Kecelakaan Maut di Pantura Indramayu: 'Saya Lihat Orang Terbang'

Kecelakaan Maut di Pantura Indramayu: 'Saya Lihat Orang Terbang'

Burhannudin - detikJabar
Senin, 13 Jul 2026 17:02 WIB
TKP kecelakaan maut di Indramayu
TKP kecelakaan maut di Indramayu. Foto: Istimewa
Indramayu -

Hari itu, Minggu (12/7/2026), Taufik Hidayat (11) merasa seperti hidup di dunia khayalan. Bagaimana mungkin, anak sekecil dirinya menyaksikan tumpahnya darah di depan mata, dan beberapa orang 'terbang' atau terpental dalam peristiwa tragis di jalur Pantura Desa Kiajaran Kulon, Kecamatan Lohbener, Kabupaten Indramayu.

Kecelakaan lalu lintas itu sampai hari ini, Senin (13/7/2026), masih terbayang jelas dalam benaknya. Saat ditemui di kediamannya, Taufik mengaku masih trauma.

Taufik ikut serta dalam rombongan mobil Grand Max yang membawa rombongan pengantin itu. Di bagian kemudi, terdapat ayah dan adiknya, Warkidi dan Atsal Albara yang menjadi korban keganasan jalur 'tengkorak' Pantura Indramayu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sembari bercerita, ia bergetar. Gigi bagian atas dan bawahnya beradu betapa ia tidak bisa menyembunyikan rasa takut itu.

ADVERTISEMENT

Ia melihat langsung bagaimana Mohamad Iqbal (12), temannya yang ikut dalam mobil Grand Max, menghembuskan napas terakhirnya.

"Saya lihat Iqbal juga terpental karena Iqbal duduknya di atas. Terus Iqbal terpentalnya di tengah jalan dan terlindas mobil, enggak tahu mobil apa. Kalau saya di tengah-tengah itu, tuh, (median jalan). Yang duduk di bagian atas mobil itu terpental semua, dan yang di bawah kayaknya enggak ada yang selamat," ungkap Taufik.

Perlu diketahui, mobil Grand Max milik Warkidi, yang menjadi sopir sekaligus korban dalam kejadian ini, sudah dimodifikasi agar bisa menampung banyak orang. Jadi, di bagian baknya dibagi menjadi dua bagian, yakni bagian atas dan bawah. Hal ini sering terlihat di Kabupaten Indramayu dan biasanya mengangkut para buruh tani.

Dalam peristiwa nahas tersebut, Taufik beruntung karena iya terpental ke atas median jalan. Di situ, ia mendarat dari 'penerbangannya' secara tersungkur, ia kaget lalu duduk dan diam terpaku.

"Saya ngelihat banyak orang terbang, waktu itu saya enggak mikirin apa-apa. Saya diam dulu, kaget, lah," ucap Taufik.

Selang cukup lama terdiam, ia masih ingat ada beberapa warga yang menghampirinya, menanyakan kabarnya, dan ia pun dievakuasi.

"Saya enggak apa-apa, hanya lecet saja. Terus dibawa sama orang katanya saya mau diobatin," tuturnya.

Setelah diobati dan pulang ke rumah, Taufik masih trauma atas peristiwa yang menimpanya.

Setelah beberapa saat, ia mengetahui kabar ayah dan adiknya, Warkidi dan Atsal Albara sudah tidak bernyawa. Ia hanya bisa menangis menerima kenyataan yang begitu pahit dan menyakitkan.

Taufik Hidayat adalah anak dari pasangan Warkidi dan Nursela. Ia memiliki seorang adik bernama Atsal Albara. Naas, keluarganya kini hanya menyisakan dirinya dan sang ibu, Nursela.

(sud/sud)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads