SMPN 3 Plered Cirebon Sepi Peminat? Ternyata Ini Fakta Sebenarnya

SMPN 3 Plered Cirebon Sepi Peminat? Ternyata Ini Fakta Sebenarnya

Devteo Mahardika - detikJabar
Jumat, 10 Jul 2026 19:30 WIB
SMPN 3 Plered
SMPN 3 Plered (Foto: Devteo Mahardika/detikJabar).
Cirebon -

Deretan bangku kosong di ruang kelas kerap memunculkan anggapan bahwa sebuah sekolah kurang diminati. Namun, cerita di SMP Negeri 3 Plered, Kabupaten Cirebon, justru menunjukkan kenyataan berbeda. Kekurangan peserta didik pada Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026/2027 bukan semata karena minimnya minat masyarakat, melainkan faktor kondisi geografis yang membatasi jumlah calon siswa.

Di tengah sorotan terhadap 35 SMP Negeri di Kabupaten Cirebon yang belum memenuhi kuota penerimaan, SMPN 3 Plered menjadi salah satu sekolah yang paling banyak diperbincangkan. Dari daya tampung sebanyak 287 siswa, pada tahap awal sekolah itu baru menerima 151 peserta didik, sehingga masih menyisakan lebih dari 130 kursi kosong.

Namun, jika ditelusuri lebih jauh, angka tersebut justru menyimpan fakta yang berbeda.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala SMPN 3 Plered, Sumarno, mengungkapkan bahwa sekolah yang dipimpinnya berada di wilayah yang relatif tidak padat penduduk. Berbeda dengan sekolah lain yang memiliki banyak desa penyangga, SMPN 3 Plered hanya mengandalkan empat desa sebagai sumber utama calon peserta didik, yakni Desa Cangkring, Desa Pangkalan, Desa Bakung Lor, dan Desa Bakung Kidul.

ADVERTISEMENT

"Kalau SMP 3 masuk ke dalam dan hanya dibackup oleh empat desa. SD penyangganya juga hanya sekitar 10 sekolah. Setelah saya pelajari, jumlah siswa dari SD penyangga itu kisarannya hanya sekitar 200 siswa," ujar Sumarno saat dihubungi, Jumat (10/7/2026).

Dari sekitar 200 lulusan SD tersebut, sebanyak 153 siswa akhirnya memilih melanjutkan pendidikan di SMPN 3 Plered setelah adanya penambahan melalui jalur optimalisasi. Artinya, hampir 80 persen lulusan di wilayah penyangga telah mempercayakan pendidikan anak-anak mereka ke sekolah tersebut.

Sementara itu, sisanya memilih melanjutkan pendidikan ke sekolah lain maupun Madrasah Tsanawiyah (MTs).

"Jadi kalau masuk ke SMP 3 itu sampai 153 siswa, itu sudah hampir 80 persen. Sisanya ada yang masuk ke SMP lain maupun MTs. Jadi memang faktor utamanya karena SD penyangganya sedikit," katanya.

Bagi Sumarno, kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan yang dihadapi sekolah bukan terletak pada kualitas pendidikan ataupun kepercayaan masyarakat, melainkan terbatasnya jumlah lulusan SD di kawasan sekitar.

Ia menyebutkan, kepadatan penduduk di wilayah Plered tersebut memang lebih rendah dibandingkan kawasan lain di Kabupaten Cirebon yang memiliki lebih banyak sekolah dasar.

"Ya, karena lokasi. Lokasinya hanya dibackup oleh pembantu desa. Memang penduduk di wilayah sini lebih sedikit dibanding daerah lain," jelasnya.

Menariknya, di balik keterbatasan jumlah siswa, SMPN 3 Plered justru memiliki kapasitas yang sangat siap untuk menerima lebih banyak peserta didik.

Ruang kelas masih tersedia dan tenaga pendidik dinilai mencukupi. Bahkan, sejak awal sekolah mengusulkan sembilan rombongan belajar (rombel) karena fasilitas yang dimiliki sangat memungkinkan.

"Sarana prasarana masih ada, makanya dulu mengajukan sembilan rombongan belajar karena memang ruang kelas masih tersedia. Untuk guru juga sangat terpenuhi, tidak ada kekurangan tenaga pengajar," tuturnya.

