untuk memastikan penyebab pasti kecelakaan tersebut.
(sud/sud)
