Siang ini suasana di sepanjang jalan lintas pantai Pangandaran ke Sukaresik terasa berbeda. Samping kanan jalan dipenuhi aktivitas pertanian.
Rupanya aktivitas itu dilakukan warga di pesisir pantai Desa Sukaresik, Kecamatan Sidamulih, Kabupaten Pangandaran. Mereka menanam semangka di lahan yang sebelumnya kurang produktif.
Pesisir di Sukaresik itu sebelumnya hanya gundukan ilalang dan pepohonan kelapa. Sekelompok pemuda kini menyulapnya menjadi lahan semangka.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sosok di balik inisiatif mengubah lahan pesisir menjadi perkebunan semangka itu adalah Agus Muhyanto. Bermodal belajar secara otodidak, ia telah menjalankan perkebunan itu kurang dari satu tahun.
Namun, perjuangannya kini membuahkan hasil manis. Ia berhasil meraup cuan melimpah sekaligus melibatkan pemuda setempat agar lebih produktif bertani.
"Alhamdulillah saya berjalan sejak tahun kemarin, belum genap setahun tapi sekali panen itu dapat banyak sentuh 1 miliar," ucap Agus, Senin (18/5/2026).
Menurutnya, pendapatan itu dihasilkan dari perkebunan pesisir seluas 10 hektare dengan potensi 150-200 ton sekali panen.
"Kami memanfaatkan lahan pesisir seluas sekitar 10 hektare, ada ribuan pohon semangka yang tumbuh subur di atas pasir pantai. Itu sungguh menakjubkan," katanya.
Panen semangka tanpa biji yang ditanam di lahan tidak produktif di pesisir Pangandaran Foto: Aldi Nur Fadilah/detikJabar |
Pemandangan perkebunan semangka itu kini menarik perhatian warga maupun pengendara yang melintas di kawasan Pamugaran. Menurut Agus, dalam sekali musim panen dirinya mampu menghasilkan sekitar 150 hingga 200 ton buah semangka.
Dengan harga jual yang saat ini berada di kisaran Rp 11 ribu per kilogram, omzet yang diperoleh bisa mencapai lebih dari Rp 1 miliar.
"Kalau dihitung minimal satu kali panen itu bisa Rp 1 miliar. Tapi harga memang fluktuatif, sekarang kita jual sekitar Rp 11 ribu per kilogram," ucapnya.
Budidaya semangka yang dijalankan Agus tergolong cepat. Sejak bibit dipindahkan dari polybag ke lahan tanam, buah semangka sudah bisa dipanen dalam waktu sekitar 60 hari.
Meski berada di kawasan pesisir dengan kondisi tanah berpasir, Agus membuktikan bahwa lahan itu tetap produktif jika dikelola dengan teknik pertanian yang tepat. Bahkan, kualitas semangka yang dihasilkan disebut memiliki rasa manis dan tekstur segar.
Jenis semangka yang dibudidayakan Agus merupakan semangka tanpa biji yang banyak diminati pasar. Ukuran buahnya cukup besar dengan warna daging merah cerah.
Tak hanya fokus pada keuntungan pribadi, Agus pun memberdayakan warga sekitar untuk ikut bekerja di kebun semangka miliknya. Sejumlah warga dilibatkan mulai dari proses penanaman, perawatan, hingga panen.
"Pekerja kita melibatkan warga setempat sekaligus sambil belajar agar nanti bisa dikembangkan juga di tempat lain di Pangandaran," ucap Agus.
Menariknya, hasil panen semangka dari kebun tersebut saat ini sebagian besar dipasok untuk memenuhi kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Pangandaran.
Menurut Agus, kebutuhan buah semangka untuk dapur-dapur MBG cukup tinggi. Untuk itu, ia memilih mendistribusikan hasil panen langsung dari kebun ke dapur penyedia makanan.
"Hasil panen kita drop di sekitar Pangandaran saja karena kebetulan ada program MBG. Jadi kita distribusikan langsung ke dapur-dapur MBG," ujarnya.
Memang, lanjut ia, hingga saat ini jumlah petani semangka di Pangandaran masih sangat terbatas. Bahkan, ia menjadi pemasok semangka lokal pertama yang secara rutin menyuplai kebutuhan untuk program MBG.
"Petani semangka di Pangandaran memang masih kurang. Kebanyakan masih mengambil pasokan dari luar daerah seperti Jambi," kata Agus.
Agus berharap, semakin banyak masyarakat yang tertarik mengembangkan budidaya semangka di Pangandaran.
"Karena, selain memiliki potensi pasar yang besar, kondisi wilayah pesisir cukup cocok untuk pertanian semangka jika dikelola dengan benar," ucapnya.
(yum/yum)