Sekolah juga terus berupaya membangun daya tarik melalui berbagai program unggulan. Prestasi olahraga seperti futsal dan atletik menjadi andalan, sementara bidang seni budaya mulai dikembangkan secara lebih serius.

Latar belakang Sumarno yang berasal dari bidang kebudayaan menjadi modal tersendiri untuk memperkuat pendidikan karakter melalui pelestarian budaya daerah di lingkungan sekolah.

"Unggulannya futsal, atletik, kemudian kesenian seperti tari-tarian. Kebetulan saya juga dari bidang kebudayaan, jadi ingin mengembangkan kebudayaan daerah di sekolah ini," ujarnya.

Upaya mengenalkan sekolah kepada masyarakat sebenarnya sudah dilakukan jauh sebelum pelaksanaan SPMB. Seluruh SD penyangga telah diundang dalam kegiatan sosialisasi agar para siswa dan orang tua mengetahui berbagai fasilitas maupun program unggulan yang dimiliki SMPN 3 Plered.

Namun lagi-lagi, keterbatasan jumlah lulusan SD menjadi tantangan yang tidak mudah diatasi.

"Dari awal sosialisasi SPMB kami sudah mengundang semua SD penyangga. Kelebihan sekolah juga sudah kami sampaikan. Memang kendalanya karena jumlah siswanya yang terbatas," katanya.

Harapan baru muncul ketika Dinas Pendidikan Kabupaten Cirebon membuka program optimalisasi penerimaan secara offline bagi sekolah yang belum memenuhi kuota. Melalui kebijakan tersebut, jumlah siswa SMPN 3 Plered bertambah dari 151 menjadi 153 orang.

"Sudah ada tambahan dua siswa karena dibuka jalur offline. Mudah-mudahan nanti masih bertambah lagi," ungkapnya.

Di tengah berbagai angka statistik penerimaan siswa baru, Sumarno memilih menyampaikan pesan sederhana kepada masyarakat. Ia mengajak para orang tua agar tidak hanya melihat jumlah peserta didik, tetapi juga kualitas layanan pendidikan yang disiapkan sekolah.

"Semua guru di SMPN 3 Plered berkualitas, sarana juga mendukung. Silakan Bapak dan Ibu menitipkan putra-putrinya kepada kami. Insyaallah saya akan bertanggung jawab mendidik mereka dengan sungguh-sungguh, karena pendidikan harus menjadi yang utama," tuturnya.

Menariknya, jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, penerimaan siswa di SMPN 3 Plered sebenarnya mengalami peningkatan. Sebelum program optimalisasi, sekolah telah menerima 151 siswa, jumlah yang lebih banyak dibanding lulusan sekolah tersebut tahun ini (113 orang) maupun total penerimaan tahun lalu yang mencapai 141 siswa.

Artinya, capaian tersebut masih berada dalam koridor yang diharapkan pihak sekolah.

Besarnya daya tampung hingga 287 siswa sejak awal memang disiapkan sebagai bentuk komitmen membuka akses pendidikan seluas-luasnya, termasuk bagi calon peserta didik dari luar desa penyangga yang berminat bersekolah di SMPN 3 Plered.

Karena itu, bangku-bangku yang masih kosong sejatinya bukan cerminan rendahnya minat masyarakat, melainkan konsekuensi dari kesiapan sekolah menyediakan kapasitas yang lebih besar dibanding potensi lulusan SD di wilayah sekitarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Cirebon, Ronianto, sebelumnya menjelaskan bahwa hingga pelaksanaan SPMB 2026 masih terdapat 35 dari 80 SMP Negeri yang belum memenuhi kuota penerimaan. Pemerintah pun membuka program optimalisasi hingga 11 Juli 2026 agar sekolah yang masih kekurangan siswa dapat menerima calon murid yang belum tertampung.

Menurutnya, tujuan utama pemerintah bukan sekadar memenuhi kuota sekolah negeri, melainkan memastikan seluruh lulusan SD di Kabupaten Cirebon tetap memperoleh akses pendidikan, baik di sekolah negeri, sekolah swasta, maupun melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Ngabuburit Paling Pecah! Intip Keseruan Sejuntai Rasa Sedaap bareng Mie Sedaap di Cirebon"
[Gambas:Video 20detik] (mso/mso)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads