Suara tangis turut menyelimuti suasana pemakaman Karsinih (60), salah satu korban kecelakaan maut di jalur Pantura, Desa Kiajaran Kulon, Kecamatan Lohbener, Kabupaten Indramayu, Senin (13/7/2026).
Tangis keluarga semakin menjadi-jadi ketika liang lahat mulai ditutup. Di sela doa yang dipanjatkan, mayoritas kerabat tak kuasa menyembunyikan kesedihan. Air mata terus mengalir saat mereka mengantar perempuan yang dikenal ramah itu menuju peristirahatan terakhirnya, di Tempat Pemakaman Umum Desa Cempeh, Kecamatan Lelea.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di sisi makam, seorang perempuan berkerudung cokelat duduk terpaku. Tatapannya kosong mengikuti proses pemakaman. Sesekali tangannya mengusap air mata yang tak berhenti membasahi wajah. Perempuan itu adalah Kuniwati (31), menantu almarhumah.
Kesedihan yang dirasakannya bercampur dengan penyesalan. Menurut Kuniwati, ayah mertuanya sempat melarang Karsinih ikut dalam rombongan tersebut. Saat itu, almarhumah bahkan sudah mengganti pakaian dan berniat menghadiri pengajian yang digelar tidak jauh dari rumah.
"Awalnya ibu sudah setuju tidak ikut mengantar pengantin. Beliau bahkan sudah ganti baju untuk pergi pengajian," tutur Kuniwati saat ditemui di usai prosesi pemakaman.
Namun, keputusan itu berubah hanya dalam hitungan waktu. Karsinih kembali pulang ke rumah, berganti pakaian untuk kedua kalinya, lalu memilih bergabung dengan rombongan yang hendak menuju Desa Parean, Kecamatan Kandanghaur.
Keluarga hingga kini tidak mengetahui alasan yang membuat perempuan berusia 60 tahun itu mengubah keputusannya.
"Sempat juga mengajak cucunya ikut, tetapi cucunya tidak mau. Akhirnya ibu saja yang berangkat bersama rombongan," katanya.
Belakangan, keluarga baru mengingat satu peristiwa lain yang terasa ganjil. Salah seorang anak Karsinih yang bekerja di Jepang disebut beberapa kali mengalami mimpi buruk dalam beberapa hari terakhir. Hampir setiap pagi, ia menelepon keluarga di kampung halaman sambil menangis tanpa mengetahui penyebab kegelisahannya.
Saat itu, keluarga tidak menganggapnya sebagai pertanda. Kemudian, kabar kecelakaan maut yang merenggut 12 nyawa, termasuk Karsinih, beredar luas melalui media sosial.
Dari negeri tempatnya bekerja, anak almarhumah terpukul ketika mengetahui ibunya menjadi salah satu korban. Semula ia mengira sang ibu hanya mengalami kecelakaan ringan, sebelum akhirnya mendapat kabar bahwa Karsinih telah meninggal dunia.
Kuniwati menuturkan, mertuanya mengembuskan napas terakhir di lokasi kejadian akibat benturan yang sangat keras. Tubuh korban bahkan sempat terpental ke badan jalan sebelum akhirnya dievakuasi warga ke tepi jalan.
"Ibu meninggal di tempat. Bagian kepala sebelah kanan remuk, kedua kakinya patah," ucapnya lirih.
Kini, rumah duka dipenuhi pelayat yang datang silih berganti. Di tengah duka yang masih menyelimuti keluarga, mereka hanya bisa mengikhlaskan kepergian Karsinih seraya memanjatkan doa, agar almarhumah mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT.
Santunan untuk Korban
Sementara, Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Jawa Barat bersama Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Indramayu memastikan seluruh korban kecelakaan maut di Jalur Pantura, Kabupaten Indramayu, akan memperoleh santunan sesuai ketentuan yang berlaku.
Kepastian tersebut disampaikan saat jajaran kepolisian mengunjungi para korban selamat yang masih menjalani perawatan di Rumah Sakit (RS) Mitra Plumbon Indramayu, Senin (13/7/2026).
Kasubbid Gakkum Ditlantas Polda Jabar AKBP Jimmy Manurung mengatakan, Polres Indramayu bersama Jasa Raharja saat ini tengah mempercepat proses administrasi, agar santunan bagi korban luka maupun ahli waris korban meninggal dunia dapat segera disalurkan.
"Polres Indramayu, khususnya Satlantas beserta jajaran, telah berkoordinasi dengan Jasa Raharja untuk mengurus seluruh hak santunan para korban," ujar Jimmy.
Korban diketahui merupakan rombongan pengantar pengantin yang menggunakan mobil pikap. Kendaraan tersebut mengalami kecelakaan beruntun dengan dua truk di Jalur Pantura, tepatnya di Desa Kiajaran Kulon, Kecamatan Lohbener, pada Minggu (12/7/2026).
Berdasarkan data terbaru, insiden tersebut mengakibatkan 12 orang meninggal dunia. Sebanyak tiga korban tewas di lokasi kejadian, sedangkan sembilan korban lainnya meninggal saat menjalani perawatan di rumah sakit.
Sementara itu, enam korban lainnya selamat dengan mengalami luka-luka dan masih menjalani perawatan intensif.
"Hari ini (13/7/2026) kami menjenguk korban yang masih dirawat untuk memastikan kondisi mereka," kata Jimmy.
Di sisi lain, Ditlantas Polda Jabar terus mengusut penyebab kecelakaan melalui olah tempat kejadian perkara (TKP) lanjutan. Kegiatan tersebut melibatkan sejumlah instansi terkait, di antaranya Dinas Perhubungan, Pengelola Transportasi Darat (PPTD), dan Jasa Raharja.
Polda Jabar juga mengerahkan tim Traffic Accident Analysis (TAA) untuk melakukan analisis secara ilmiah dan berbasis teknologi guna mengungkap penyebab pasti kecelakaan.
Hasil penyelidikan nantinya akan menjadi dasar bagi penyidik dalam menentukan pihak yang bertanggung jawab atas peristiwa tersebut.
"Melalui proses itu akan diketahui siapa yang menjadi tersangka maupun penyebab utama kecelakaan ini," tegasnya.
(sud/sud)
